Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Fakta The Starry Night, Lukisan Malam karya Vincent van Gogh

Lukisan cat minyak terkenal karya pelukis Pasca-Impresionis Belanda, Vincent van Gogh.
Lukisan cat minyak terkenal karya pelukis Pasca-Impresionis Belanda, Vincent van Gogh. (commons.wikimedia.org/Ismoon)
Intinya sih...
  • Lukisan "The Starry Night" adalah mahakarya Vincent van Gogh yang menggambarkan pemandangan langit malam di atas desa pada Juni 1889.
  • Van Gogh menggunakan teknik impasto untuk menciptakan tekstur tiga dimensi dan warna-warna tajam sebagai ekspresi emosinya.
  • Lukisan ini mengandung fenomena fisika rumit yang baru bisa dibuktikan oleh sains modern puluhan tahun kemudian.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Lukisan bukan sekadar goresan warna di atas kanvas, melainkan jendela menuju pikiran terdalam sang seniman. Salah satu mahakarya paling ikonik yang terus memukau dunia adalah “The Starry Night”, sebuah lukisan minyak ekspresif karya Vincent van Gogh.

Vincent Willem van Gogh adalah pelukis pasca-impresionis asal Belanda yang menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah seni Barat berkat gaya lukisannya yang menggunakan warna tebal serta goresan kuas yang ekspresif. Meski sempat mencoba berbagai profesi seperti pedagang seni hingga misionaris, ia baru mulai melukis pada tahun 1881 dengan dukungan penuh dari adiknya, Theo, dan berhasil menciptakan sekitar 2.100 karya seni hanya dalam waktu sepuluh tahun. Perjalanan artistiknya berkembang pesat mulai dari lukisan buruh tani yang gelap hingga bertransformasi menjadi karya-karya cerah yang penuh warna, seperti seri bunga matahari dan bentang alam Prancis Selatan, yang sebagian besar justru ia selesaikan di dua tahun terakhir masa hidupnya.

Namun, di balik sapuan kuas “The Starry Night” yang tampak emosional, tersembunyi ketelitian astronomi dan pola fisika rumit yang baru bisa dibuktikan oleh sains modern puluhan tahun kemudian. Lantas, rahasia alam apa yang sebenarnya berhasil ditangkap oleh Van Gogh? Mari kita telusuri jawabannya dalam artikel berikut ini!

1. Lukisan pemandangan langit malam karya Vincent van Gogh yang dibuat pada Juni 1889

Lukisan Potret Diri sebagai Seniman karya pelukis Post-Impresionis Belanda, Vincent van Gogh.
Lukisan Potret Diri sebagai Seniman karya pelukis Post-Impresionis Belanda, Vincent van Gogh. (commons.wikimedia.org/GoldenArtists)

“The Starry Night” atau "Malam Berbintang" adalah lukisan mahakarya Vincent van Gogh yang dibuat pada Juni 1889. Lukisan ini menggambarkan pemandangan langit malam yang sangat ekspresif di atas sebuah desa di lereng bukit. Menariknya, Van Gogh melukis karya ini saat ia sedang menjalani perawatan selama satu tahun di rumah sakit jiwa Saint-Paul-de-Mausole, Prancis. Ia terinspirasi dari pemandangan jendela kamarnya yang menghadap ke arah timur, tepat sesaat sebelum matahari terbit.

Karena keterbatasan ruang gerak di rumah sakit jiwa, Van Gogh menciptakan lukisan ini berdasarkan campuran antara ingatan, sketsa, dan imajinasinya. Hasilnya adalah sebuah lanskap abstrak yang hidup, dengan ciri khas langit biru yang berputar-putar, bulan sabit yang cerah, dan bintang-bintang yang tampak seperti bola cahaya berpijar. Selain langit yang dramatis, lukisan ini juga menampilkan sosok pohon cemara yang menjulang tinggi serta suasana desa yang tenang di kejauhan, sehingga menciptakan perpaduan emosi yang luar biasa indah.

2. Dilukis dengan teknik impasto

Detail dari lukisan minyak terkenal The Starry Night karya seniman pasca-impresionis Belanda, Vincent van Gogh.
Detail dari lukisan minyak terkenal The Starry Night karya seniman pasca-impresionis Belanda, Vincent van Gogh. (commons.wikimedia.org/Cathrotterdam)

Vincent van Gogh menciptakan “The Starry Night” dengan teknik impasto, yaitu mengaplikasikan cat minyak secara sangat tebal hingga menonjol dari permukaan kanvas. Teknik ini menciptakan tekstur tiga dimensi yang membuat lukisan tampak hidup dan memiliki energi nyata. Dengan sapuan kuas pendek yang melingkar dan berirama, ia menggambarkan langit biru tua yang berputar-putar kontras dengan bintang-bintang kuning cerah yang berpijar. Baginya, penggunaan warna-warna tajam seperti biru dan kuning bukan sekadar hiasan, melainkan cara untuk menunjukkan perasaan terdalamnya.

