Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tak Ada Anak Tertinggal, RI-Australia Perkuat Pendidikan Inklusif NTB
Murid di SDN 1 Teros, NTB, sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
  • SDN 1 Teros di Lombok Timur menerapkan Profil Belajar Siswa (PBS) untuk memetakan hambatan belajar, menemukan 59 siswa dengan tujuh jenis hambatan fungsional dan sembilan di antaranya penyandang disabilitas.
  • Kolaborasi lintas sektor melibatkan guru, psikolog, universitas, puskesmas, hingga pemerintah desa guna memberikan asesmen, alat bantu penglihatan, serta pendampingan keluarga melalui program parenting.
  • Dukungan Program INOVASI memperkuat kapasitas guru dalam pembelajaran berdiferensiasi dan meningkatkan capaian literasi-numerasi sekolah, menjadikan pendidikan inklusif sebagai layanan nyata bagi semua siswa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
awal 2025

SDN 1 Teros mulai menggunakan aplikasi Profil Belajar Siswa (PBS) untuk memetakan kondisi belajar seluruh siswa dan menemukan 59 peserta didik dengan tujuh jenis hambatan fungsional.

10 Juni 2026

Pengawas sekolah Baiq Suriatun menjelaskan proses identifikasi bertahap yang melibatkan guru, dosen Universitas Hamzanwadi, tenaga kesehatan, dan psikolog hingga sembilan siswa teridentifikasi sebagai penyandang difabel.

2026

Dalam Tes Kemampuan Akademik yang diikuti 699 SD di Lombok Timur, salah satu siswa SDN 1 Teros meraih predikat istimewa dengan nilai tinggi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.

kini

SDN 1 Teros menjadi contoh penerapan pendidikan inklusif berbasis data dengan dukungan INOVASI dan kolaborasi lintas sektor. Sekolah terus memperkuat layanan bagi semua siswa tanpa ada yang tertinggal.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    SDN 1 Teros di Lombok Timur menerapkan Profil Belajar Siswa (PBS) untuk memperkuat pendidikan inklusif, dengan dukungan Program INOVASI dan kolaborasi lintas sektor agar tidak ada anak tertinggal dalam proses belajar.
  • Who?
    Guru dan pengawas SDN 1 Teros, Baiq Suriatun, bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Agama, Universitas Hamzanwadi, Puskesmas Labuhan Haji, Lombok Research Center, serta Program INOVASI.
  • Where?
    Kegiatan berlangsung di SDN 1 Teros, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Indonesia.
  • When?
    Penerapan PBS dimulai awal tahun 2025 dan terus berlanjut hingga laporan terakhir pada Rabu, 10 Juni 2026.
  • Why?
    Penerapan dilakukan untuk mengidentifikasi hambatan belajar siswa secara akurat dan memastikan setiap anak mendapatkan layanan pendidikan sesuai kebutuhannya tanpa ada yang tertinggal.
  • How?
    Sekolah memetakan kondisi belajar melalui PBS, melibatkan guru, akademisi, tenaga kesehatan hingga psikolog; hasilnya digunakan untuk asesmen lanjutan serta kolaborasi lintas sektor dalam memberikan pendampingan dan fasilitas inklusif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di sekolah SDN 1 Teros di Lombok, guru-guru pakai alat baru supaya tahu anak mana yang susah belajar. Ada anak yang matanya kurang jelas, ada juga yang susah baca. Guru dibantu dokter, dosen, dan orang tua supaya semua anak bisa belajar. Sekarang banyak anak senang sekolah dan guru makin pintar mengajar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Transformasi di SDN 1 Teros menunjukkan bagaimana kolaborasi lintas sektor dan pemanfaatan data dapat menghadirkan pendidikan yang benar-benar inklusif. Dengan dukungan berbagai pihak, guru kini lebih mampu memahami kebutuhan setiap siswa, sementara anak-anak dengan hambatan belajar memperoleh perhatian yang sesuai. Hasilnya, suasana belajar menjadi lebih adil, hangat, dan berdaya bagi semua pihak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Di sebuah sudut Kabupaten Lombok Timur, SDN 1 Teros tengah menjalani perubahan besar dalam cara memandang pendidikan. Sekolah yang berada di wilayah timur Pulau Lombok itu kini menjadi salah satu contoh bagaimana data digunakan untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam proses belajar.

