Trump: Houthi Sengaja Bikin Gejolak untuk Naikkan Harga Minyak

- Trump menuding Houthi, yang disebut didukung Iran, sengaja memicu gejolak dan menaikkan harga minyak menjelang pemilihan sela AS.
- Serangan Houthi ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menewaskan 12-13 orang, melukai lebih dari 300 orang, serta mengancam jalur minyak Laut Merah dan Bab al-Mandab.
- Washington mengecam serangan tersebut, menuding Iran, dan mengkaji respons militer, termasuk kemungkinan melibatkan Turki untuk mendukung Arab Saudi.
Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menuding kelompok Houthi di Yaman melancarkan serangan untuk menaikkan harga minyak dunia. Ia menilai kelompok yang didukung Iran itu sengaja menciptakan gejolak menjelang pemilihan sela AS.
Tuduhan tersebut muncul setelah aktivitas militer Houthi kembali meningkat usai mereda akibat serangan Washington di Yaman tahun lalu. Trump meyakini kelompok itu bergerak atas instruksi langsung Teheran dan telah bertindak terlalu jauh.
“Houthi berperilaku sangat buruk,” kata Trump saat memberikan keterangan di luar Gedung Putih pada Selasa (13/10/2026), dikutip Jerusalem Post.
1. Houthi menyerang bandara Riyadh dan mengancam pasokan minyak

ilustrasi ledakan (pexels.com/Edu Raw) Houthi menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Sabtu (11/10/2026). Serangan tersebut menewaskan 12-13 orang, termasuk seorang warga negara AS, serta menyebabkan lebih dari 300 orang terluka hingga operasional bandara terpaksa dihentikan sepenuhnya.
Houthi mengklaim area bandara telah menjadi bagian dari wilayah operasi militer mereka dan menyalahkan Pemerintah Arab Saudi atas kegagalan sistem pertahanan udara. Serangan itu menjadi insiden paling mematikan terhadap warga sipil sejak Operasi Epic Fury dimulai pada 28 Februari 2026.
Konflik tersebut turut mengancam aktivitas pelayaran komersial di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab yang menjadi jalur distribusi minyak dunia. Gangguan di kedua jalur itu berpotensi menghambat pengiriman pasokan minyak internasional.
Sejak perang pecah pada 2014, Houthi telah menguasai sebagian besar wilayah barat Yaman, termasuk ibu kota Sana’a, sedangkan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mengendalikan wilayah lain, seperti Aden. Ketegangan meningkat di tengah perang AS-Iran yang telah berlangsung selama delapan bulan dan merusak gencatan senjata pada Mei 2025, yang sebelumnya menahan serangan terhadap kapal-kapal AS.
2. Trump mempertimbangkan keterlibatan militer Turki

ilustrasi militer (pexels.com/Somchai Komkamsri) Mengutip laporan New York Post, Washington tengah mengkaji sejumlah opsi untuk merespons situasi di Riyadh yang dinilai penting bagi kepentingan AS. Sebelum menaiki helikopter Marine One menuju Pangkalan Gabungan Andrews untuk menghadiri agenda kampanye di Wasilla, Alaska, Trump tak bersedia mengungkapkan secara terperinci bentuk pembalasan militer yang sedang dipertimbangkan, tetapi mengonfirmasi telah berkomunikasi dengan pejabat Arab Saudi.
Trump juga membuka kemungkinan meminta bantuan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, untuk mendukung kepentingan Arab Saudi di lapangan. Pertimbangan tersebut berkaitan dengan kekuatan militer Turki, yang merupakan terbesar kedua di antara negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Trump menyebut Erdogan sebagai kawan baik yang sangat dihormatinya dan meyakini pemimpin Turki itu bersedia bekerja sama. Pelibatan Ankara dipertimbangkan sebagai cara untuk menambah kekuatan di kawasan tanpa sepenuhnya bergantung pada pasukan Washington.
3. AS mengecam serangan Houthi dan menyebut Iran negara gagal

potret bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio) Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, turut mengecam serangan Houthi dan menyebut kelompok tersebut sebagai organisasi teroris.
“Serangan tercela ini menunjukkan pengabaian terang-terangan terhadap nyawa warga sipil yang tidak bersalah. Serangan itu harus dihentikan sekarang,” tegas Rubio.
Washington juga menuding Iran berada di balik meningkatnya ketegangan di kawasan dan menyatakan akan segera menentukan sikap resmi. Trump menggambarkan Iran sebagai negara gagal yang tak memiliki perekonomian stabil, dengan inflasi mencapai 300 persen dan kesulitan membayar gaji tentaranya.
Selain itu, Trump mengklaim militer AS kini menguasai Selat Hormuz, jalur utama lalu lintas minyak internasional. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah sikap keras Washington terhadap Houthi setelah periode penahanan diri yang menyusul kesepakatan gencatan senjata tahun sebelumnya.























