ilustrasi penyandang disabilitas (pexels.com/Kampus Production)
Hal satu ini mungkin yang paling jarang diakui orang-orang. Banyak sekali diskusi soal disabilitas yang didominasi oleh orang yang tidak punya pengalaman langsung dengan kondisi tersebut. Niatnya baik, tapi sering berakhir dengan kesimpulan yang dibuat sepihak tanpa melibatkan penyandang disabilitas sebagai pembicara utama.
Akhirnya yang berkembang cuma persepsi tentang mereka, bukan suara dari mereka sendiri. Padahal solusi paling tepat biasanya datang dari orang yang benar-benar menjalani kondisi tersebut setiap hari, bukan dari pihak luar yang sekadar berempati dari jauh. Selama ruang bicara masih didominasi orang lain, kebijakan dan persepsi publik soal disabilitas akan terus meleset dari kebutuhan asli penyandangnya.
Lima hal di atas menjadi bukti bahwa inklusi disabilitas masih jauh. Jika dilihat, ada satu pola yang sama, yakni inklusi sering berhenti di tahap terlihat baik, belum sampai ke tahap benar-benar berfungsi. Kesadaran disabilitas tidak akan tumbuh hanya dari slogan atau campaign musiman, tapi dari keberanian mengakui bahwa banyak sistem yang ada sekarang masih jauh dari layak. Pertanyaannya, sampai kapan kita cuma puas dengan tampilan inklusif tanpa mau memperbaiki yang rusak di baliknya?