Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Whittier, Kota Unik di Alaska yang Hidup di Bawah Satu Atap!

5 Fakta Whittier, Kota Unik di Alaska yang Hidup di Bawah Satu Atap!
ilustrasi kota Whittier (commons.wikimedia.org/Laura_Alier)
Intinya Sih
  • Hampir seluruh warga Whittier, Alaska, tinggal di Begich Towers—gedung 14 lantai yang menampung fasilitas publik lengkap agar penduduk bisa beraktivitas tanpa harus keluar menghadapi cuaca ekstrem.
  • Awalnya dibangun tahun 1953 sebagai pangkalan militer bernama Hodge Building, gedung ini kemudian dialihfungsikan menjadi hunian sipil dan dinamai ulang untuk menghormati anggota kongres Nick Begich.
  • Kondisi geografis ekstrem membuat konsep kota satu atap jadi solusi efisien; akses darat hanya melalui terowongan tunggal sepanjang 2,5 mil yang menambah kesan isolasi sekaligus mempererat solidaritas komunitas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Whittier, sebuah kota kecil di Alaska, memiliki keunikan yang jarang ditemukan di belahan dunia mana pun. Hampir seluruh penduduknya tinggal dan beraktivitas di dalam satu gedung besar yang sama. Fenomena kota di bawah satu atap ini menjadi solusi praktis untuk bertahan hidup di tengah kondisi alam yang sangat menantang.

Kehidupan di Whittier mencerminkan adaptasi luar biasa manusia terhadap lingkungan ekstrem. Dari fasilitas publik hingga hunian pribadi, semuanya terintegrasi secara vertikal di dalam kompleks bangunan tunggal. Berikut adalah lima fakta unik mengenai kota Whittier yang menarik untuk kamu ketahui.

1. Begich towers adalah pusat segalanya

ilustrasi kota whittier
ilustrasi kota whittier (commons.wikimedia.org/Gillfoto)

Begich Towers merupakan sebuah gedung berlantai 14 yang menjadi jantung kehidupan bagi hampir seluruh warga Whittier. Di dalam gedung ini, penduduk dapat menemukan fasilitas publik yang lengkap seperti sekolah, klinik kesehatan, pasar swalayan, hingga gereja. Hal ini memungkinkan warga untuk menjalani rutinitas harian tanpa harus terpapar udara dingin yang membeku di luar ruangan.

Struktur bangunan ini dirancang untuk menjadi komunitas yang mandiri dan efisien secara fungsional. Dilansir Property Journal, model bangunan multifungsi seperti ini sangat efektif dalam meminimalkan penggunaan lahan serta meningkatkan efisiensi energi di wilayah dengan iklim yang keras. Integrasi berbagai layanan publik dalam satu atap menciptakan ekosistem sosial yang unik bagi para penghuninya.

2. Memiliki sejarah sebagai pangkalan militer

ilustrasi kota Whittier
ilustrasi kota Whittier (commons.wikimedia.org/Magnolia677)

Gedung yang kini dikenal sebagai Begich Towers awalnya bernama Hodge Building dan dibangun pada masa Perang Dingin oleh militer Amerika Serikat. Pembangunannya dimulai pada tahun 1953 sebagai markas bagi Korps Zeni Angkatan Darat (US Army Corps of Engineers). Pada masa itu, Whittier berfungsi sebagai pelabuhan logistik penting karena lokasinya yang strategis dan sulit dideteksi oleh musuh akibat faktor cuaca.

Selain Begich Towers, militer juga membangun Buckner Building yang memiliki konsep serupa namun kini sudah tidak beroperasi lagi. Dilansir All That's Interesting, setelah militer meninggalkan area tersebut pada tahun 1960, Hodge Building dialihfungsikan menjadi kondominium sipil. Nama gedung kemudian diubah pada tahun 1972 untuk menghormati Nick Begich, seorang anggota kongres asal Alaska yang hilang dalam kecelakaan pesawat.

3. Bentuk adaptasi terhadap iklim yang ekstrem

ilustrasi kota Whittier
ilustrasi kota Whittier (commons.wikimedia.org/Laura_Alier)

Kondisi geografis Whittier yang terletak di antara pegunungan tinggi dan laut menjadikannya salah satu tempat dengan curah hujan dan salju tertinggi di Alaska. Angin kencang yang bisa mencapai kecepatan luar biasa sering kali membuat aktivitas di luar ruangan menjadi sangat berbahaya. Oleh karena itu, tinggal di dalam satu gedung besar merupakan cara paling praktis untuk bertahan hidup di tengah musim dingin yang panjang.

Adaptasi arsitektural ini sangat krusial mengingat kerentanan wilayah Alaska terhadap peristiwa cuaca ekstrem. Menurut data State of Alaska Department of Transportation & Public Facilities, Whittier menerima rata-rata curah hujan tahunan sebesar 196 inci dan salju hingga 241 inci. Begich Towers sendiri memiliki celah khusus setebal tujuh hingga delapan inci untuk memungkinkannya bergoyang dengan aman saat terjadi angin kencang atau gempa bumi.

4. Akses masuk melalui terowongan terpanjang di Amerika Utara

ilustrasi terowongan kota  Whittier
ilustrasi terowongan kota Whittier (commons.wikimedia.org/Enrico_Blasutto)

Akses darat menuju Whittier sangat terbatas dan hanya bisa dilalui melalui Anton Anderson Memorial Tunnel. Dilansir Federal Highway Administration, terowongan sepanjang 2,5 mil ini merupakan terowongan gabungan antara rel kereta api dan jalan raya terpanjang di Amerika Utara. Karena hanya memiliki satu jalur, kendaraan yang masuk dan keluar harus bergantian sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan setiap jamnya.

Keunikan terowongan ini menambah kesan isolasi sekaligus keamanan bagi kota Whittier. Pada malam hari, terowongan akan ditutup sepenuhnya, sehingga kota ini benar-benar terputus dari dunia luar melalui jalur darat. Infrastruktur transportasi yang spesifik ini menunjukkan betapa menantangnya perencanaan konektivitas di wilayah dengan topografi yang ekstrem seperti Alaska.

5. Solidaritas komunitas yang sangat erat

ilustrasi warga kota whittier
ilustrasi warga kota whittier (commons.wikimedia.org/Orville G. Espolt)

Hidup bersama dalam satu bangunan menciptakan ikatan sosial yang sangat kuat di antara para penduduknya. Warga Whittier sering kali merasa seperti satu keluarga besar karena mereka terus bertemu di lorong gedung, lift, maupun fasilitas umum yang sama setiap harinya. Rasa saling memiliki ini menjadi kekuatan utama bagi penduduk dalam menghadapi isolasi geografis yang mereka alami.

Fenomena ini sering dijadikan objek studi mengenai bagaimana arsitektur dapat memperkuat kohesi sosial. Bangunan yang memusatkan sumber daya dan interaksi manusia di dalamnya terbukti mampu meningkatkan standar kualitas hidup meskipun berada di lingkungan yang tidak ramah. Whittier adalah contoh nyata bahwa keterbatasan fisik lingkungan justru dapat melahirkan inovasi sosial yang luar biasa dalam bentuk komunitas satu atap.

Whittier membuktikan bahwa manusia selalu memiliki cara yang kreatif untuk beradaptasi dengan alam, bahkan di tempat yang paling ekstrem sekalipun. Keunikan kota satu atap ini tetap menjadi salah satu keajaiban urban yang paling menarik untuk dipelajari hingga saat ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More