Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Hewan dengan Metode Komunikasi Ultrasonik yang Tak Pernah Disadari

Kelelawar
Kelelawar (unsplash.com/Nils Bouillard)
Intinya sih...
  • Kelelawar menggunakan suara ultrasonik untuk bergerak dan mencari makanan, serta berkomunikasi dengan sesamanya.
  • Ngengat menghasilkan suara ultrasonik sebagai pertahanan diri dari serangan kelelawar, sekaligus mengacaukan sistem sonar kelelawar.
  • Lumba-lumba, paus bergigi, tikus, dan tikus percobaan juga menggunakan suara ultrasonik untuk berkomunikasi dan bertahan hidup.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di dunia hewan terdapat bentuk komunikasi yang tidak dapat didengar manusia karena menggunakan frekuensi di atas batas pendengaran kita. Banyak spesies memanfaatkan suara ultrasonik untuk berkoordinasi, mencari makanan, memberi peringatan bahaya, hingga berinteraksi sosial tanpa terdeteksi predator atau pesaing.

Memahami komunikasi ini membantu menjelaskan perilaku dan ekologi hewan yang hidup berdampingan dengan manusia. Perkembangan teknologi seperti perekam ultrasonik dan kecerdasan buatan kini memungkinkan manusia mengamati dunia suara yang sebelumnya tidak terdengar. Berikut adalah lima hewan dengan metode komunikasi ultrasonik yang tak pernah disadari.

1. Kelelawar

Kelelawar
Kelelawar (unsplash.com/James Wainscoat)

Kelelawar menggunakan suara ultrasonik untuk membantu mereka bergerak dan mencari makanan. Mereka mengeluarkan bunyi berfrekuensi tinggi lalu mendengarkan pantulan suara tersebut dari benda di sekitarnya. Cara ini membuat kelelawar dapat mengetahui posisi serangga dan lingkungan meskipun berada dalam kondisi gelap.

Selain untuk bernavigasi, suara ultrasonik juga digunakan kelelawar untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Setiap jenis suara memiliki fungsi yang berbeda tergantung situasi yang dihadapi. Melalui suara tersebut, kelelawar dapat mengenali individu lain dan menjaga keteraturan di dalam kelompok.

2. Ngengat

Ngengat
Ngengat (unsplash.com/Mikkel Frimer-Rasmussen)

Beberapa ngengat mampu menghasilkan suara ultrasonik sebagai bentuk pertahanan diri dari serangan kelelawar. Bunyi ini berfungsi sebagai peringatan bahwa ngengat bersifat beracun, sekaligus dapat mengacaukan sistem sonar kelelawar sehingga serangan sering kali gagal.

Kemampuan tersebut muncul dari proses evolusi yang berlangsung lama antara predator dan mangsa pada malam hari. Hasil pengamatan dan percobaan menunjukkan bahwa suara ultrasonik ini dimiliki oleh banyak jenis ngengat dan digunakan untuk tujuan yang berbeda-beda.

3. Lumba lumba dan paus bergigi

Lumba lumba
Lumba lumba (unsplash.com/TJ Fitzsimmons)

Di laut, lumba lumba dan paus bergigi menggunakan klik ultrasonik untuk mengenali lingkungan dan berkomunikasi dari jarak jauh. Suara ini membantu mereka menemukan ikan atau cumi cumi, terutama di perairan yang gelap atau dalam. Klik tersebut juga digunakan untuk saling memberi sinyal saat beraktivitas bersama.

Proyek pemetaan vokal paus berbasis kecerdasan buatan menemukan adanya pola berulang dalam klik dan urutan panggilan. Pola ini diduga memiliki struktur tertentu yang menyerupai unit dasar bahasa. Para peneliti berharap temuan ini dapat membuka pemahaman baru tentang fungsi sosial dan makna komunikasi pada paus bergigi.

4. Tikus

Tikus
Tikus (unsplash.com/Joshua J. Cotten)

Tikus dan tikus rumah diketahui mengeluarkan panggilan ultrasonik dalam berbagai konteks sosial, seperti saat bermain, kawin, maupun ketika menarik perhatian induknya. Jenis suara ini kerap dikaitkan dengan ekspresi emosi tertentu, baik emosi positif maupun sinyal peringatan, yang dibedakan berdasarkan frekuensi dan durasi bunyinya.

Berbagai studi perilaku memanfaatkan perekam ultrasonik pada hewan percobaan dan di alam untuk menghubungkan pola panggilan dengan situasi sosial yang terjadi. Hasil penelitian tersebut berperan penting dalam meningkatkan pemahaman tentang kesejahteraan hewan.

5. Tikus percobaan atau house mice

Tikus percobaan
Tikus percobaan (unsplash.com/Kong Jun)

Tikus percobaan menghasilkan squeak ultrasonik yang membawa beragam informasi. Perubahan pada kondisi biologis tertentu dapat memengaruhi pola dan karakter suara yang mereka keluarkan. Rekaman suara menunjukkan bahwa komunikasi ultrasonik pada tikus memiliki susunan yang lebih terstruktur dan kompleks daripada yang selama ini diperkirakan.

Pemahaman terhadap vocalisasi ultrasonik pada tikus penting untuk mengkaji bahasa, perkembangan saraf, dan gangguan komunikasi. Karena tikus sering digunakan sebagai model biomedis, pemetaan cara mereka berkomunikasi membantu peneliti memahami hasil eksperimen secara lebih tepat dan menyeluruh.

Komunikasi ultrasonik merupakan bentuk sinyal penting yang digunakan banyak hewan, mulai dari kelelawar dan ngengat hingga mamalia laut dan hewan pengerat kecil. Memahami suara di luar jangkauan pendengaran manusia membantu melihat cara hewan berinteraksi, bertahan hidup, dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More

Kenapa Sampah Tidak Dibuang ke Ruang Angkasa? Ini Alasannya!

29 Jan 2026, 16:10 WIBScience