Trump Batalkan Rencana Siaran Langsung Eksekusi Mati di AS

- Donald Trump membatalkan rencana siaran langsung eksekusi mati Nidal Malik Hasan, psikiater militer yang divonis mati atas penembakan Fort Hood 2009.
- Pembatalan dipicu kritik luas dari dalam dan luar negeri, termasuk Paus Leo XIV serta Uskup Agung Militer AS Timothy Broglio; eksekusi tetap dijalankan sesuai jadwal.
- Sejumlah pejabat AS menolak penayangan eksekusi karena dikhawatirkan menjadi materi perekrutan teroris, sementara Trump sebelumnya sempat mendukung hukuman mati untuk beberapa kejahatan berat.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, pada Kamis (15/10/2026), membatalkan rencana siaran langsung eksekusi mati psikiater militer, Nidal Malik Hasan. Ia divonis hukuman mati usai terbukti atas kasus penembakan di Fort Hood, Texas pada 2009.
Dalam sepekan terakhir, publik AS dan dunia internasional dikejutkan oleh rencana siaran langsung eksekusi mati Hasan. Sejumlah pihak sudah mengecam rencana tersebut, termasuk Paus Leo XIV dan Uskup Agung Militer AS, Timothy Broglio.
1. Trump pastikan eksekusi mati tidak disiarkan ke publik

Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump. (Gage Skidmore from Peoria, AZ, United States of America, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons) Trump mengatakan, pembatalan siaran langsung didorong tingginya kritikan baik di AS dan internasional. Menurutnya, banyak orang baik yang tidak akan menonton siaran eksekusi mati tersebut.
“Saya pikir siaran langsung hukuman mati ini untuk semua yang memiliki deterensi kepada dunia dan melihat bagaimana Amerika menangani masalah terorisme dan orang semacam Hasan,” tutur Trump, dikutip dari BBC.
Presiden sayap kanan itu mengatakan bahwa eksekusi mati akan dijalankan sesuai jadwal sudah ditentukan. Namun, tidak akan disiarkan secara langsung seperti yang sudah disampaikan.
2. Trump sempat mendukung siaran langsung hukuman mati

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (Gage Skidmore from Peoria, AZ, United States of America, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons) Sehari sebelumnya, Trump sempat mendukung siaran langsung hukuman mati. Ia bahkan pernah mengungkapkan rencana memvonis hukuman mati kepada penjual narkoba skala besar, penyelundup manusia, dan siapapun yang membunuh polisi serta aparat keamanan.
Dilansir The Hill, Trump juga mengatakan agar siapapun yang membocorkan informasi rahasia untuk dihukum mati. Ia berpendapat bahwa seseorang yang membocorkan rahasia penting negara seharusnya berada di penjara seumur hidup.
3. Sejumlah pejabat AS menolak siaran langsung hukuman mati

ilustrasi bendera Amerika Serikat (unsplash.com/cscreates) Mendengar pernyataan Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth soal siaran langsung hukuman mati, sejumlah pejabat menolaknya. Juru Bicara Gedung Putih Mike Johnson dan Wakil Presiden AS, JD Vance mengaku tidak akan menonton eksekusi tersebut.
“Kekhawatiran siaran langsung eksekusi mati ini mengenai pembuatan video yang dapat juga digunakan untuk merekrut teroris di masa depan,” terang Johnson.
Sementara itu, Senator Alaska, Lisa Murkowski mengatakan bahwa tidak dibutuhkan siaran langsung eksekusi mati. Menurutnya, tindakan seperti ini hanya dilakukan teroris dan diktator, tapi bukan di Amerika.




















