5 Fakta Menarik Kowhai, Bunga Kuning Ikonik Endemik Selandia Baru

- Kōwhai adalah kelompok delapan spesies Sophora endemik Selandia Baru; Sophora microphylla paling luas tersebar di Pulau Utara dan Selatan.
- Bunga kuning berbentuk tabung ini menjadi ikon alam dan bunga nasional tidak resmi, mekar Juli–November, serta mampu tumbuh di beragam habitat.
- Nektar kōwhai mendukung burung asli seperti tūī dan kākā sekaligus penyerbukan, tetapi seluruh bagiannya beracun, terutama biji matang yang mengandung sitisin.
Saat musim semi tiba di Selandia Baru, hamparan bunga kuning yang bermekaran di pepohonan menjadi pemandangan yang sulit dilewatkan. Bunga-bunga tersebut berasal dari kōwhai, salah satu tumbuhan asli yang paling terkenal di negara itu. Tak hanya cantik dipandang, kōwhai juga memiliki peran penting bagi satwa liar dan ekosistemnya. Yuk, kenali lebih dekat pohon yang menjadi salah satu simbol alam Selandia Baru ini lewat lima faktanya berikut!
1. Tumbuhan endemik yang hanya dapat dijumpai di Selandia Baru

Kōwhai merupakan kelompok tumbuhan dalam genus Sophora yang seluruh spesiesnya bersifat endemik Selandia Baru. Mengutip dari laman Department of Conservation To Papa Atawhai, saat ini terdapat delapan spesies kōwhai yang telah diakui. Delapan spesies tersebut adalah Sophora chathamica, S. fulvida, S. godleyi, S. longicarinata, S. prostrata, S. microphylla, S. molloyi, dan S. tetraptera. Karena hanya tumbuh secara alami di negara tersebut, kōwhai menjadi salah satu kekayaan hayati yang sangat khas dari Selandia Baru.
Di antara semua spesies itu, Sophora microphylla merupakan yang paling luas persebarannya karena dapat ditemukan di Pulau Utara maupun Pulau Selatan. Sebaliknya, beberapa spesies hanya menghuni wilayah tertentu. Contohnya Sophora molloyi yang hanya ditemukan di beberapa pulau di Selat Cook dan pesisir selatan Wellington.
2. Dikenal sebagai bunga kuning ikonik Selandia Baru

Selain terkenal karena statusnya sebagai tumbuhan endemik, kōwhai juga menjadi salah satu ikon alam Selandia Baru. Pohon ini dikenal sebagai bunga nasional tidak resmi negara tersebut. Tumbuhan ini sering muncul dalam berbagai karya seni, perangko, hingga koin. Keindahan bunganya bahkan membuat kōwhai menjadi tanaman favorit di banyak taman rumah.
Bunga kōwhai berbentuk tabung dan tersusun dalam gugusan yang menggantung di ujung ranting. Melansir dari laman Zealandia Te Mara A Tane, bunga kowhai mulai bermekaran pada musim semi, umumnya antara Juli hingga November. Saat seluruh tajuk dipenuhi bunga, pohon ini tampak mencolok di tengah hijaunya hutan dan menjadi salah satu pemandangan alam paling khas di Selandia Baru.
3. Mampu tumbuh di berbagai jenis habitat

Bukan hanya indah, kōwhai juga dikenal sebagai pohon yang memiliki daya adaptasi tinggi. Tumbuhan ini dapat hidup di berbagai kondisi lingkungan, mulai dari hutan riparian di tepi sungai, dataran banjir, tepian danau, hingga lereng berbatu. Kemampuan beradaptasi tersebut membuat persebarannya cukup luas di berbagai wilayah Selandia Baru.
Selain itu, kōwhai juga dapat tumbuh di gumuk pasir, tebing pantai, teras sungai, dan kawasan semak di pedalaman. Meski beberapa spesies memiliki habitat yang lebih spesifik, secara umum kelompok tumbuhan ini mampu bertahan pada berbagai tipe lahan. Fleksibilitas inilah yang menjadikan kōwhai sebagai salah satu pohon asli yang berhasil menghuni beragam bentang alam Selandia Baru.
4. Jadi sumber nektar penting bagi burung endemik Selandia Baru

Keindahan bunga kōwhai ternyata membawa manfaat besar bagi satwa liar. Masih mengutip dari laman Zealandia Te Mara A Tane, bunga kowhai menghasilkan nektar melimpah. Nektar ini menjadi sumber makanan penting bagi berbagai burung asli Selandia Baru, seperti tūī, korimako, kākā, dan kererū. Ketika musim berbunga tiba, pohon ini menjadi salah satu tempat yang paling ramai dikunjungi burung.
Saat mengisap nektar, burung-burung tersebut sekaligus membantu proses penyerbukan bunga kōwhai. Bahkan, pohon yang sedang bermekaran sering kali dipenuhi suara kicauan burung tūī yang mempertahankan wilayah makannya dari burung lain. Hubungan saling menguntungkan ini membuat kōwhai memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan Selandia Baru.
5. Di balik keindahannya, tersimpan racun pada bijinya

Meski dikenal karena bunganya yang indah, kōwhai menyimpan sisi lain yang perlu diwaspadai. Dilansir Tangihua Lions Lodge, seluruh bagian tanaman ini bersifat beracun, terutama bijinya yang telah matang. Racun utamanya adalah sitisin, senyawa alkaloid yang dapat memengaruhi sistem saraf jika tertelan.
Untungnya, biji kōwhai memiliki kulit yang sangat keras sehingga tidak mudah menyebabkan keracunan apabila tertelan utuh. Namun, jika biji dikunyah atau dihancurkan sebelum dikonsumsi, racunnya lebih mudah terserap oleh tubuh. Keracunan dapat menimbulkan gejala seperti mual, muntah, jantung berdebar, otot berkedut, kehilangan koordinasi, hingga pada kasus yang berat menyebabkan kelumpuhan dan gangguan pernapasan.
Bunga kuning yang memesona membuat kōwhai mudah dikenali, tetapi daya tariknya ternyata tidak berhenti pada penampilannya saja. Pohon ini juga menjadi bagian penting dari keanekaragaman hayati Selandia Baru. Mulai dari menjadi rumah bagi satwa liar hingga memiliki nilai budaya yang tinggi bagi masyarakat Māori. Tak heran jika kōwhai tetap menjadi salah satu tumbuhan paling ikonik yang mencerminkan kekayaan alam negeri tersebut.


















![[QUIZ] Dari Jenis Lapisan Bumi yang Kamu Pilih, Ini Cara Kamu Menjaga Diri](https://image.idntimes.com/post/20250325/13374401-jgfm-ysyy-210214-2-2-097bb1575dfbb9113f53dc51ed222913-df58ad69c6b697331651bf8586f1a988.jpg)

