5 Fakta Great Mosque of Rome, Masjid Terbesar di Jantung Kota Katolik

- Great Mosque of Rome adalah masjid terbesar di Eropa Barat dengan luas 30.000 meter persegi dan mampu menampung lebih dari 12.000 jamaah.
- Dibangun dengan izin resmi Vatikan, masjid ini merupakan simbol kebebasan beragama di Roma dan menunjukkan sikap penerimaan terhadap keberagaman keyakinan.
- Dirancang agar tidak mencolok, masjid ini mempertimbangkan lingkungan kota sekitarnya dan menjadi simbol koeksistensi antarumat beragama di tengah masyarakat yang majemuk.
Roma dikenal sebagai kota dengan identitas Katolik yang sangat kuat dan menjadi pusat Gereja Katolik dunia. Meski demikian, Roma juga merupakan kota modern yang dihuni oleh masyarakat dengan latar belakang budaya dan agama yang beragam. Salah satu wujud keberagaman tersebut dapat dilihat dari keberadaan Great Mosque of Rome yang berdiri tenang sebagai bagian dari kehidupan kota.
Lebih dari sekadar tempat ibadah, masjid ini menyimpan berbagai fakta unik yang jarang dibahas, mulai dari statusnya sebagai masjid terbesar di Eropa Barat hingga maknanya dalam kehidupan sosial kota Roma. Untuk memahami peran dan keistimewaan Great Mosque of Rome secara lebih dekat, yuk simak lima fakta uniknya berikut ini.
1. Masjid terbesar di Eropa Barat

Great Mosque of Rome dikenal sebagai masjid terbesar di Eropa Barat, baik dari segi luas area maupun kapasitasnya. Kompleks masjid ini memiliki luas sekitar 30.000 meter persegi dan mampu menampung lebih dari 12.000 jamaah di dalam bangunan utamanya. Jika seluruh area kompleks digunakan, jumlah jamaah yang dapat hadir bisa mencapai lebih dari dua kali lipat kapasitas tersebut, terutama pada momen-momen ibadah besar.
Ukuran masjid yang sangat besar ini sering kali mengejutkan banyak orang, terutama karena lokasinya berada di Roma yang juga dikenal sebagai pusat Gereja Katolik dunia. Pada perayaan hari besar Islam seperti Idul Adha, puluhan ribu umat Muslim berkumpul di masjid ini untuk beribadah bersama. Skala bangunan dan aktivitasnya menunjukkan bahwa Great Mosque of Rome memiliki peran penting sebagai pusat keagamaan umat Muslim di Eropa Barat.
2. Dibangun dengan izin resmi Vatikan

Great Mosque of Rome dibangun melalui proses resmi yang melibatkan persetujuan otoritas Italia dan Vatikan. Rencana pembangunannya telah diajukan sejak tahun 1970-an dan disahkan pada masa Paus Paulus VI, yang dikenal mendorong keterbukaan dan dialog antaragama. Saat peresmian masjid pada tahun 1995, Paus Yohanes Paulus II secara terbuka menyebut masjid ini sebagai simbol kebebasan beragama yang ada di Roma.
Pengakuan tersebut menegaskan bahwa masjid ini tidak berdiri tanpa izin atau secara sepihak. Di tengah posisi Roma sebagai pusat Gereja Katolik dunia, pembangunan Great Mosque of Rome mencerminkan sikap penerimaan dan penghormatan terhadap keberagaman keyakinan. Hal inilah yang menjadikan masjid tersebut memiliki makna lebih luas dari sekadar tempat ibadah umat Muslim.
3. Dirancang untuk tidak mencolok

Great Mosque of Rome dirancang dengan pendekatan yang mempertimbangkan lingkungan kota di sekitarnya. Sejak tahap perencanaan, para arsitek menyadari bahwa masjid ini akan berdiri di kota dengan lanskap sejarah yang sangat kuat. Karena itu, desain masjid dibuat agar tidak terlihat dominan atau menonjol secara berlebihan, meskipun ukurannya sangat besar.
Salah satu penyesuaian penting terlihat pada tinggi menara masjid. Setelah melalui berbagai pertimbangan dan diskusi, tinggi menara akhirnya dibuat lebih rendah dari kubah Basilika Santo Petrus agar tidak mengubah siluet kota Roma. Keputusan ini mencerminkan upaya untuk menjaga keharmonisan visual kota sekaligus menunjukkan sikap saling menghormati dalam ruang publik yang memiliki nilai sejarah dan simbolik tinggi.
4. Arah kiblat memengaruhi tata bangunan kota

Pembangunan Great Mosque of Rome sempat menghadapi masalah penting terkait arah kiblat. Setelah proses konstruksi berjalan, ditemukan bahwa posisi bangunan belum tepat menghadap ke arah Mekkah. Kesalahan arah ini membuat pembangunan harus dihentikan sementara agar tata letak masjid bisa disesuaikan dengan ketentuan ibadah dalam Islam.
Penyesuaian arah kiblat tersebut berdampak langsung pada tata letak bangunan dan menambah biaya pembangunan. Di kota seperti Roma yang memiliki struktur ruang dan sejarah panjang, perubahan ini bukan perkara sederhana. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan masjid tidak hanya soal fungsi ibadah, tetapi juga bagaimana nilai keagamaan dapat memengaruhi perencanaan dan penataan ruang di tengah kota bersejarah.
5. Simbol koeksistensi, bukan sekadar tempat ibadah

Great Mosque of Rome berdiri di tengah kota yang selama berabad-abad dikenal sebagai pusat Kekristenan, dengan ratusan gereja dan warisan religius yang sangat kuat. Kehadirannya menunjukkan bahwa ruang kota Roma tidak hanya milik satu keyakinan, tetapi juga terbuka bagi keberagaman agama, meskipun pada awalnya pembangunan masjid ini sempat menimbulkan perdebatan.
Seiring waktu, masjid ini diterima sebagai bagian dari kehidupan kota dan menjadi simbol hidup berdampingan antarumat beragama. Keberadaannya tidak menggeser identitas Roma, melainkan memperlihatkan bagaimana perbedaan keyakinan dapat hadir dan berjalan berdampingan dalam satu ruang yang sama. Karena itu, Great Mosque of Rome dipandang bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga simbol koeksistensi di tengah masyarakat yang majemuk.
Sebagai masjid terbesar di Eropa Barat, Great Mosque of Rome menyimpan lebih dari sekadar ukuran dan kemegahan. Lima fakta tentang Great Mosque of Rome ini menunjukkan bagaimana sebuah masjid dapat berdiri dan berkembang di jantung kota Katolik tanpa kehilangan makna dan fungsinya. Di tengah perbedaan sejarah dan keyakinan, masjid ini menjadi contoh nyata bahwa keberagaman dapat hadir dan hidup berdampingan.


















