Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
WHO Laporkan 1.300 Kematian akibat Gelombang Panas di Eropa
ilustrasi peta Eropa (pexels.com/Pixabay)
  • WHO melaporkan lebih dari 1.300 kematian akibat gelombang panas ekstrem di Eropa sejak 21 Juni, dengan suhu mencapai 35 derajat Celsius atau lebih di berbagai negara.
  • Prancis mencatat lonjakan kematian signifikan selama tiga hari terpanas, terutama di wilayah berperingatan merah, dengan mayoritas korban merupakan lansia berusia di atas 65 tahun.
  • WHO memperingatkan Eropa sebagai benua dengan pemanasan tercepat dan menyerukan penerapan rencana aksi kesehatan untuk menghadapi dampak perubahan iklim serta panas ekstrem.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 1.300 kematian akibat gelombang panas yang melanda sejumlah negara di Eropa sejak 21 Juni lalu. Sekjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan gelombang panas telah menjadi pembunuh senyap (silent killer) yang menghantui.

Pada Minggu (28/6/2026), Tedros menambahkan bahwa rumah, tempat kerja, dan sekolah di Eropa tidak didesain untuk menghadapi suhu ekstrem semacam itu. Sekitar 191 juta orang diperkirakan mengalami suhu setidaknya 35 derajat Celsius, dengan panas yang sangat intens di Jerman, Republik Ceko, Hungaria, dan Polandia, mengutip laporan France24.

Para ilmuwan mengatakan, gelombang panas Eropa kali ini merupakan yang terburuk yang pernah tercatat. Kondisi tersebut telah menyebabkan gangguan pembangkit listrik, merusak infrastruktur, dan membebani sistem perawatan kesehatan.

1. Sejumlah negara di Eropa mencatatkan rekor suhu terpanas

ilustrasi bendera Uni Eropa (unsplash.com/Guillaume Perigois)

Rekor suhu terpanas tercatat di sejumlah negara selama akhir pekan. Jerman mencatat rekor baru untuk hari ketiga berturut-turut dengan suhu 41,7 derajat Celsius di Neißemünde yang dekat perbatasan dengan Polandia, seiring gelombang panas yang perlahan bergerak ke timur Eropa.

Selain itu, Republik Ceko mencatat rekor suhu kedua dalam dua hari pada Minggu, dengan suhu 41,1 derajat Celsius di Doksany, utara Praha, menurut institut meteorologi CHMI. Suhu tersebut diperkirakan belum mencapai rekor puncaknya dan masih akan terus meningkat.

Panas ekstrem juga telah menghangatkan dan mengurangi volume air sungai di Eropa, dan menyebabkan masalah bagi pembangkit listrik dan pertanian. Pada Minggu, pembangkit listrik tenaga nuklir Paks di Hongaria kembali mengurangi produksinya imbas suhu tinggi Sungai Danube yang digunakannya sebagai pendingin.

Sementara itu di Italia, aliran Sungai Po yang menyusut memungkinkan air laut masuk hingga sejauh 18 km ke pedalaman. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran bagi pertanian dan lahan basah yang dilindungi di delta sungai.

2. Prancis laporkan lebih dari 1.000 kematian selama 3 hari rekor gelombang panas

ilustrasi bendera Prancis (unsplash.com/Alice Triquet)

Badan kesehatan masyarakat Prancis mencatat 1.000 kematian harian lebih banyak selama tiga hari terburuk gelombang panas Eropa. Peningkatan paling tajam terjadi di daerah-daerah yang berada di bawah peringatan merah untuk panas ekstrem, yang meliputi sekitar tiga perempat negara pada puncak gelombang panas.

Badan itu juga mencatat lebih dari 1.200 kematian pada Rabu saat Prancis dilanda suhu terpanasnya. Jumlah tersebut meningkat menjadi lebih dari 1.400 kematian pada masing-masing dua hari berikutnya. Sebelum gelombang panas melanda pada April dan Mei, tingkat kematian di negara Eropa itu berkisar antara 900 hingga 1.000 per hari.

Dilansir NBC News, lonjakan kematian di Prancis sebagian besar terjadi di rumah-rumah pribadi, serta panti jompo dan rumah sakit. Badan kesehatan masyarakat mencatat 85 persen dari angka kematian merupakan lansia berusia 65 tahun ke atas.

3. WHO peringatkan Eropa menjadi benua dengan pemanasan tercepat

ilustrasi WHO (https://www.nursetogether.com/, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

WHO memperingatkan bahwa Eropa kini menjadi benua dengan pemanasan tercepat. Pihaknya menyerukan negara-negara di benua biru tersebut untuk menerapkan rencana aksi kesehatan terkait panas sebagai upaya menjaga kesehatan dalam menghadapi perubahan iklim.

"Didorong oleh perubahan iklim dan pemanasan global, fenomena gelombang panas sekali dalam satu generasi kini terjadi hampir setiap tahun. Eropa adalah benua dengan pemanasan tercepat di Bumi, memanas dua kali lipat dari rata-rata global," ungkap Tedros, dikutip dari ABC News.

Tedros mengatakan, badan kesehatan PBB tersebut bekerja sama dengan negara anggota dan mitranya untuk mengatasi ancaman kesehatan yang ditimbulkan oleh panas ekstrem. Pihaknya berfokus pada kesiapan, pencegahan, dan respons sistem kesehatan yang lebih kuat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article