Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

WFP Ungkap Super El Niño Berisiko Memicu Kelaparan Akut Global

WFP Ungkap Super El Niño Berisiko Memicu Kelaparan Akut Global
ilustrasi petani (pexels.com/Rufaro Makaya)
Intinya Sih
  • WFP memperkirakan super El Niño berpeluang 81 persen dan dapat mendorong hampir 50 juta orang tambahan mengalami kelaparan akut hingga akhir 2027.
  • Di 45 negara rentan, populasi dalam krisis pangan akut diproyeksikan naik 22 persen menjadi 274 juta jiwa; Amerika Tengah dan Afrika selatan paling terdampak.
  • WFP mengaktifkan bantuan antisipatif di 18 negara, menjangkau 1,3 juta orang, serta mengalokasikan 80 juta dolar AS untuk sistem peringatan dini.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Fenomena iklim El Niño yang bergerak cepat diproyeksikan bisa menghempas hampir 50 juta orang tambahan ke jurang kelaparan akut hingga akhir tahun depan. Laporan teranyar Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (WFP) pada Rabu (5/8/2026) memperingatkan bahwa ancaman ini bakal memperparah kondisi ratusan juta warga yang sudah lebih dulu terimpit kekeringan parah di Afrika dan lonjakan harga pangan akibat konflik di Timur Tengah.

Kondisi tersebut dikhawatirkan bakal mendorong banyak negara melewati ambang batas krisis. Direktur Layanan Analisis Ketahanan Pangan dan Gizi WFP, Jean-Martin Bauer, menegaskan bahaya fenomena ini.

“Ini adalah peristiwa-peristiwa yang di masa lalu telah memicu kelaparan skala besar,” ujarnya, dikutip Japan Times.

1. WFP memproyeksikan peningkatan ketidakamanan pangan

ilustrasi pemanenan lahan pertanian (pexels.com/Wolfgang Weiser)
ilustrasi pemanenan lahan pertanian (pexels.com/Wolfgang Weiser)

Melansir Japan Times, WFP mencatat peluang munculnya El Niño berkategori sangat kuat mencapai 81 persen, ditandai dengan suhu permukaan air laut Samudra Pasifik yang memanas ke level tertinggi sejak 1982. Sementara itu, laporan The Guardian menyebutkan bahwa krisis iklim kian memperparah fenomena alam ini, hingga puncaknya yang sering dijuluki “super El Niño” berisiko mencatatkan rekor tahun terpanas sepanjang sejarah pada 2026 atau 2027.

Kajian WFP di 45 negara paling rentan memperkirakan angka populasi yang mengalami krisis pangan akut bakal melonjak 22 persen hingga menyentuh 274 juta jiwa. Amerika Tengah dan kawasan selatan Afrika diprediksi menjadi wilayah yang dihantam paling parah dengan lonjakan masing-masing 83 persen dan 75 persen, sedangkan Asia Selatan hingga Asia Tenggara harus bersiap menghadapi cuaca tak menentu dan risiko banjir lokal yang siap mengganggu produktivitas pertanian.

2. WFP menyiapkan langkah antisipasi krisis pangan

ilustrasi cuaca panas
ilustrasi cuaca panas (pexels.com/Fatih Turan)

Dampak terberat di kawasan selatan Afrika diproyeksikan baru akan terasa pada musim paceklik 2027-2028, menyusul siklus musim tanam periode Oktober 2026 sampai Maret 2027. Situasi kritis tersebut turut digarisbawahi oleh Direktur Layanan Iklim dan Ketahanan WFP, Richard Choularton.

“Dampak keamanan pangan terbesar, di Afrika Selatan, akan terjadi selama musim paceklik 2027-2028,” jelasnya.

Sebagai langkah pencegahan, WFP telah mengaktifkan program aksi antisipatif di 18 negara yang menjangkau lebih dari 1,3 juta jiwa lewat bantuan tunai serta pendampingan darurat. Organisasi PBB ini juga menggelontorkan dana sebesar 80 juta dolar AS (sekitar Rp1,4 triliun) khusus untuk memperkuat sistem peringatan dini. Upaya cepat ini disiapkannya agar tragedi El Niño periode 2015–2016 yang menyeret 60-100 juta orang ke dalam kelaparan akut tidak terulang kembali.

3. Bauer menyoroti risiko pasokan pangan global

ilustrasi pertanian (pexels.com/Jonathan Einwechter)
ilustrasi pertanian (pexels.com/Jonathan Einwechter)

Meski pasar pangan global saat ini relatif stabil berkat sokongan hasil panen raya 2025, ancaman kelangkaan lokal dan penggelembulan harga tetap membayangi kelompok masyarakat rentan. Bauer pun mewanti-wanti negara-negara pengekspor agar tidak mengambil kebijakan setop ekspor bahan pangan, di tengah kecemasan para pengamat swasta hingga petani di Inggris dan Eropa akan risiko lonjakan biaya hidup konsumen.

Di sisi lain, pemangkasan dana bantuan dari donor AS dan Eropa berdampak serius pada penurunan aktivitas pemantauan data rumah tangga milik WFP. Bauer menekankan pentingnya pengumpulan data secara berkala di tengah ancaman krisis iklim. Tanpa pemantauan data yang presisi dan cepat, potensi krisis pangan baru di berbagai daerah akan makin sulit terdeteksi dan diantisipasi sejak dini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More