Umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta Bersama FAO Rayakan Hari Pangan Sedunia 2026

Umat Katolik KAJ merayakan Hari Pangan Sedunia melalui perayaan Ekaristi dan pesan Kardinal Ignatius Suharyo.
Kardinal Suharyo menekankan penghormatan martabat manusia serta hak atas pangan bagi kelompok rentan.
Umat diajak mengurangi pemborosan makanan dan membangun solidaritas melalui pembagian makanan bergizi.
Umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) dalam seluruh perayaan Ekaristi hari ini, Minggu, 18 Oktober 2026, secara resmi turut merayakan Hari Pangan Sedunia. Peringatan ini sebelumnya dibuka melalui sebuah upacara di markas besar FAO di Roma, yang diisi dengan pidato dari Sekretaris Jenderal Qu Dongyu serta sejumlah pemimpin dunia, termasuk Paus Leo XIV.
Pada Misa hari Minggu di seluruh wilayah KAJ, homili yang disampaikan menampilkan Kardinal Ignatius Suharyo S.J., Uskup Agung Jakarta, yang menjelaskan makna perayaan ini bagi kita semua, para pengikut Kristus di mana pun berada.
Kardinal Ignatius Suharyo, yang juga menjabat sebagai Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), mendesak umat Katolik KAJ untuk menghormati martabat manusia dengan membantu kelompok masyarakat rentan yang terdampak oleh krisis pangan global.
Pesan tersebut disampaikan oleh Kardinal Suharyo dalam surat gembalanya menyambut Hari Pangan Sedunia, yang puncaknya diperingati pada 16 Oktober lalu dan berpusat di markas besar FAO di Roma, Italia.
Merujuk pada tema Hari Pangan Sedunia, "Leave No One Behind" (Tidak Ada yang Tertinggal), Kardinal menyoroti bahwa banyak orang tidak mampu mengejar dan menikmati hasil pembangunan serta kemajuan. Ia mendorong kita semua untuk senantiasa menghormati martabat mereka.
"Saudara-saudara kita, yang kerap disebut sebagai kelompok lemah, miskin, terpinggirkan, dan difabel, menjadi semakin rentan akibat krisis global, kesulitan ekonomi, serta beban sosial lainnya yang dipicu oleh pandemi COVID-19," ungkap Kardinal.
Ia menambahkan bahwa penghormatan terhadap martabat manusia harus memotivasi setiap individu untuk mematuhi ajaran sosial gereja.
"Hak atas pangan adalah salah satu hak asasi manusia yang paling mendasar," tegas Kardinal Suharyo. Berangkat dari landasan ini, ia mengajak umat untuk merenung dan meresapi pertanyaan berikut:
"Apa yang bisa kita lakukan untuk memastikan saudara-saudari kita yang tertinggal memiliki akses terhadap pangan? Bisakah kita menemukan dan membuka jalan agar mereka mendapatkan kesempatan yang setara untuk memperoleh hak dasar atas pangan?"
Oleh karena itu, sang prelat mendorong umat untuk mewujudkan belas kasih Allah dengan cara mengasihi, peduli, dan terus memberikan kesaksian. Kepedulian ini dapat ditunjukkan melalui berbagai tindakan nyata, termasuk menghargai makanan dengan mengonsumsi makanan sehat dan menghindari membuang-buang makanan, sehingga persediaan pangan akan cukup untuk dinikmati oleh orang lain.
"Ini adalah sebuah tindakan iman, karena makanan adalah anugerah Tuhan bagi semua orang. Menyia-nyiakan dan membuang makanan sama halnya dengan tidak menghormati hak dasar atas pangan dari saudara-saudari kita yang kurang beruntung," tegas Kardinal.
Ia menambahkan bahwa umat beriman di tingkat paroki, lingkungan, komunitas religius, maupun kelompok kategorial dapat mengorganisasi inisiatif solidaritas untuk membagikan makanan bergizi kepada saudara-saudari kita yang membutuhkan.
Kardinal menutup surat gembalanya dengan meminta umat beriman untuk berkolaborasi mengambil langkah nyata dalam menyelesaikan persoalan pangan global.
"Semoga kita terus berjalan bersama dengan cinta, kepedulian, dan kesaksian yang lebih besar, serta tidak kenal lelah mencari jalan-jalan baru untuk membantu mereka yang kekurangan gizi," tuturnya.
Pesan ini dikaitkan dengan bacaan Injil hari ini, yang mengisahkan bagaimana para imam kepala Yahudi menguji Yesus dengan pertanyaan apakah diperbolehkan membayar pajak. Yesus menjawab dengan meminta sekeping uang logam yang biasa digunakan untuk membayar pajak. Ia bertanya kepada mereka, gambar siapakah itu, dan mereka menjawab, "Kaisar".
Lalu Yesus berkata, berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan berikanlah kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah. Mendengar itu, mereka pun tidak lagi melanjutkan niat untuk menguji Yesus.
Kardinal Suharyo meminta seluruh umat Katolik untuk terus bekerja membantu mereka yang tidak mampu membeli makanan layak, kelompok difabel, dan kaum marginal. Tujuannya adalah mengurangi jumlah orang yang tidak mendapatkan makanan sehat, mereka yang menderita stunting, serta terus membangun solidaritas dalam merawat bumi tempat kita tinggal guna mengatasi masalah akibat perubahan iklim.
Menurut pandangan saya, kita semua patut bersyukur kepada Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo yang menempatkan program makan bergizi gratis untuk anak sekolah dan ibu hamil sebagai salah satu prioritas utamanya.
Tentu saja, masih banyak perbaikan yang diharapkan, seperti standardisasi kualitas yang baik dan penyelesaian masalah teknis di lapangan. Namun, program ini nyatanya telah memberikan manfaat bagi jutaan anak usia sekolah dan ibu hamil. Kita harus menolak pandangan yang menyarankan agar program ini dihentikan sepenuhnya. Telah terbukti bahwa manfaatnya bagi rakyat jauh lebih signifikan daripada masalah yang kita hadapi, dan kita harus terus berfokus mencari solusinya.
Saya ingin menutup tulisan ini dengan mengingatkan seluruh pengikut Kristus, bahwa selain melakukan apa yang didesak oleh Kardinal Suharyo, kita juga harus mengingat pesan Paus Fransiskus dalam anjuran apostoliknya, "Evangelii Gaudium" (Sukacita Injil).
Kita harus melakukan semua hal yang dianjurkan Kardinal Suharyo—memperlakukan orang lain sebagai saudara dan saudari, serta berupaya maksimal untuk membantu mereka—dengan penuh sukacita, sebagaimana yang ditekankan oleh Paus Fransiskus. Jangan terlalu banyak berpikir, lakukan saja dengan sukacita, karena saat kita membantu mereka yang kekurangan, kita pun akan turut merasakan kebahagiaan itu.
Oleh: J. Soedradjad Djiwandono
Guru Besar Emeritus Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (FEB UI), Jakarta.


![[OPINI] Spanduk Ditindak Segera, Kenapa Karhutla Dibiarkan Merajalela?](https://image.idntimes.com/post/20261021/img_20261021_115508_9acb8c0a-54c6-408b-9766-25fbbeeff96d.jpg)









![[OPINI] Sutradara Pria Sering Gagal Bikin Film Feminis](https://image.idntimes.com/post/20260921/mv5bmtg2ntq1ndkwnf5bml5banbnxkftztgwota3ndyymdeat_4d830c3d-43db-4b5f-b2e0-a12ff308b8a1.jpg)







