Pasar Saham AS Menguat Usai Demokrat Menang Pemilu Paruh Waktu

Pasar saham AS melonjak setelah Partai Demokrat meraih kemenangan besar dalam pemilihan paruh waktu 2026.
Penerimaan Donald Trump terhadap hasil pemilu dan peluang kerja sama dengan oposisi membantu meredakan kekhawatiran investor.
Investor masih mencermati sikap Trump, risiko inflasi, serta peluang S&P 500 mencapai 8.000 pada akhir tahun.
Jakarta, IDN Times - Pasar saham Amerika Serikat (AS) melonjak pada perdagangan Rabu setelah Partai Demokrat meraih kemenangan besar dalam pemilihan paruh waktu atau midterm elections 2026. Namun, hasil pemilu bukan satu-satunya faktor yang mendorong penguatan pasar. Dilansir CNN, Dow Jones melonjak 1.569 poin atau 3 persen. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar dalam satu hari sejak April 2025 sekaligus rekor kenaikan harian pasca-pemilu sela terbesar sejak 1982, berdasarkan data CFRA Research.
Sementara itu, indeks S&P 500 menguat 1,58 persen. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar kedua dalam perdagangan pasca-pemilu sela sejak 1982, setelah kenaikan pada 2018. Nasdaq Composite juga naik 1,44 persen, mencatatkan kenaikan harian terbesar pasca-pemilu sela sejak 2018.
Ekonom Senior Generali Investments, Thomas Hempell menilai sikap Presiden AS Donald Trump yang menerima kemenangan Demokrat dan membuka peluang kerja sama dengan partai oposisi turut membantu pemulihan pasar.
"Pengakuan Presiden Trump atas kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu dan keterbukaannya untuk berkolaborasi dengan pihak oposisi telah membantu pasar untuk pulih dengan harapan bahwa perselisihan hasil dan polarisasi yang lebih buruk dapat dihindari," katanya dilansir CNBC, Kamis (5/11/2026).
1. Investor sempat khawatir Trump menggugat hasil pemilu

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (AFP/Mandel Ngan) Menjelang pemilihan paruh waktu tahun ini, sejumlah pelaku pasar di Wall Street mengkhawatirkan kemungkinan Trump menggugat hasil pemilu. Gugatan Departemen Kehakiman terkait pemilu Alaska turut memicu kekhawatiran akan tertundanya pengumuman hasil yang berpotensi memperpanjang ketidakpastian di pasar.
Survei CNBC terhadap 30 manajer dana, ahli strategi, dan ekonom menunjukkan, sebanyak 63 persen responden menilai ketidakpastian berkepanjangan akibat gugatan hukum terhadap hasil pemilu dapat menimbulkan risiko pasar dalam tingkat tertentu. Angka tersebut naik dari 61 persen pada September. Sementara itu, responden yang menilai persoalan tersebut sebagai risiko pasar signifikan mencapai 14 persen, meningkat dari 7 persen pada survei sebelumnya.
Penerimaan Trump terhadap hasil pemilu pun meredakan kekhawatiran investor. Kepala Riset Valuta Asing Deutsche Bank, George Saravelos menilai sikap tersebut dapat membatasi kemungkinan munculnya kebijakan ekstrem sekaligus menurunkan premi risiko selama keputusan presiden tetap berlaku.
2. Sikap Trump masih menjadi faktor ketidakpastian pasar

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (x.com/WhiteHouse) Meski pasar merespons positif hasil pemilu, investor masih mencermati konsistensi sikap Trump. Selama ini, pernyataan dan pengumuman presiden AS tersebut kerap memengaruhi pergerakan pasar, baik mendorong kenaikan maupun memicu penurunan.
Kepala Strategi Pasar Freedom Capital Markets, Jay Woods menilai penguatan saham dalam perdagangan semalam turut dipengaruhi nada dan respons awal Trump terhadap hasil pemilu. Namun, perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada keberlanjutan sikap tersebut.
"Saya pikir Trump akan mencoba melakukan dan mengatakan hal yang benar, tetapi pada pukul dua pagi, dia mungkin berubah pikiran. Dia adalah faktor X," kata dia.
Dia menyambut positif reli besar pasar saham pada Rabu. Meski demikian, Woods melihat masih ada sejumlah tantangan yang berpotensi mengganggu pergerakan pasar dalam beberapa pekan mendatang. Salah satunya adalah risiko tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi yang dipicu konflik di Timur Tengah. Respons Trump terhadap perkembangan tersebut dinilai turut menentukan bagaimana pasar menghadapi tantangan ke depan.
3. S&P 500 berpeluang tembus 8.000 pada akhir tahun

ilustrasi saham, pasar saham, investasi, investor (magnific.com/standret) Philip Blancato dari Osaic menilai pasar saham berpeluang mencatatkan penguatan kuat hingga akhir tahun apabila Trump mempertahankan hubungan yang kondusif dengan Partai Demokrat. Secara historis, pasar saham cenderung menguat setelah pemilihan paruh waktu. Namun, kenaikan S&P 500 yang sudah cukup solid sepanjang tahun ini memunculkan kekhawatiran bahwa ruang penguatan berikutnya bisa lebih terbatas.
Meski begitu, Blancato menilai target S&P 500 mencapai 8.000 pada akhir tahun masih terbuka. Pergerakan indeks memang dipengaruhi sikap Trump, tetapi bukan sepenuhnya bergantung pada presiden AS tersebut. Pada perdagangan Rabu, indeks pasar saham secara luas menguat lebih dari 1 persen. Sementara itu, harga penutupan mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 4 persen pada level tersebut.
Di sisi lain, Woods mengingatkan investor agar tetap bersiap menghadapi gejolak pasar apabila pernyataan dan sikap Trump kembali berubah. Menurutnya, presiden AS tersebut masih menjadi sosok yang sulit diprediksi.
"Jangan biarkan satu hari menentukan satu tahun. Ini adalah reaksi spontan terhadap hal ini. Masih banyak hal yang perlu dibahas," kata dia.












![[QUIZ] Tebak Nama Mata Uang Asia Tenggara, Yakin Bisa?](https://image.idntimes.com/post/20241117/18879-68854c3f6876b62c6c0e179f8d1fe608.jpg)








