5 Fakta Pohon Sakura, Keindahan yang Menjadi Simbol Diplomasi Dunia

- Pohon sakura memiliki banyak varietas dengan waktu mekar berbeda, dari Someiyoshino yang populer hingga Fuyuzakura yang mekar di musim dingin, menciptakan keindahan khas di tiap wilayah Jepang.
- Masa mekarnya bunga sakura hanya berlangsung sekitar 7–10 hari dan menjadi momen penting bagi masyarakat Jepang untuk merayakan tradisi hanami sambil menjaga kelestarian alam sekitar.
- Sakura juga berperan sebagai simbol diplomasi dunia, seperti hadiah ribuan pohon dari Jepang ke Amerika Serikat tahun 1912 yang menandai persahabatan kedua negara melalui perayaan Cherry Blossom Festival.
Pohon sakura telah lama menjadi daya tarik dunia karena keindahan bunganya yang khas saat musim semi tiba. Meskipun sangat identik dengan Jepang, pohon ini sebenarnya tumbuh subur di wilayah beriklim sedang dengan empat musim, terutama di bagian belahan bumi utara. Saat ini, keindahan sakura tidak hanya bisa dinikmati di negara asalnya, tetapi juga di berbagai negara lain seperti Korea Selatan, Cina, Amerika Serikat, hingga beberapa wilayah di Eropa.
Namun, di balik warnanya yang cantik, pohon ini ternyata menyimpan banyak karakteristik unik yang jarang diketahui orang. Yuk, kita telusuri berbagai fakta menarik tentang pohon sakura dalam artikel berikut ini!
1. Varietasnya sangat beragam

Someiyoshino merupakan jenis sakura yang paling populer dan tersebar luas di Jepang saat ini, meskipun sebenarnya ia adalah hasil persilangan dari akhir zaman Edo. Sebelum jenis ini mendominasi, masyarakat lebih mengenal Yamazakura yang tumbuh alami di pegunungan, seperti di Pegunungan Yoshino, dengan perpaduan warna putih dan merah muda yang memukau. Selain itu, ada pula varietas Edohigan yang memiliki usia paling panjang di antara jenis lainnya dan sering kali memiliki bentuk ranting menjuntai yang indah, yang dikenal sebagai Shidarezakura.
Varietas sakura lainnya juga dibedakan berdasarkan waktu dan lokasi mekarnya. Hikanzakura adalah jenis yang menyukai cuaca lebih hangat, banyak ditemukan di Okinawa dan Tiongkok selatan, serta mekar lebih awal sekitar bulan Januari atau Februari. Di sisi lain, terdapat jenis unik bernama Fuyuzakura atau sakura musim dingin yang mekar di akhir tahun, yakni antara bulan November hingga Desember. Setiap jenis ini, mulai dari yang mekar di musim dingin hingga yang tumbuh di pegunungan, memberikan warna dan karakter yang berbeda bagi setiap wilayah di Jepang.
2. Mekar dalam waktu singkat

Masa mekar bunga sakura tergolong sangat singkat, yakni hanya sekitar 7 hingga 10 hari sejak kuncup terbuka hingga mulai rontok. Proses ini sangat dipengaruhi oleh cuaca, di mana hujan lebat dan angin kencang dapat mempercepat gugurnya kelopak. Di Jepang, perkembangan mekar ini dipantau melalui standar khusus, mulai dari tahap kuncup terbuka, mekar sebagian, hingga mekar sempurna seluruhnya.
Setelah mencapai puncaknya, kelopak yang rontok akan segera digantikan oleh tumbuhnya daun-daun muda. Pohon yang sudah kehilangan semua bunganya dan hanya menyisakan dedaunan disebut sebagai hazakura. Menariknya, setiap jenis memiliki karakteristik berbeda, misalnya jenis yamazakura yang mekar lebih lambat daripada someiyoshino dan uniknya mengeluarkan bunga bersamaan dengan tumbuhnya daun muda.
3. Keindahannya dapat dinikmati lewat tradisi hanami
Hanami atau ohanami merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Jepang untuk menikmati keindahan bunga sakura sebagai simbol datangnya musim semi. Tradisi ini biasanya dilakukan dengan cara piknik dan makan bersama di bawah pohon sakura, baik di taman umum maupun area pribadi. Bagi masyarakat setempat, momen ini adalah waktu yang tepat untuk merayakan kebahagiaan bersama keluarga dan teman-teman di tengah suasana alam yang cantik.
Dalam melakukan Hanami, terdapat tata krama penting yang harus dipatuhi untuk menjaga kelestarian alam. Pengunjung dilarang keras merusak pohon, seperti memetik bunga, menarik ranting, atau menginjak akar. Selain itu, kebersihan sangat diutamakan dengan kewajiban membawa pulang sampah masing-masing. Setiap taman juga memiliki aturan khusus yang harus diperhatikan, mulai dari larangan barbekyu, pembatasan minuman beralkohol, hingga aturan jam malam.
4. Bunga dan daunnya bisa dimakan

Pohon sakura khas Jepang umumnya merupakan jenis tanaman hias yang tidak menghasilkan buah. Meski begitu, bagian bunga dan daunnya dapat diolah menjadi bahan makanan melalui proses pengawetan dengan garam atau cuka. Bunga sakura yang telah diawetkan ini memiliki rasa bunga yang lembut dengan aroma yang menyerupai kacang almond. Salah satu hidangan populernya adalah Sakuramochi, yaitu kue beras ketan yang dibungkus daun sakura, serta Sakurayu, minuman teh yang dibuat dari seduhan bunga sakura yang telah diasinkan.
Penting untuk diingat bahwa bunga sakura sebaiknya tidak dikonsumsi secara mentah karena mengandung zat alami yang bisa berubah menjadi racun saat dicerna. Namun, kita dapat mengonsumsinya dengan aman dalam jumlah kecil jika sudah melalui proses pengawetan atau pengeringan, karena proses tersebut efektif mengurangi kadar zat berbahaya di dalamnya. Sebelum diolah, bunga yang diasinkan biasanya perlu direndam air terlebih dahulu untuk menetralkan rasa asin dan mengeluarkan aroma uniknya secara maksimal.
5. Simbol diplomasi
Pohon sakura sering kali dijadikan sarana diplomasi budaya untuk mempererat hubungan antarnegara dan melambangkan perdamaian dunia. Salah satu contoh besarnya terjadi pada tahun 1912, saat rakyat Jepang memberikan ribuan pohon sakura kepada Amerika Serikat sebagai hadiah persahabatan. Pemberian ini pun menjadi awal mula perayaan National Cherry Blossom Festival di Washington D.C. yang sangat populer hingga saat ini.
Sebagai bentuk rasa terima kasih atas kiriman bunga tersebut, Amerika Serikat membalas kebaikan Jepang pada tahun 1915. Mantan Presiden Taft mengirimkan hadiah berupa pohon Dogwood berbunga untuk ditanam di Jepang. Pertukaran pohon ini menjadi simbol harmonisnya hubungan diplomatik dan persahabatan yang terus tumbuh di antara kedua negara tersebut.
Pohon sakura bukan sekadar tanaman hias yang cantik, melainkan simbol kebersamaan dan pentingnya menghargai setiap momen yang berharga. Kehadirannya yang singkat setiap tahun mengingatkan kita untuk terus menjaga kelestarian alam agar keindahan ini tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.


















