Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Tradisi Malam Lailatul Qadar di Indonesia, Warisan Budaya!

5 Tradisi Malam Lailatul Qadar di Indonesia, Warisan Budaya!
ilustrasi malam Lailatul Qadar (pexels.com/Waleed ilyas)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Malam Lailatul Qadar diyakini sebagai malam penuh kemuliaan di sepuluh hari terakhir Ramadan, mendorong umat Islam memperbanyak ibadah dan doa.
  • Beragam tradisi khas muncul di berbagai daerah Indonesia, seperti Selikuran, Damar Malam, Nujuh Likur, Kenduri, hingga Sanggring yang sarat makna kebersamaan.
  • Tradisi-tradisi tersebut menjadi warisan budaya yang memperkuat nilai spiritual dan solidaritas masyarakat dalam menyambut malam penuh berkah Ramadan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Malam Lailatul Qadar menjadi salah satu momen paling istimewa bagi umat Islam saat Ramadan. Malam ini diyakini memiliki keutamaan besar karena nilainya bahkan lebih baik dari seribu bulan. Karena itu, banyak umat Islam berlomba-lomba memperbanyak ibadah, doa, dan amalan baik pada malam-malam terakhir Ramadan.

Menariknya, cara masyarakat menyambut malam istimewa ini tidak hanya lewat ibadah di masjid. Di berbagai daerah di Indonesia, ada tradisi khas yang dilakukan secara turun-temurun, seperti Selikuran hingga Sanggring yang sarat makna kebersamaan. Yuk simak penjelasan lengkap berbagai tradisi malam Lailatul Qadar di Indonesia!

1. Selikuran

Tradisi Selikuran berasal dari budaya masyarakat Jawa dan biasanya dilakukan pada malam ke-21 Ramadan. Kata “selikuran” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti 21. Tradisi ini menjadi salah satu cara masyarakat menyambut datangnya10 malam terakhir Ramadan yang dipercaya penuh keutamaan, termasuk kemungkinan turunnya Lailatul Qadar.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat biasanya mengadakan doa bersama, tahlilan, hingga pawai obor pada malam hari. Di daerah seperti Yogyakarta dan Surakarta, Selikuran juga dilakukan oleh pihak keraton dengan prosesi khusus, seperti arak-arakan tumpeng dan pembagian nasi berkat kepada masyarakat. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus pengingat untuk meningkatkan ibadah di penghujung Ramadan.

2. Damar Malam

Di Cirebon, masyarakat memiliki tradisi Damar Malam yang dilakukan untuk menyambut datangnya Lailatul Qadar. Tradisi ini biasanya dilakukan setelah waktu Maghrib dengan menyalakan obor yang terbuat dari bilahan bambu yang dililit kain dan dicelupkan ke dalam malam atau bahan bakar.

Obor tersebut biasanya dimainkan oleh anak-anak dan remaja di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka. Selain menjadi kegiatan yang meriah, tradisi ini juga memiliki makna simbolis sebagai pengingat agar masyarakat lebih semangat beribadah pada malam-malam terakhir Ramadan.

3. Nujuh Likur

tradisi malam Lailatul Qadar
ilustrasi malam Lailatul Qadar (pexels.com/Yasir Gürbüz)

Tradisi Nujuh Likur atau Tujuh Likur banyak ditemukan di daerah yang memiliki budaya Melayu kuat, seperti di Sumatra dan Kalimantan. Istilah “nujuh likur” merujuk pada malam ke-27 Ramadan yang oleh sebagian masyarakat dipercaya sebagai waktu turunnya Lailatul Qadar.

Untuk menyambut malam tersebut, masyarakat biasanya menyalakan lampu atau penerangan tradisional di sekitar masjid, halaman rumah, hingga sepanjang jalan kampung. Cahaya lampu ini melambangkan harapan dan semangat masyarakat dalam menyambut malam yang penuh kemuliaan. Suasana kampung pun terlihat lebih meriah dan hangat karena dihiasi oleh berbagai lampu yang menyala.

4. Kenduri

Di berbagai daerah di Indonesia, malam-malam ganjil pada akhir Ramadan sering diisi dengan tradisi kenduri. Kenduri sendiri merupakan acara doa bersama yang biasanya disertai dengan makan bersama atau pembagian makanan sebagai bentuk syukur dan harapan akan keberkahan.

Pada momen ini, masyarakat berkumpul untuk membaca ayat suci Al-Qur’an, berzikir, dan memanjatkan doa agar diberikan kesempatan meraih Lailatul Qadar. Setelah doa selesai, makanan yang telah disiapkan biasanya dibagikan kepada peserta yang hadir. Selain mempererat kebersamaan, tradisi kenduri juga menjadi sarana memperkuat nilai spiritual di tengah masyarakat.

5. Sanggring

Sanggring merupakan tradisi khas masyarakat di Jawa yang biasanya dilakukan pada malam ke-23 Ramadan. Nama “Sanggring” sendiri berasal dari kata “sang” yang berarti raja dan “gering” yang berarti sakit. Tradisi ini berkaitan dengan kisah masa lalu ketika masyarakat mencari obat bagi seorang raja yang sakit.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat menyiapkan hidangan khas berupa kolak ayam, yaitu makanan berbahan ayam dan santan yang memiliki rasa manis dan gurih. Hidangan ini kemudian dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol kebersamaan sekaligus doa agar diberi kesehatan dan keberkahan pada malam-malam penuh kemuliaan Ramadan.

Tradisi malam Lailatul Qadar di Indonesia di atas menunjukkan setiap daerah memiliki cara khas menyambut malam penuh berkah ini. Selain menjadi warisan budaya, tradisi ini juga menguatkan kebersamaan warga. Kalau di tempat tinggalmu, apakah ada tradisi khusus untuk menyambut malam Lailatul Qadar?

FAQ seputar tradisi malam Lailatul Qadar di Indonesia

Mengapa masyarakat Indonesia memiliki tradisi menyambut Lailatul Qadar?

Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk syukur, doa, dan harapan agar mendapatkan keberkahan pada malam Lailatul Qadar.

Apa saja contoh tradisi malam Lailatul Qadar di Indonesia?

Beberapa contoh tradisi yang sering dilakukan antara lain Selikuran di Jawa, Nujuh Likur di daerah Melayu, Kenduri atau doa bersama, hingga tradisi menyalakan obor seperti Damar Malam.

Kapan biasanya tradisi malam Lailatul Qadar dilakukan?

Tradisi ini biasanya dilakukan pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil seperti malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29.

Referensi

"Tradisi Khas Malam Selikuran (21 Ramadhan) di Dusun Lumbu Desa Lumansari". Desa dan Kelurahan Kabupaten Kendal. Diakses Maret 2026.
"Memaknai Tradisi Nujuh Likur". Diskominfotik Kabupaten Bengkalis. Diakses Maret 2026.
"Kenduri Seni". Kecamatan Jebres. Diakses Maret 2026.
"Kolak Ayam (Sanggring)". Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Gresik. Diakses Maret 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Lea Lyliana
EditorLea Lyliana
Follow Us

Latest in Science

See More