5 Fakta Enggang Merah, Spesies Burung Endemik Filipina

- Enggang merah atau Kalaw (Buceros hydrocorax) adalah rangkong endemik Filipina yang hidup di hutan tropis dataran rendah hingga ketinggian 2.000 meter dan merupakan burung terbesar di negara tersebut.
- Burung berukuran 60–65 cm ini memiliki paruh merah terang dari minyak alami, suara keras yang terdengar hingga 1,5 km, serta berperan menyebarkan biji dan mengendalikan serangga.
- Enggang merah monogami; betina menyegel diri di sarang selama 4–6 bulan, sementara jantan mencari makan. Spesies ini terancam perburuan, perdagangan ilegal, penebangan, dan konversi habitat.
Satwa unik sangat beragam yang tersebar di seluruh dunia, salah satunya burung. Di berbagai wilayah pun memiliki spesies burung yang khas dan hanya ada pada area tersebut atau endemik. Negara Filipina salah satunya, terdapat jenis burung secara internasional disebut rufous hornbill. Sedangkan secara lokal spesies burung ini memiliki sebutan Kalaw atau juga enggang merah (Buceros hydrocorax).
Enggang merah merupakan spesies burung rangkong dengan ukuran besar dengan keunikannya. Mereka hanya ada di Filipina dan dikenal sebagai burung terbesar yang ada di sana. Burung ini punya warna paruh mencolok berwarna merah terang yang menjadi salah satu keunikan padanya. Uniknya, warna paruh tersebut diperoleh dari minyak alami yang dihasilkannya. Selain itu, mereka juga memiliki suara yang bernada sangat keras dan dikeluarkannya di waktu tertentu. Seperti apa hal-hal unik lainnya mengenai burung enggang merah ini? Untuk lebih mengenalnya, simak ulasan sebagai berikut.
1. Spesies burung yang hanya ditemukan di Filipina

Burung enggang merah endemik Filipina (commons.wikimedia.org/Ranieljosecastaneda) Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa burung enggang merah merupakan endemik di Filipina. Masyarakat di sana menyebutnya Philippine hornbill atau burung rangkong Filipina. Dilansir Kiddle Encyclopedia, spesies burung rangkong ini hidup pada hutan dataran rendah tropis yang lembap. Mereka ada di hutan yang telah terjangkau maupun yang belum tersentuh sama sekali. Baik di hutan primer yang selalu hijau hingga di hutan sekunder. Keberadaan habitat tersebut pada sekitar ketinggian 750-2000 m di atas permukaan laut.
2. Paruh berwarna merah terang yang kontras dengan bulu tubuhnya

Burung enggang merah berparuh warna merah (commons.wikimedia.org/Olaf Oliviero Riemer) Spesies burung enggang merah ini merupakan burung terbesar yang ada di Filipina. Dilansir Hornbill Specialist Group, ukuran panjangnya mencapai 60-65 cm, dengan berat 1.300-1800 g serta rentang sayap mencapai 100 cm. Bagian kepala dan lehernya berwarna cokelat kemerahan gelap. Sedangkan bagian bawahnya berwarna hitam, punggung serta sayapnya cokelat. Dan bagian paruh merah dengan pangkal hitam yang memanjang hingga ke bagian wajah. Paruh berwarna mencolok tersebut berasal dari kalenjar uropigial. Kedua jenis kelamin, jantan dan betina warnanya sama. Perbedaan pada ukuran, jambul betina lebih kecil, kulitnya orbital kuning dan iris merah walaupun detailnya kurang jelas. Burung muda sebagian berwarna krem, sayapnya abu-abu cokelat. Pada bulu ekor bagian samping terdapat pita hitam melintang dengan paruh berwarna hitam serta tidak ada jambul.
Selain itu, dari tampilannya terdapat tiga subspesies yaitu Buceros hydrocorax hydrocorax yang punya paruh lebih besar. Tempurung kepala juga besar serta paruh merah seluruhnya, namun spesies ini telah punah. Buceros hydrocorax semigaelatus punya warna paruh bagian depan kuning. Bagian atas kepalanya lebih datar dengan tanduk (cesque) lebih kecil dan menyatu dengan rahang atas. Buceros hydrocorax mindanensis punya paruh bagian depannya warna kuning dengan kepala lebih besar.
3. Punya julukan '"clock of the mountains" yang punya peran sebagai penyebar utama benih tanaman

