China Desak AS-Iran Kembali ke Dialog Nota Kesepahaman Islamabad

- China mendesak AS dan Iran mengaktifkan kembali nota kesepahaman Islamabad serta melanjutkan dialog, sebagai upaya meredam eskalasi konflik di kawasan Teluk.
- Beijing menjaga kontak dengan negara-negara mediator dan menegaskan tekanan militer bukan solusi; China mendukung penyelesaian sengketa melalui jalur politik serta diplomatik.
- Konflik pecah setelah serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, memicu respons Iran, penutupan Selat Hormuz, dan blokade pelabuhan oleh Pentagon.
Jakarta, IDN Times - Otoritas China mengingatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk kembali ke kerangka nota kesepahaman Islamabad serta membuka kembali saluran dialog sesegera mungkin. Seruan tersebut disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam konferensi pers di Beijing pada Rabu (30/9/2026).
Pernyataan ini merupakan bagian dari upaya untuk menghidupkan kembali proses peredaman eskalasi konflik di kawasan Teluk. Beijing kembali menegaskan dukungannya terhadap penyelesaian perselisihan melalui jalur politik dan diplomatik.
1. Seruan Beijing untuk dialog dan penghentian perang

ilustrasi bendera China (pexels.com/Hao Liang) Guo Jiakun menyampaikan harapan pemerintahnya terhadap kedua negara yang berselisih. Beijing meminta Teheran dan Washington memilih jalan damai serta kembali berunding. "China mendukung penyelesaian sengketa melalui cara-cara politik dan diplomatik, serta berharap agar Iran dan Amerika Serikat tetap mempertahankan sikap damai mereka, mengaktifkan kembali nota kesepahaman dari Islamabad, dan memulai kembali dialog serta negosiasi sesegera mungkin," ujar Guo.
Guo menekankan bahwa garis yang dipertahankan China sejak awal krisis adalah menghentikan perang dan mendorong perdamaian. Dia menambahkan bahwa Beijing akan menjunjung tinggi serangkaian inisiatif dan usulan yang telah diajukan Presiden Xi Jinping demi perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah. China juga menegaskan akan terus bekerja untuk memulihkan ketenteraman di kawasan Timur Tengah dan Teluk secepat mungkin.
2. Kontak diplomatik dan penolakan tekanan militer

Menteri Luar Negeri China Wang Yi (Kremlin.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons) Dilansir Demócrata, Beijing tetap menjaga kontak dengan negara-negara yang menjadi mediator antara Washington dan Teheran. Pemerintah China bertindak secara tertutup guna mendukung kelangsungan pembicaraan kedua pihak. Pihak Beijing bersikeras bahwa dialog dan negosiasi merupakan jalur yang tepat untuk mengakhiri perang.
Penegasan mengenai jalur perundingan tersebut juga disampaikan oleh Menteri Luar Negeri China, Wang Yi. Pandangan itu dia kemukakan dalam pertemuan baru-baru ini dengan Menteri Luar Negeri Qatar, Mohamed bin Abdulrahman bin Jasim al Thani. "Tekanan militer bukanlah solusi; dialog dan negosiasi adalah jalan yang tepat," kata Wang Yi.
3. Kronologi eskalasi konflik militer dan blokade

Kapal militer AS di Selat Hormuz (Official U.S. Navy Page from United States, Public Domain, via Wikimedia Commons) Perang antara kedua pihak pecah menyusul serangan mendadak yang dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Teheran menanggapi serangan tersebut dengan meluncurkan rudal serta pesawat nirawak ke seluruh kawasan. Respons Teheran tersebut juga secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur yang menjadi rute strategis pasokan energi.
Di sisi lain, Pentagon memberlakukan blokade militernya sendiri terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Upaya untuk mengakhiri perang terus berlanjut sejak penandatanganan nota kesepahaman di Islamabad pada 18 Juni 2026 yang dimediasi oleh Pakistan. Kesepakatan tersebut ditujukan untuk mencapai kesepakatan damai akhir mengenai pelayaran di perairan strategis serta program nuklir Iran.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















