Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Spoleto, Kota di Atas Bukit dengan Pesona Abad Pertengahan
Kota Spoleto, Italia (commons.wikimedia.org/Anna Nicoletta Menzella)
  • Spoleto di Umbria, Italia Tengah, berkembang dari pemukiman prasejarah menjadi koloni Romawi penting dengan peran strategis dalam pertahanan wilayah dan peninggalan arsitektur kuno yang masih terjaga.
  • Kota ini pernah menahan serangan Hannibal pada Perang Punisia Kedua dan kemudian tumbuh sebagai pusat budaya serta politik penting selama masa Kekaisaran Romawi dan Kadipaten Lombard.
  • Di bawah kekuasaan Kepausan, Spoleto dibangun ulang dengan benteng Rocca Albornoziana dan Ponte delle Torri, menjadikannya simbol warisan sejarah panjang dari era kuno hingga abad pertengahan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Spoleto merupakan salah satu kota bersejarah di wilayah Umbria, Italia Tengah, yang dikenal karena posisinya di atas perbukitan. Dari kejauhan, kota ini menampilkan perpaduan benteng batu, menara kuno, dan bangunan bersejarah yang berdiri di antara lanskap hijau khas Italia tengah. Kawasan kota tuanya masih terjaga dengan baik sehingga suasana bersejarah tetap terasa di berbagai sudut kota.

Jejak permukiman di Spoleto telah ada sejak masa praromawi, sementara sebagian besar bangunan yang mendominasi kota saat ini berasal dari era abad pertengahan. Statusnya sebagai ibu kota Kadipaten Spoleto pada masa lalu turut meninggalkan sejumlah bangunan monumental yang masih menjadi bagian penting dari kota hingga sekarang. Berikut lima fakta menarik tentang Spoleto, kota di atas bukit yang kaya akan sejarah dan warisan arsitektur abad pertengahan.

1. Berawal dari pemukiman prasejarah yang berkembang menjadi koloni Romawi

Kota Spoleto, Italia (commons.wikimedia.org/Diego Baglieri)

Spoleto memiliki peran geopolitik yang sangat krusial dalam linimasa sejarah praroman karena letak geografisnya. Dilansir laman Trips2Italy, wilayah di kaki Gunung Monteluco ini telah dihuni oleh manusia sejak zaman prasejarah, yang dibuktikan lewat penemuan alat batu serta pemakaman kuno di sekitarnya. Memasuki abad ke-5 Sebelum Masehi, suku asli Umbria mulai membangun sistem pertahanan awal berupa dinding batu besar di atas perbukitan strategis ini.

Kepemilikan wilayah ini kemudian beralih ke tangan Republik Romawi pada tahun 241 Sebelum Masehi, yang mengubah namanya menjadi koloni Spoletium. Di bawah kendali Romawi, fungsi kota ini diperkuat sebagai pangkalan militer utama guna mengamankan jalur perbatasan di Italia Tengah. Berbagai penemuan artefak seperti bagian tiang perunggu dan barang pecah belah di Necropolis Piazza d'Armi mengindikasikan fase awal transisi kota ini menjadi pusat pertahanan yang penting.

2. Berhasil menahan serangan pasukan Hannibal pada Perang Punisia Kedua

Ilustrasi Hannibal, jenderal Kartago yang memimpin pasukan dalam Perang Punisia Kedua (commons.wikimedia.org/Bernardino Cesari)

Sistem pertahanan yang telah dibangun sejak masa koloni tersebut langsung menghadapi ujian besar dalam pertempuran regional. Masih dari laman Trips2Italy, ketangguhan Spoleto diuji secara ekstrem selama Perang Punisia Kedua pada tahun 217 Sebelum Masehi ketika jenderal besar Kartago, Hannibal, bergerak menyerbu kota setelah memenangkan pertempuran di Danau Trasimeno. Penduduk Spoletium melakukan perlawanan sengit hingga berhasil memukul mundur pasukan gajah Kartago.

Menurut catatan sejarah setempat, warga kota menahan laju tentara musuh dengan cara menyiramkan minyak mendidih dari atas menara tinggi yang kini dikenal sebagai Torre dell’Olio (Menara Minyak). Keberhasilan menggagalkan invasi Hannibal ini diabadikan dalam sebuah prasasti di Porta Romana. Kemenangan tersebut membuat posisi Spoleto semakin diperhitungkan oleh Roma, hingga akhirnya kota ini diberikan status hukum yang lebih tinggi sebagai "municipium" pada tahun 82 Sebelum Masehi setelah melewati periode perang saudara antara Marius dan Sulla.

