Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Trump Disebut Dukung Netanyahu Jadi PM Israel Dua Tahun Lagi

3 min read
Trump Disebut Dukung Netanyahu Jadi PM Israel Dua Tahun Lagi
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kanan), didampingi Wakil Presiden, Mike Pence, berpartisipasi dalam pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (kiri), di Ruang Oval, Gedung Putih, Washington D.C., pada 27 Januari 2020. (flickr.com/The Wihte House via commons.wikimedia.org/The White House)
  • Media Israel Hayom melaporkan Donald Trump disebut mendukung Benjamin Netanyahu tetap menjadi Perdana Menteri Israel selama dua tahun setelah pemilu 27 Oktober.
  • Netanyahu direncanakan menangani konflik dengan Palestina dan Hizbullah, memperluas Abraham Accords, serta membentuk kabinet berisi pendukung Likud tanpa Itamar Ben-Gvir.
  • Laporan itu bertentangan dengan pernyataan Trump pada 1 Oktober bahwa ia tidak akan mendukung Netanyahu, meski menilai elektabilitasnya mencapai 99 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, disebut mendukung Benjamin Netanyahu untuk tetap menjadi Perdana Menteri Israel selama dua tahun lagi usai pemilihan umum (pemilu) pada 27 Oktober mendatang. Kabar tersebut disampaikan oleh salah satu media Israel, Israel Hayom, berdasarkan informasi dari sumber rahasia pada Jumat (16/10/2026). 

Dalam laporannya, Israel Hayom menjelaskan, Trump akan membantu Netanyahu untuk membentuk Pemerintahan Israel yang baru usai pemilu mendatang. Dalam pemerintahan baru tersebut, Netanyahu berkesempatan untuk menjabat lagi selama dua tahun ke depan sebelum menyerahkan jabatannya ke pemimpin oposisi Israel, Gadi Eisenkot. Sebab, ia diprediksi akan memenangkan pemilu.

  1. 1. Netanyahu akan menyelesaikan sejumlah konflik di pemerintahan baru Israel

    Sejumlah bangunan di Jalur Gaza hancur akibat serangan Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
    Sejumlah bangunan di Jalur Gaza hancur akibat serangan Pasukan Pertahanan Israel (IDF). (unsplash.com/Emad El Byed)

    Selama dua tahun itu, Netanyahu direncanakan akan fokus menyelesaikan konflik antara Israel dengan sejumlah negara di Timur Tengah. Contohnya seperti konflik dengan Palestina dan konflik dengan Hizbullah di Lebanon. Selain itu, Netanyahu juga akan fokus bekerja untuk menggaet negara-negara di Timur Tengah bergabung dalam Abraham Accords untuk menormalisasi hubungan dengan Tel Aviv. 

    Dalam pemerintahan baru ini, semua anggota partai pendukung Netanyahu, Partai Likud, akan diboyong masuk kabinet. Langkah ini dilakukan agar dukungan ke Netanyahu semakin kuat. Namun, pemerintahan baru ini tidak akan memasukkan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir. Padahal, ia berambisi menjadi Menteri Pertahanan Israel yang baru dalam pemerintahan mendatang. 

  2. 2. Trump disebut sudah berdiskusi dengan Netanyahu soal pembentukan pemerintahan baru

    Benjamin Netanyahu sedang berbicara dengan Donald Trump.
    potret Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

    Setelah masa jabatannya benar-benar selesai dan semua konflik juga sudah berakhir, barulah Netanyahu akan menyerahkan posisinya sebagai PM kepada Eisenkot. Eisenkot akan memimpin pemerintahan Israel yang baru untuk membawa negara tersebut menjadi lebih baik.

    Israel Hayom menambahkan, untuk membentuk pemerintahan baru ini, Trump disebut sudah melakukan diskusi intens dengan Netanyahu. Dalam proses tersebut, salah satu pejabat penting dari AS juga ikut memberikan saran. Namun, tidak dijelaskan siapa pejabat AS yang dimaksud.

  3. 3. Trump sebelumnya mengatakan tidak akan mendukung Netanyahu di pemilu

    Benjamin Netanyahu sedang berbicara dengan Donald Trump.
    Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kiri), sedang menyambut kedatangan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (kanan), di Gedung Putih pada 7 April 2025. (flickr.com/White House via commons.wikimedia.org/White House)

    Kabar ini sebetulnya bertentangan dengan sikap Trump. Sebab, pada 1 Oktober pekan lalu, Trump dengan tegas mengatakan dirinya tidak akan mendukung Netanyahu dalam pemilu Israel. Apalagi, Trump saat ini juga sedang fokus untuk memenangkan Partai Republik dalam pemilu sela AS yang akan dihelat pada 3 November mendatang. 

    “Saya hanya bisa mengatakan bahwa saya tidak lagi terlibat dalam politik, kecuali bahwa kami populer. Hal yang utama adalah saya memang tidak ingin membantu mereka membela Israel," kata Trump dalam sebuah wawancara bersama majalah TIME, seperti dikutip Anadolu Agency.  

    Meski tidak mendapatkan dukungannya secara langsung, Trump menilai Netanyahu masih berpotensi menang dalam pemilu Israel. Sebab, Trump menyebut elektabilitas Netanyahu kini berada di angka 99 persen. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More