Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
WFP: 74 Persen Keluarga di Wilayah Kendali Pemerintah Yaman Kelaparan
bendera Yaman (pixabay.com/Chickenonline)
  • WFP mencatat 74 persen keluarga di wilayah kendali pemerintah Yaman tak mampu memenuhi kebutuhan makan harian, setelah konflik memutus pasokan pangan dan memicu pengungsian.
  • Sebanyak 18,3 juta warga menghadapi kerawanan pangan akut; 2,2 juta balita mengalami kekurangan gizi akut, termasuk 500 ribu kasus parah yang mengancam nyawa.
  • Pertempuran menghambat bantuan bagi 350 ribu warga dan menekan operasional WFP, yang membutuhkan dana darurat 109 juta dolar AS serta 158 juta dolar AS untuk layanan rutin.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan krisis kelaparan di Yaman berisiko semakin parah setelah konflik bersenjata kembali pecah. Pemantauan terbaru WFP mencatat sekitar 74 persen keluarga di wilayah kendali pemerintah kini tidak mampu memenuhi kebutuhan makan harian. Angka tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang tahun ini.

Lonjakan kelaparan terjadi usai kelompok Houthi merebut seluruh pesisir Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab pada September. Serangan terhadap pasukan pemerintah Yaman itu memutus rantai pasokan makanan pokok dan memicu gelombang pengungsian baru.

1. Jutaan anak Yaman terancam gizi buruk akut

pemandangan sebuah pasar di Yaman (unsplash.com/Thomas Foertsch)

Krisis pangan kini meluas di Yaman dan mengancam keselamatan jutaan warga. Secara total, sebanyak 18,3 juta orang menghadapi kerawanan pangan akut. Dari total 35 juta penduduk Yaman, sekitar 10 juta jiwa menetap di wilayah kekuasaan pemerintah yang kini terdampak pertempuran.

Krisis ini paling memukul anak-anak di bawah usia lima tahun. Sekitar 2,2 juta balita mengalami kekurangan gizi akut, dengan 500 ribu di antaranya menderita gizi buruk parah yang mengancam nyawa.

Ketiadaan persediaan makanan memaksa para pengungsi memangkas jadwal makan keluarga. Banyak warga yang tiba di pengungsian hanya bertahan hidup dengan makan roti seadanya dan sup berbahan rumput dan daun liar.

"Kelaparan di Yaman saat ini meningkat begitu cepat di depan mata kita," kata Asisten Direktur Eksekutif WFP untuk Operasi Program, Matthew Hollingworth, dilansir The New Arab pada Jumat (2/10/2026).

2. Pasokan terganggu dan harga bahan pangan melonjak

pasukan Houthi di Kota Sanaa, Yaman. (Public domain, via Wikimedia Commons)

Yaman sangat rentan terhadap guncangan rantai pasok pangan. Negara berpenduduk 35 juta jiwa ini mengimpor sekitar 90 persen kebutuhan pangan pokok dari luar negeri.

Pertempuran darat dan penutupan jalur pengiriman telah memicu lonjakan harga di pasar lokal. Di wilayah Taiz, harga tepung gandum melonjak 10 persen hanya dalam waktu dua pekan.

Selain gandum, pasokan minyak goreng juga terganggu sehingga makin memberatkan beban warga miskin. Sejumlah pedagang setempat memperkirakan stok gandum yang tersisa saat ini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan selama dua bulan.

WFP memperingatkan instabilitas di pesisir barat dan Selat Bab al-Mandab dapat membawa dampak lebih luas. Gangguan pada jalur pelayaran strategis tersebut dikhawatirkan memicu kenaikan harga pangan dan bahan bakar di pasar internasional.

3. Bantuan terganjal konflik dan kekurangan dana operasional

Penyaluran logistik kian sulit karena pertempuran memutus akses bantuan menuju Taiz dan Hodeidah. Isolasi wilayah menyebabkan sekitar 350 ribu warga tidak bisa menerima kiriman bantuan pangan.

Operasional kemanusiaan juga terhambat penahanan 73 staf PBB oleh kelompok Houthi, termasuk 38 personel WFP. Pada saat bersamaan, kamp pengungsian yang padat mulai menghadapi ancaman wabah penyakit menular seperti kolera dan campak. Krisis persediaan makanan bahkan memaksa WFP mengalihkan jatah distribusi bulan November demi menolong para pengungsi baru.

"Jika dunia tidak segera bergerak membantu Yaman, situasinya akan menjadi suram," ujar Hollingworth, dilansir UN News.

WFP saat ini membutuhkan dana darurat sebesar 109 juta dolar AS (Rp1,9 triliun) untuk menolong 1,5 juta warga terdampak konflik. Badan pangan ini juga memerlukan 158 juta dolar AS (Rp2,8 triliun) guna menjaga operasional rutin bagi 2,4 juta warga hingga Maret 2027.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article