Jakarta, IDN Times — Tekanan operasional dan finansial yang dihadapi berbagai organisasi di kawasan ASEAN kini semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan laporan riset terbaru bertajuk IBM 2026 Cost of a Data Breach, rata-rata kerugian akibat kebocoran data di ASEAN telah menembus angka rekor tertinggi sebesar 4,12 juta dolar AS (sekitar Rp65 miliar) pada tahun 2026, mengalami lonjakan 12 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Meningkatnya angka kerugian ini dipicu oleh makin mahirnya para pelaku kejahatan siber dalam memanfaatkan taktik berbasis kecerdasan buatan (AI) serta mengeksploitasi kompleksitas sistem digital. Secara global, serangan berbasis AI melonjak hingga 56% dan menyumbang tambahan kerugian sekitar US$1 juta per insiden. Bahkan, hampir tiga dari sepuluh (30%) organisasi di ASEAN yang mengalami insiden pelanggaran data melaporkan bahwa serangan tersebut secara langsung memanfaatkan AI.
General Manager IBM ASEAN, Catherine Lian, menyoroti ancaman serius dari meningkatnya efisiensi serangan kejahatan siber.
"Dengan semakin luasnya pemanfaatan AI, serangan siber kini dapat dilakukan dengan lebih murah dan cepat. Kondisi ini membuat organisasi di seluruh ASEAN semakin sulit menginvestigasi kebocoran data, sementara semakin lama proses investigasi berlangsung, semakin besar pula dampak dan biaya yang harus ditanggung, di tengah meningkatnya risiko dan tekanan terhadap sektor infrastruktur vital," ujar Catherine Lian.
Ia menambahkan bahwa adopsi pertahanan berbasis otomatisasi menjadi faktor pembeda yang krusial bagi perusahaan.
"Temuan kami menegaskan pentingnya AI dan otomatisasi dalam keamanan siber untuk merespons ancaman yang juga semakin didukung AI. Organisasi yang telah mengintegrasikan strategi AI ke dalam operasi keamanan dapat mendeteksi dan menangani kebocoran dengan lebih cepat, sekaligus mengurangi dampak dan biaya yang ditimbulkan," tegasnya.
Berikut adalah lima temuan utama dari laporan riset IBM 2026 yang diuraikan secara mendalam:
