Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Fakta Solitary Sandpiper, Burung yang Lebih Suka Bermigrasi Sendiri

5 Fakta Solitary Sandpiper, Burung yang Lebih Suka Bermigrasi Sendiri
Solitary Sandpiper (commons.wikimedia.org/Charles J. Sharp)
Intinya Sih
  • Solitary sandpiper adalah burung pantai berukuran sedang dari Amerika Utara yang hidup menyendiri dan bermigrasi hingga ke Amerika Selatan, sering ditemukan di rawa atau kolam air tawar.
  • Burung ini unik karena bertelur di sarang bekas burung lain di atas pohon boreal, bukan di tanah seperti kebanyakan burung pantai lainnya.
  • Saat migrasi dan mencari makan, solitary sandpiper bergerak sendirian, bersifat teritorial, serta menggunakan teknik menghentakkan kaki untuk memancing serangga keluar dari lumpur.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Solitary sandpiper (Tringa solitaria) adalah burung pantai berukuran sedang yang berkembang biak di kawasan hutan boreal Amerika Utara dan bermigrasi hingga Amerika Tengah serta Amerika Selatan. Spesies ini kerap ditemukan di sekitar kolam, rawa, sungai kecil, dan perairan dangkal yang menjadi tempatnya mencari makan selama masa migrasi maupun musim dingin.

Sesuai namanya, solitary sandpiper dikenal memiliki kebiasaan hidup yang lebih menyendiri dibandingkan banyak burung pantai lainnya. Burung ini sering terlihat sendirian saat mencari makan maupun bermigrasi, serta memiliki sejumlah perilaku unik yang membedakannya dari kerabat dekatnya. Yuk, simak lima fakta menarik seputar solitary sandpiper untuk mengenal lebih dekat burung pantai yang satu ini!

1. Keunikan lingkar mata putih yang mencolok

Solitary Sandpiper
Solitary Sandpiper (commons.wikimedia.org/Félix Uribe)

Solitary sandpiper memiliki penampilan rapi yang sangat khas dengan ukuran tubuh sedang berkisar antara 19 hingga 23 sentimeter. Dilansir laman BirdFact, ciri paling utama untuk mengenali burung ini di lapangan adalah keberadaan lingkaran putih tebal yang mengitari seluruh area matanya secara kontras. Bagian punggungnya didominasi warna cokelat zaitun gelap dengan taburan bintik-bintik putih, sedangkan area perutnya bersih berwarna putih tanpa corak.

Burung pantai ini juga memiliki kaki berwarna hijau zaitun hingga kuning kehijauan dengan paruh lurus yang tipis dan berwarna gelap. Saat terbang, mereka menunjukkan kombinasi bulu sayap bagian bawah yang sepenuhnya kehitaman serta ekor luar bergaris hitam-putih. Karakteristik fisik berupa sayap panjang yang ujungnya melewati batas ekor saat hinggap ini membedakannya secara instan dari spesies sandpiper lainnya.

2. Memilih rawa air tawar di dalam hutan

Solitary Sandpiper
Solitary Sandpiper (commons.wikimedia.org/Andrew Weitzel)

Ciri fisik tubuhnya yang anggun tersebut didukung oleh pemilihan lokasi tinggal yang sangat spesifik dan jauh dari keramaian pesisir. Masih dari laman BirdFact, solitary sandpiper merupakan jenis burung yang hampir sepenuhnya mengandalkan ekosistem air tawar pedalaman serta menghindari pantai pasang surut. Mereka sangat menyukai wilayah rawa gambut, kolam muskeg dangkal, hingga area bekas bendungan berang-berang yang dikelilingi hutan konifer boreal.

Sekitar 85 hingga 90 persen dari total populasi global spesies ini memilih kawasan hutan boreal Kanada sebagai tempat tinggal utama mereka. Selama periode migrasi, mereka dikenal sangat adaptif karena mau singgah di parit drainase, ladang tergenang, hingga genangan air hujan di perkotaan. Mereka lebih aktif mencari lahan basah kecil yang teduh dan terlindung oleh pepohonan dibandingkan area lumpur terbuka yang luas.