Buceros hydrocorax (commons.wikimedia.org/Magalhães) Sebagai burung yang tergolong besar, enggang merah juga punya suara yang sangat keras serta terdengar di waktu tertentu. Maka, mereka punya julukan "jam pegunungan (clock of the mountains)". Dilansir iNaturalist, biasanya saat siang hari serta terdengar hingga jarak kejauhan 1,5 km. Selain itu, burung besar ini akan mengeluarkan suara pada kepakan sayapnya yang mendesing khas ketika terbang.
Keberadaan enggang merah juga penting dalam ekosistem. Hal ini berkaitan dengan makanannya yang berupa buah-buahan maupun serangga. Sebagai burung omnivora, mereka dianggap sebagai spesies kunci yang memungkinkan menyebarkan biji di lantai hutan dari buah-buahan yang dikonsumsi. Selain itu, juga dapat mengendalikan populasi hama serangga yang menjadi makanan. Umumnya, spesies burung rangkong ini bertengger atau berada dalam kelompok hingga 12 ekor burung.
4. Burung yang bersifat monogami

Buceros hydrocorax memakan biji dan buah-buahan (commons.wikimedia.org/Magalhães) Spesies burung enggang merah memiliki sifat monogami yaitu ketika berkembangbiak mereka hanya punya satu pasangan. Hal unik lainnya ketika musim kawin tiba, burung betina lebih memilih mengurung diri dan menyegel dirinya dalam sarang. Dilansir Animalia, sarang dibuat dalam rongga atau lubang pohon. Penyegelan tersebut yaitu burung betina mengubur diri menggunakan lumpur dan kotoran selama beberapa bulan untuk bertelur. Sedangkan burung jantan sepenuhnya berada di luar untuk mencari makanan.
Saat memberikan makan pada anak dan betina, burung jantan akan memberikannya melalui celah vertikal sempit pada lubang sarang yang tertutup rapat. Masa bersarang ini berlangsung selama 4-6 bulan. Serta burung jantan hanya menjalankan tugas untuk mencari makan bagi anak dan betina. Ikatan antara burung jantan dan betina selama bertahun-tahun.
5. Keberadaannya berstatus terancam punah

Penangkaran sementara burung enggang merah (commons.wikimedia.org/Ramon FVelasquez) Sebagai burung dengan keunikannya, enggang merah tergolong burung yang terancam punah. Salah satu penyebab, spesies burung ini tertekan oleh perburuan besar. Hingga rusaknya habitat akibat penebangan dan konversi lahan menjadi fungsi pertanian. Hal ini dapat menekan jumlah populasinya serta wilayah jelajah menjadi terfragmentasi. Jumlah pepohonan yang cocok sebagai habitatnya yang berkurang membuat mereka kesulitan mendapatkan sarang. Bahkan, terkadang anak-anak dan induk betina diburu untuk diperdagangkan secara ilegal. Segala aktivitas tersebut sangat merugikan, melansir iNaturalist.
Keberadaan satwa di alam liar dengan segala keunikannya tidak hadir begitu saja. Seperti enggang merah yang memiliki peran penting dalam ekosistem dalam hal menyebarkan benih tanaman lewat makanannya. Sehingga, hutan pun menjadi subur dengan adanya tanaman atau pepohonan yang menjadi rumah mereka maupun satwa lain. Maka, jangan merusak maupun menebang pohon sembarangan yang dapat menghilangkan rumah bagi satwa liar yang ada di dalamnya. Serta tetap menjaga kelestarian alam. Semoga bermanfaat!











![[QUIZ] Dari Karakter Upin & Ipin, Kami Tebak Kamu Cocok Tinggal di Planet Mana](https://image.idntimes.com/post/20250530/img-20250530-205757-a4e4cddefdae713cd1a3efe97f21f1d1-bbcab86100b55cd45d995c1c12e6c570.jpg)










