Jakarta, IDN Times - Di sebuah sudut Kabupaten Lombok Timur, SDN 1 Teros tengah menjalani perubahan besar dalam cara memandang pendidikan. Sekolah yang berada di wilayah timur Pulau Lombok itu kini menjadi salah satu contoh bagaimana data digunakan untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam proses belajar.
Perubahan tersebut bermula ketika sekolah mulai menggunakan Profil Belajar Siswa (PBS), sebuah instrumen yang dikembangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Kementerian Agama dengan dukungan Program INOVASI. Melalui alat ini, sekolah dapat mengidentifikasi hambatan fungsional belajar yang dialami peserta didik secara lebih rinci.
Pengawas Pembina SDN 1 Teros, Baiq Suriatun, mengakui sebelum mengenal PBS, pihak sekolah kesulitan memahami kebutuhan siswa yang mengalami hambatan belajar.
“Sebelum kami mengenal PBS, kami tidak tahu anak ini ada hambatannya apa, kemudian bagaimana cara menangani itu kami belum tahu sama sekali,” ujar dia, Rabu (10/6/2026).
Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri karena setiap tahun SDN 1 Teros menerima siswa dengan beragam kebutuhan belajar. Di sisi lain, sebagian siswa juga tidak tinggal bersama orangtua karena diasuh keluarga ketika orangtua bekerja di luar daerah maupun luar negeri.
Menurut dia, situasi tersebut membuat sekolah membutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar layanan pendidikan inklusif dapat berjalan secara berkelanjutan.
