Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pada 19 Maret 2016, Donald Trump mengadakan rapat umum di Fountain Park, Fountain Hills, Arizona. (Gage Skidmore, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)
  • Trump mengakui perang melawan Iran dan kenaikan harga bensin memicu ketidakpuasan pemilih, sehingga berkontribusi pada kekalahan Partai Republik dalam pemilihan sela.
  • Meski mempertahankan serangan terhadap Iran demi menghentikan ambisi nuklirnya, Trump juga menyalahkan kandidat Republik, termasuk Greg Abbott, serta absennya namanya di surat suara.
  • Partai Demokrat merebut mayoritas di DPR dan Senat, mengakhiri kendali Republik atas kedua majelis Kongres; exit poll mencatat persetujuan terhadap Trump berada di 38 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui bahwa perang melawan Iran dan kenaikan harga bensin ikut menyeret Partai Republik menuju kekalahan dalam pemilihan sela. Pernyataan tersebut disampaikan setelah hasil pemungutan suara yang berlangsung pada Selasa (3/11/2026).

Dalam wawancara melalui sambungan telepon yang disiarkan Fox News, Trump mengakui adanya dampak konflik terhadap perolehan suara partainya. Ia menilai kenaikan harga bahan bakar dalam jangka pendek telah memicu ketidakpuasan pemilih, terutama akibat tekanan ekonomi yang mereka rasakan.

1. Trump pertahankan keputusan menyerang Iran

ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran (unsplash.com/Saifee Art)

Berbicara kepada The Wall Street Journal, Trump menegaskan bahwa ia telah melakukan hal yang benar dan menyatakan akan mengulang tindakan tersebut jika diperlukan.

Di sisi lain, Vance yang dipandang sebagai salah satu kandidat potensial dalam pemilihan presiden 2028 sekaligus penerus gerakan Make America Great Again (MAGA) menyampaikan penilaian berbeda melalui platform X. Ia secara terbuka mengaitkan kekalahan partainya dengan konflik bersenjata tersebut.

“Alasan kita kalah adalah perang. Presiden sendiri yang mengatakannya tadi malam,” tulis Vance, dikutip Al Jazeera.

Pada Rabu (4/11/2026), berbicara kepada wartawan di Washington, Trump membenarkan bahwa klaim Vance sebagian besar benar karena perang mendorong harga bensin naik sedikit untuk jangka pendek. Ia menekankan AS harus tetap bertindak untuk menghentikan ambisi nuklir Iran.

“Kalian tidak bisa membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Kalian tidak punya pilihan,” ujarnya, dikutip Economic Times.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa tindakan terhadap Iran memang harus dilakukan dan akan terus dilanjutkan.

2. Trump salahkan kandidat usungan partai republik

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (The White House from Washington, DC, public domain, via Wikimedia Commons)

Trump juga menyinggung faktor lain yang menurutnya berkontribusi terhadap kemerosotan suara Partai Republik. Dilansir The New York Times, ia menilai ketidakhadirannya dalam surat suara membuat partainya kesulitan menggerakkan basis pemilih, sekaligus mengkritik sejumlah kandidat yang dianggap mengabaikan arahannya dan memiliki kelemahan pribadi yang tak disukai masyarakat.

Salah satu sasaran kritiknya adalah Gubernur Texas Greg Abbott yang mengalami kekalahan telak di wilayahnya. Melalui platform Truth Social, Trump menuduh Abbott telah berubah menjadi Republican in name only selama enam bulan terakhir, sebuah istilah untuk menyebut seseorang yang dianggap tak lagi mencerminkan prinsip Partai Republik.

3. Demokrat rebut mayoritas kursi kongres

ilustrasi pemungutan suara (pexels.com/Edmond Dantès)

Hasil pemilihan sela kali ini mencatatkan catatan bersejarah bagi Partai Republik karena untuk pertama kalinya dalam dua dekade, partai yang dipimpin seorang presiden dari kubu tersebut kehilangan kendali atas kedua majelis Kongres. Partai Demokrat berhasil mengamankan sedikitnya 228 dari 435 kursi Dewan Perwakilan Rakyat dan merebut setidaknya 54 dari 100 kursi Senat setelah membalikkan keunggulan di tujuh wilayah: Texas, Ohio, Iowa, Kansas, Maine, North Carolina, dan South Carolina.

Ahli strategi Partai Republik James Davis menilai perang telah mendorong pemilih beralih mendukung Demokrat, meskipun persoalan mendasarnya juga berkaitan dengan kegagalan partai menyampaikan strategi yang meyakinkan. Sementara itu, ilmuwan politik dari Northeastern University, Costas Panagopoulos, memandang hasil pemilu tersebut sebagai penolakan menyeluruh terhadap agenda Partai Republik. Early exit polls menempatkan tingkat persetujuan terhadap Trump pada 38 persen. Di South Carolina, wilayah yang dimenangkan Trump sebelumnya beralih sekitar 21 poin ke kiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article