3. Menyimpan berbagai peninggalan megah dari era Kekaisaran Romawi

Arkus Drusus, Kota Spoleto, Italia (commons.wikimedia.org/Gary Todd)

Setelah memperoleh status municipium, Spoleto terus berkembang di bawah kekuasaan Romawi. Masa tersebut meninggalkan berbagai bangunan publik yang masih bertahan hingga kini. Dilansir laman Britannica, salah satu peninggalan dari era kekaisaran dapat ditemukan pada Teater Romawi yang dibangun sekitar abad ke-1 Sebelum Masehi dengan barisan kursi batu yang mengikuti kemiringan alami bukit. Selain itu, terdapat gerbang kemenangan Arkus Drusus yang didirikan pada tahun 23 Masehi sebagai akses utama menuju area forum kota.

Kompleks pemukiman kuno ini juga dilengkapi dengan Domus Romana, sebuah rumah tinggal luas milik bangsawan yang diyakini sebagai tempat tinggal ibu dari Kaisar Vespasianus. Lantai rumah ini dilapisi oleh mosaik batu hitam dan putih berbentuk pola geometris yang rumit. Berjalannya waktu tidak merusak fasilitas tersebut karena bangunan seperti teater kuno berhasil diekskavasi dari timbunan tanah pada abad ke-20 untuk digunakan kembali sebagai ruang pertunjukan aktif.

4. Menjadi ibu kota Kadipaten Lombard yang berpengaruh di Italia Tengah

Basilica San Salvatore, Kota Spoleto, Italia (commons.wikimedia.org/Bpossum)

Kejayaan infrastruktur Romawi tersebut perlahan bergeser menjadi pusat kekuatan baru setelah runtuhnya kekaisaran barat. Dilansir laman Exploring Umbria, posisi Spoleto kembali meningkat drastis pada abad ke-6 setelah gelombang kedatangan bangsa Lombard yang mendirikan wilayah kekuasaan mandiri bernama Kadipaten Spoleto (Ducato di Spoleto). Di bawah kepemimpinan Adipati Faroald I, kota di atas bukit ini dipilih menjadi ibu kota yang mengendalikan wilayah pegunungan yang sangat luas di Italia Tengah.

Kedekatan geografis dengan wilayah kepausan membuat para adipati Spoleto mampu mempertahankan otonomi politik yang kuat dari pengaruh kerajaan luar. Kota ini mengalami perubahan arsitektur yang masif melalui pendirian gedung-gedung keagamaan yang memiliki hierarki gereja yang kuat, salah satunya adalah Basilica San Salvatore. Struktur kekuasaan independen ini bertahan selama dua abad sebelum akhirnya terintegrasi ke dalam Kekaisaran Romawi Suci setelah kekalahan bangsa Lombard oleh pasukan Franka pada tahun 774 Masehi.

5. Dibangun benteng besar pada masa Kekuasaan Kepausan

Rocca Albornoziana, Kota Spoleto, Italia (commons.wikimedia.org/Livioandronico2013)

Periode integrasi pasca-Lombard membawa dinamika baru yang melibatkan kehancuran fisik sekaligus rekonstruksi total wajah kota Spoleto. Masih dari laman Exploring Umbria, kota ini sempat dibakar oleh Kaisar Frederick Barbarossa pada tahun 1155 akibat konflik otonomi daerah sebelum akhirnya dianeksasi sepenuhnya secara permanen oleh Negara Kepausan pada tahun 1198. Kehadiran ordo keagamaan baru seperti Fransiskan dan Dominikan kemudian memicu pembangunan besar-besaran, termasuk katedral utama yang dihiasi mosaik karya Solsternus.

Untuk menegaskan kembali kekuasaan kepausan setelah periode konflik internal keluarga Guelf dan Ghibelline, Kardinal Albornoz memerintahkan pembangunan benteng raksasa Rocca Albornoziana pada abad ke-14 di puncak bukit Sant'Elia. Arsitek Gattapone memimpin proyek benteng bertembok tebal ini bersamaan dengan penyempurnaan Jembatan Menara (Ponte delle Torri) sebagai saluran air raksasa penyuplai logistik kota. Kompleks benteng inilah yang kemudian melindungi pusat kota tua Spoleto hingga wilayah tersebut bergabung dengan Kerajaan Italia yang bersatu pada tahun 1860.

Spoleto menjadi salah satu kota di Italia yang menyimpan lapisan sejarah panjang, mulai dari masa prasejarah, era Romawi, hingga abad pertengahan. Berbagai peninggalan yang masih berdiri hingga kini menjadi bagian penting dari identitas kota sekaligus pengingat akan perannya dalam berbagai periode sejarah di Italia Tengah. Keberadaan situs-situs bersejarah tersebut membuat Spoleto tetap dikenal sebagai salah satu kota bersejarah yang kaya akan warisan budaya dan arsitektur.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article