Perubahan tersebut bermula ketika sekolah mulai menggunakan Profil Belajar Siswa (PBS), sebuah instrumen yang dikembangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Kementerian Agama dengan dukungan Program INOVASI. Melalui alat ini, sekolah dapat mengidentifikasi hambatan fungsional belajar yang dialami peserta didik secara lebih rinci.

Pengawas Pembina SDN 1 Teros, Baiq Suriatun, mengakui sebelum mengenal PBS, pihak sekolah kesulitan memahami kebutuhan siswa yang mengalami hambatan belajar.

“Sebelum kami mengenal PBS, kami tidak tahu anak ini ada hambatannya apa, kemudian bagaimana cara menangani itu kami belum tahu sama sekali,” ujar dia, Rabu (10/6/2026).

Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri karena setiap tahun SDN 1 Teros menerima siswa dengan beragam kebutuhan belajar. Di sisi lain, sebagian siswa juga tidak tinggal bersama orangtua karena diasuh keluarga ketika orangtua bekerja di luar daerah maupun luar negeri.

Menurut dia, situasi tersebut membuat sekolah membutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar layanan pendidikan inklusif dapat berjalan secara berkelanjutan.

1. Dari identifikasi siswa hingga pemeriksaan psikolog

Pengawas Pembina SDN 1 Teros, NTB, Baiq Suriatun, menjelaskan bagaimana sekolah mengidentifikasi dan membantu siswa yang memiliki kebutuhan khusus dalam proses belajar mengajar. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Upaya perubahan dimulai pada awal 2025 ketika SDN 1 Teros menggunakan aplikasi PBS untuk memetakan kondisi belajar seluruh siswa. Hasilnya, sekolah menemukan 59 peserta didik yang teridentifikasi memiliki tujuh jenis hambatan fungsional belajar.

Temuan itu kemudian tidak berhenti sebagai data statistik semata. Sekolah melanjutkan proses identifikasi melalui sistem penyaringan bertahap yang melibatkan guru, akademisi, tenaga kesehatan, hingga psikolog.

Pada tahap pertama, guru kelas dan guru mata pelajaran melakukan identifikasi menggunakan PBS. Data dari kedua sumber tersebut kemudian digabungkan untuk menghasilkan pemetaan yang lebih akurat.

“Dilakukan oleh guru kelas dan guru mata pelajaran. Kenapa kedua guru itu harus melakukan hal yang sama? Karena saya ingin mendapatkan data yang riil,” kata pengawas sekolah tersebut.

Dari 59 siswa yang teridentifikasi pada tahap awal, proses berlanjut ke tahap kedua yang melibatkan dosen Program Studi Pendidikan Khusus Universitas Hamzanwadi. Hasilnya, sebanyak 27 siswa dinilai perlu menjalani pemeriksaan lanjutan.

Selanjutnya, pada tahap ketiga dilakukan asesmen dan observasi oleh psikolog. Dari rangkaian proses tersebut, sembilan siswa akhirnya teridentifikasi sebagai peserta didik penyandang difabel dengan berbagai hambatan fungsional.

Temuan lain yang menarik adalah satu anak dapat memiliki lebih dari satu hambatan belajar. Pengawas sekolah mencontohkan seorang siswa yang awalnya hanya teridentifikasi mengalami gangguan penglihatan, tetapi setelah asesmen mendalam diketahui juga mengalami hambatan kognitif berupa disleksia atau keterlambatan membaca.

“Jadi mungkin melalui hasil ini kita bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa satu orang peserta didik bisa mengalami lebih dari satu hambatan fungsional,” ujar dia.

2. Kolaborasi guru, psikolog hingga puskesmas

Guru SDN1 Teros, NTB menjelaskan proses belajar mengajar yang mereka lakukan dengan adanya murid berkebutuhan khusus. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Data PBS kemudian menjadi pintu masuk bagi lahirnya kolaborasi lintas sektor yang selama ini belum pernah dilakukan sekolah. Ketika ditemukan 11 siswa mengalami hambatan penglihatan, sekolah langsung berkoordinasi dengan Puskesmas Labuhan Haji untuk melakukan pemeriksaan kesehatan lanjutan.

Hasil pemeriksaan menunjukkan temuan yang sejalan dengan data PBS. Dari jumlah tersebut, enam siswa dinyatakan membutuhkan alat bantu penglihatan. Lima siswa akhirnya menerima bantuan kacamata gratis, sementara satu siswa memilih membeli sendiri karena berasal dari keluarga yang mampu.

