Starlink Terganggu di Ukraina, Uni Eropa Akui Tak Punya Pengganti

- Gangguan Starshield menghambat koordinasi pertahanan Ukraina, termasuk pengendalian drone pencegat dan panduan rudal, setelah sinyal otomatis terputus pada batas kecepatan tertentu.
- Uni Eropa mengakui belum memiliki jaringan satelit orbit rendah yang siap menggantikan Starlink, sehingga Ukraina masih sangat bergantung pada dukungan komunikasi SpaceX.
- Alternatif Eropa belum siap: kapasitas OneWeb di Ukraina habis, GOVSATCOM baru diproyeksikan beroperasi awal 2027, sedangkan IRIS² dijadwalkan beroperasi penuh pada 2030.
Jakarta, IDN Times - Para pemimpin Uni Eropa berkumpul di Brussel pada Jumat (16/10/2026) guna membahas tingginya ketergantungan militer Ukraina terhadap jaringan satelit Starlink milik Amerika Serikat. Pertemuan penting tersebut digelar setelah gangguan koneksi satelit dilaporkan menghambat koordinasi pasukan Kiev di medan tempur.
Di tengah kehadiran Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, yang berupaya mencari kepastian dukungan sekutu, para petinggi Benua Biru menghadapi dilema pertahanan yang cukup berat. Pihak Uni Eropa secara terbuka mengakui bahwa mereka saat ini belum memiliki teknologi tandingan mandiri yang siap digunakan untuk menggantikan peran satelit tersebut.
1. Dampak pembatasan sinyal Starshield terhadap operasi pertahanan Ukraina
Operasi pertahanan udara Ukraina dilaporkan menghadapi kendala teknis setelah sambungan satelit militer Starshield buatan SpaceX mengalami penurunan performa secara mendadak. Jalur komunikasi satelit ini selama ini menjadi tumpuan penting bagi pasukan militer Ukraina untuk mengendalikan pesawat tanpa awak (drone) pencegat serta memandu serangan rudal jarak menengah. Kendala tersebut berupa pemutusan sinyal secara otomatis setiap kali drone melaju melampaui batas kecepatan antara 72 hingga 161 kilometer per jam.
"Kecepatannya memang belum pulih seutuhnya, tetapi saat ini situasinya sedang dalam proses perbaikan," ujar Presiden Zelensky.
Berdasarkan keterangan sejumlah pejabat keamanan, instruksi mengenai pembatasan akses tersebut diteruskan dari pihak Gedung Putih kepada Departemen Pertahanan AS (Pentagon). Pemilik SpaceX, Elon Musk, menegaskan bahwa pengoperasian sistem Starshield berada di bawah kendali pemerintah Amerika Serikat sehingga aturan pembatasan merupakan wewenang otoritas militer. Kendati demikian, pihak Gedung Putih membantah adanya arahan langsung dari Presiden Donald Trump terkait kebijakan pembatasan sinyal tersebut.
2. Pengakuan Uni Eropa mengenai ketiadaan alternatif pengganti Starlink
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengakui bahwa negara-negara Eropa saat ini belum memiliki jaringan satelit di orbit bumi rendah yang mampu menggantikan peran SpaceX. Ketiadaan infrastruktur komunikasi mandiri ini dinilai memperlemah koordinasi pertahanan pasukan Ukraina di garis pertempuran. Menanggapi kondisi tersebut, Badan Pertahanan Eropa mulai memetakan celah kekurangan sistem satelit mereka guna melindungi kedaulatan strategis kawasan.
"Ukraina sangat membutuhkan dukungan Starlink, dan sayangnya pihak Eropa belum bisa menggantikannya dalam jangka pendek," ujar Kallas, dilansir Kyiv Post.
Perdana Menteri Latvia, Andris Kulbergs, turut menegaskan bahwa keandalan satelit komunikasi merupakan elemen kunci bagi pertahanan Ukraina. Untuk merespons krisis tersebut, Perdana Menteri Belanda Rob Jetten mulai berkoordinasi dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron guna mempercepat rancangan satelit mandiri milik Eropa.
Pada saat bersamaan, Menteri Pertahanan Inggris, Wes Streeting, telah meminta klarifikasi langsung kepada Menteri Pertahanan AS agar kendala sambungan satelit militer tersebut dapat segera dinormalkan kembali.
3. Kendala proyek satelit mandiri Eropa
Krisis komunikasi yang dialami Ukraina kian mendorong Uni Eropa untuk mengevaluasi percepatan proyek satelit mandiri mereka di masa mendatang. Kendati demikian, berbagai opsi satelit komersial yang tersedia saat ini dinilai belum mampu mencukupi kebutuhan operasional militer berskala besar. Kapasitas jaringan satelit OneWeb milik perusahaan Eutelsat di wilayah Ukraina tercatat telah habis terpakai, sementara sistem satelit gabungan GOVSATCOM paling cepat baru dapat dioperasikan pada awal 2027.
Di sisi lain, proyek jaringan satelit terenkripsi bernama IRIS² yang dirancang memuat lebih dari 300 unit baru dijadwalkan meluncur pada 2029 serta beroperasi penuh pada 2030. Analis perbankan dari ING, Jan Frederik Slijkerman, menilai proyek jangka panjang tersebut belum bisa menyamai keandalan Starlink dalam waktu dekat, meskipun pihak operator satelit SES telah memberikan bantuan teknis darurat. Ketergantungan terhadap teknologi luar ini kian menegaskan pentingnya kemandirian industri antariksa bagi pertahanan negara-negara Eropa.





