3. Bertelur di atas pepohonan boreal

Solitary Sandpiper
Solitary Sandpiper (commons.wikimedia.org/Paul Danese)

Setelah menempati kawasan hutan boreal yang teduh tersebut, mereka memulai siklus reproduksi dengan metode yang sangat tidak biasa di atas dahan. Masih dari laman BirdFact, solitary sandpiper memiliki kebiasaan langka berupa meletakkan telur mereka di dalam sarang pohon bekas milik burung kicau daripada membuat cekungan di tanah. Struktur sarang tua yang kokoh di atas pohon konifer boreal menjadi incaran utama mereka ketika musim kawin tiba.

Mereka memanfaatkan struktur sarang lama yang ditinggalkan oleh burung robin, rusty blackbird, canada jay, hingga cedar waxwing. Merujuk pada laman All About Birds, karena kebiasaan unik yang menyimpang dari pakem burung pantai ini, keberadaan sarang mereka sempat menjadi misteri besar bagi para ilmuwan selama 90 tahun. Sejak pertama kali dideskripsikan secara ilmiah pada tahun 1813, struktur sarang asli burung ini baru berhasil ditemukan oleh pengamat pada tahun 1903.

4. Migrasi secara mandiri tanpa kelompok

Solitary Sandpiper
Solitary Sandpiper (commons.wikimedia.org/Andrew Weitzel)

Sifat mandiri dalam mengasuh keturunan di atas pohon tersebut terus terbawa hingga mereka memasuki periode pergerakan musiman lintasan benua. Dilansir laman Audubon, solitary sandpiper merupakan burung migran jarak jauh yang menempuh perjalanan menuju wilayah musim dingin sendirian dan aktif pada malam hari. Area utama yang menjadi tujuan pergerakan musim dingin mereka adalah kawasan rawa-rawa serta tepian sungai di dalam Cekungan Amazon, Amerika Selatan.

Selama periode perpindahan ini berjalan, mereka menunjukkan watak yang sangat agresif dan memiliki toleransi yang rendah terhadap kehadiran sesamanya. Mereka tidak pernah terlihat bergerak dalam kelompok terbang raksasa dan memilih untuk mempertahankan teritori makannya secara mandiri di lokasi persinggahan. Jika ada individu lain yang mencoba mendekati area makannya, burung ini akan langsung melakukan tindakan pengusiran guna menjaga wilayah berburunya.

5. Menghentakkan kaki untuk memburu serangga

Solitary Sandpiper
Solitary Sandpiper (commons.wikimedia.org/Paul Danese)

Ketika berada di dalam area makan yang dijaganya tersebut, burung ini menerapkan metode berburu visual yang sangat taktis di air dangkal. Masih dari laman Audubon, mangsa utama dari burung ini adalah kelompok serangga air beserta larvanya, capung, kumbang, krustasea, hingga sesekali katak kecil. Mereka berjalan secara perlahan di atas lumpur atau dedaunan basah, lalu menangkap mangsa secara cepat menggunakan ujung paruhnya yang ramping.

Saat melakukan pencarian, mereka sering kali menghentikan langkah untuk menggetarkan salah satu kakinya di dalam air secara konstan. Gerakan mengaduk substrat lumpur ini difungsikan untuk mengejutkan makhluk-makhluk kecil yang bersembunyi di dasar agar bergerak keluar karena panik. Begitu hewan-hewan kecil tersebut bergerak menyelamatkan diri, solitary sandpiper akan langsung mematuknya dengan akurat di atas permukaan air.

Inilah lima fakta menarik mengenai solitary sandpiper yang menggambarkan betapa uniknya kehidupan seekor burung pantai penyendiri di alam liar. Seluruh kebiasaan khusus satwa ini, mulai dari lingkaran putih di matanya hingga cara berburu yang taktis, melengkapi pemahaman kita tentang indahnya variasi strategi bertahan hidup yang ada di alam.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna

Related Articles

See More