Selain sektor kesehatan, Universitas Hamzanwadi turut terlibat melalui tim dosen pendidikan khusus yang tidak hanya melakukan identifikasi, tetapi juga memberikan rekomendasi penanganan.

“Tim dosen tersebut bukan hanya memunculkan identifikasi, tetapi juga memberikan kami treatment, solusi bagaimana cara menangani anak ini,” kata dia.

Rekomendasi tersebut kemudian disampaikan kepada orangtua agar pendampingan tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga berlanjut di rumah.

Sementara itu, Lombok Research Center (LRC) memberikan pendampingan kepada keluarga melalui program parenting untuk memperkuat pola asuh terhadap anak-anak yang memiliki hambatan belajar. Pemerintah desa juga ikut terlibat dengan menyiapkan anggaran guna mendukung pembangunan fasilitas yang lebih ramah bagi penyandang difabel.

Menurut pengawas sekolah, kolaborasi tersebut membuat guru tidak lagi merasa bekerja sendirian dalam menghadapi tantangan pendidikan inklusif.

“Ini masalah kita bersama, yuk kita selesaikan bersama-sama,” ujar dia.

3. Dukungan INOVASI dan perubahan cara mengajar

Suasana kegiatan belajar mengajar di SDN 1 Teros NTB. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Perjalanan SDN 1 Teros menuju sekolah inklusif tidak lepas dari dukungan Program INOVASI yang selama ini mendampingi sekolah. Dia mengaku sempat kebingungan ketika hasil PBS menunjukkan banyak siswa mengalami hambatan belajar. Namun kondisi tersebut berubah setelah berbagai pihak mulai terlibat dalam proses pendampingan.

“Karena pada saat mengadakan PBS, dengan begitu banyaknya peserta didik kami yang teridentifikasi mengalami hambatan, kami bingung mau ngapain. Di situ INOVASI hadir, mempersamai kami, menguatkan kami,” kata dia.

Melalui program tersebut, guru mendapatkan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kapasitas dalam memberikan layanan pendidikan inklusif. Guru juga mulai menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, yakni menyesuaikan materi, proses pembelajaran, hingga metode penilaian berdasarkan kebutuhan masing-masing siswa.

“Guru-guru kami membedakan pembelajaran pada konten, kemudian proses, dan juga asesmennya,” ujar dia.

Menurut dia, perubahan paling terasa adalah meningkatnya kemampuan guru dalam mengenali kebutuhan belajar siswa. Jika sebelumnya guru hanya mengandalkan asesmen membaca, kini mereka memiliki instrumen yang lebih lengkap untuk memahami kondisi setiap anak. Dampaknya terlihat pada capaian pendidikan sekolah. Dia mengatakan, indikator literasi dan numerasi SDN 1 Teros terus berada pada kategori baik dari tahun ke tahun.

Dalam Tes Kemampuan Akademik 2026 yang diikuti 699 sekolah dasar negeri dan swasta di Lombok Timur, salah satu siswa SDN 1 Teros berhasil meraih predikat istimewa dengan nilai 96,67 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Bagi pihak sekolah, capaian tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan inklusif tidak hanya membantu siswa yang mengalami hambatan belajar, tetapi juga meningkatkan kualitas layanan pendidikan secara keseluruhan.

“Menurut kami pendidikan inklusi bukanlah sebuah tempat, tetapi sebuah layanan,” kata dia.

Pantauan langsung IDN Times di lokasi, para siswa yang memiliki kebutuhan khusus nampak antusias dalam belajar, meskipun ada yang malu-malu. Namun, masalah bullying masih harus menjadi perhatian, sebab hal tersebut sangat rentan terjadi jika pihak sekolah tidak memberikan pengertian lebih lanjut kepada siswa normal atas ‘perlakuan khusus’ yang diterima temannya yang membutuhkan. Meski demikian, program ini menjadi langkah maju untuk memastikan inklusivitas tak hanya sekadar kata yang diucapkan, tetapi juga diimplementasikan.

Dari sekolah sederhana di ujung timur Lombok itu, gagasan setiap anak berhak belajar sesuai kebutuhannya kini mulai diwujudkan. Bukan hanya melalui kebijakan, tetapi lewat data, kolaborasi, dan perubahan cara pandang terhadap keberagaman di ruang kelas.

Editorial Team

Related Article