ilustrasi rakyat (unsplash.com/Maximus Beaumont)
Salah satu argumen yang paling sering muncul untuk membenarkan pola ini adalah bahwa rakyat Indonesia memang tangguh dan sudah terbiasa menghadapi kesulitan. Seolah-olah kemampuan bertahan itu adalah sesuatu yang patut dirayakan dan sekaligus dijadikan alasan mengapa tidak banyak yang perlu diubah dari cara kebijakan dirancang dan dijalankan. Tapi ada perbedaan yang sangat mendasar antara ketangguhan yang tumbuh dari kesempatan dan ketahanan yang lahir dari tidak adanya pilihan lain.
Orang yang tidak lagi mengeluh tidak selalu berarti mereka baik-baik saja. Sebab kadang mereka hanya sudah tidak punya cukup energi untuk protes, atau sudah terlalu lama belajar bahwa protes tidak mengubah apa pun. Jika setiap kali masalah struktural muncul jawabannya adalah meminta masyarakat untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri, maka yang sedang berlangsung bukan proses penguatan rakyat melainkan pembiaran sistemik yang diulang terus-menerus. Dalam jangka panjang, yang tumbuh dari pembiaran semacam itu bukan ketahanan kolektif yang bisa diandalkan, melainkan kemarahan yang mengendap pelan-pelan di bawah permukaan, sampai suatu saat tidak lagi pelan.
Kenaikan BBM mungkin saja merupakan keputusan yang secara teknis dan fiskal bisa dipertanggungjawabkan, tapi kebijakan yang benar secara angka tidak otomatis adil secara sosial. Selama narasi yang dibangun setiap kali BBM naik masih terus berkutat pada bagaimana rakyat harus menyesuaikan diri, dan bukan pada pertanyaan yang lebih mendasar tentang siapa yang bertanggung jawab atas kondisi yang membuat rakyat selalu berada di posisi ini, maka kita tidak sedang berdiskusi tentang kebijakan energi. Kita sedang menormalkan ketidakadilan, satu kenaikan harga dalam satu waktu.