Presiden AS Donald Trump (Marc Nozell from Merrimack, New Hampshire, USA, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)
Trump sebelumnya telah mengancam bahwa eskalasi pasca pemilu sela menjadi opsi yang memungkinkan, meski janji awalnya menyebut perang akan berakhir dalam beberapa pekan. Dalam wawancara bersama majalah Time yang terbit pada Kamis (1/10/2026) dan dilakukan pada Senin (28/9/2026), Trump menyebut "mungkin" dia akan meningkatkan pengeboman di Iran setelah pemilu sela pada 3 November. Ketika didesak, Trump menyatakan bahwa dirinya tidak dapat menjelaskan lebih lanjut perihal rincian strateginya. "Saya tidak bisa memberitahukan hal itu kepada Anda karena begini, Anda tahu, Anda menanyakan di mana kita akan mengebom?" kata Trump.
Trump juga menyatakan telah menolak proposal gencatan senjata terbaru dari pihak Iran. Dia mencontohkan tawaran dari pihak Iran untuk "membuka" Selat Hormuz sebagai koridor pengiriman energi utama, tetapi menilai proposal secara keseluruhan "tidak cukup baik". Trump berujar, "Hal-hal yang tidak akan kusetujui setahun lalu tidak akan kusetujui hari ini."
Dilansir TRT World, Trump pada Kamis (1/10/2026) menyampaikan indikasi awal yang menghubungkan Iran dengan kopilot yang menikam kaptennya serta mencoba menjatuhkan penerbangan menuju Israel pada Rabu (30/9/2026).
Masih dalam wawancara dengan majalah Time, saat ditanya apakah perang yang kian tidak populer mengancam peluang Partai Republik pada November, Trump awalnya menjawab, "Itu mungkin."
Dia kemudian menambahkan bahwa isu tersebut semestinya membantu karena Iran tidak akan dibiarkan memiliki senjata nuklir, seraya menyatakan bahwa 100 persen orang di seluruh dunia menentang kemampuan serangan nuklir Iran. "Jadi, ketika Anda menyatakannya dengan cara seperti itu, hal itu akan membantu. Jika Anda tidak mengatakannya begitu, itu bisa merugikan," tambah Trump.