Lombok, IDN Times – Tembok itu berwarna hijau dan berdiri kokoh di lingkungan SDN 2 Pohgading, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Dari kejauhan, bangunan tersebut tampak seperti ruang belajar permanen pada umumnya.
Dinding ruang kelas itu tersusun dari blok berbahan 100 persen sampah plastik daur ulang yang dirancang tahan gempa. Material tersebut menjadi solusi sekaligus simbol pemulihan pendidikan bagi sekolah yang terdampak gempa Lombok 2018.
Bagi siswa SDN 2 Pohgading, kehadiran ruang kelas baru ini bukan sekadar bangunan. Selama bertahun-tahun mereka harus belajar di ruang darurat, setelah empat ruang kelas sekolah rusak berat akibat gempa bermagnitudo 7,0 yang mengguncang Pulau Lombok pada 2018 lalu.
Kini, suasana belajar yang lebih nyaman mulai dirasakan para siswa. Ruang kelas yang dibangun melalui program Classroom of Hope, organisasi nirlaba asal Australia, menjadi harapan baru bagi sekolah yang berdiri sejak 1956 tersebut.
“Jadi dulu ini kan sekolah biasa seperti pada umumnya. Kenapa ini dibangun? Karena dulu dampak gempa. Jadi dampak gempa yang berkekuatan 7,0 SR dulu menghancurkan bangunan ini, sehingga proses belajar mengajar ya kita dapati kelas sementara,” kata Kepala SDN 2 Pohgading, Rusman, Rabu (10/6/2026).