Bagi Van Gogh, warna dan teknik melukis adalah bahasa untuk menyampaikan emosi. Warna biru yang gelap mencerminkan kesepian yang sering ia rasakan, sedangkan warna kuning terang pada bulan dan bintang mewakili secercah harapan di tengah kegelapan. Melalui perpaduan antara kontras warna yang kuat dan tekstur cat yang kasar, ia berhasil mengubah pemandangan alam menjadi sebuah karya yang emosional. Hasilnya, bintang-bintang dalam lukisan tersebut tidak hanya terlihat seperti titik cahaya, tetapi tampak seperti bola api yang bergerak dan membawa penonton masuk ke dalam dunia batin sang seniman.

3. Ada fenomena fisika di balik pola pusaran

Pusaran dalam lukisan The Starry Night karya Vincent van Gogh secara luas dianggap menggambarkan turbulensi udara.
Pusaran dalam lukisan The Starry Night karya Vincent van Gogh secara luas dianggap menggambarkan turbulensi udara. (commons.wikimedia.org/Cathrotterdam)

Dilansir National Geographic, sebuah penelitian ilmiah mengungkap bahwa Vincent van Gogh memiliki kemampuan unik untuk menangkap fenomena fisika rumit yang disebut "turbulensi fluida" ke dalam lukisannya, seperti “The Starry Night”. Pola pusaran yang ia lukis ternyata sangat akurat secara matematis menurut teori Andrey Kolmogorov, seorang ahli matematika yang baru merumuskan konsep tersebut puluhan tahun setelah Van Gogh wafat. Fenomena ini biasanya ditemukan pada aliran alam yang kacau tetapi berpola, seperti kepulan asap cerobong atau aliran air sungai yang terganggu. Menariknya, pola presisi ini hanya muncul pada lukisan yang dibuat saat Van Gogh mengalami gejolak psikologis yang hebat, sementara pada karya yang lebih tenang, pola tersebut tidak ditemukan.

Para ilmuwan menyimpulkan bahwa gangguan kejiwaan yang diderita Van Gogh kemungkinan memberinya cara pandang "supernatural" untuk melihat rahasia alam yang sulit dipahami manusia biasa. Ia mampu menyatukan emosi jiwanya dengan misteri pergerakan cahaya dan cairan, menciptakan kaskade energi dalam bentuk visual yang sangat akurat secara sains. Hingga saat ini, turbulensi masih menjadi salah satu masalah tersulit dalam dunia fisika, tetapi Van Gogh secara ajaib berhasil menggambarkannya jauh sebelum sains modern mampu menjelaskannya lewat rumus matematika.

4. Objek terang di bagian tengah kiri lukisan diyakini sebagai planet Venus

Objek terang di bagian tengah kiri lukisan The Starry Night tersebut diyakini sebagai planet Venus.
Objek terang di bagian tengah kiri lukisan The Starry Night tersebut diyakini sebagai planet Venus. (commons.wikimedia.org/Cathrotterdam)

Penelitian astronomi membuktikan bahwa lukisan “The Starry Night” memiliki tingkat akurasi langit yang luar biasa. Dilansir ArtMajeur, sejarawan seni Albert Boime dan astronom Charles Whitney mengonfirmasi bahwa "bintang pagi" putih terang yang dilukis Van Gogh di sebelah pohon cemara sebenarnya adalah planet Venus, yang memang bersinar sangat cerah di langit Prancis pada Juni 1889. Selain itu, pola pusaran besar di tengah langit diduga terinspirasi dari gambar nebula atau galaksi spiral yang populer dalam publikasi ilmiah masa itu. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sedang berjuang dengan kesehatan mentalnya, Van Gogh tetap memiliki ketertarikan besar pada kemajuan ilmu astronomi.

Namun, tidak semua elemen dalam lukisan ini nyata secara posisi. Sementara posisi planet Venus sangat akurat, bentuk bulan sabit yang dilukis Van Gogh sebenarnya bersifat gaya seni saja, karena catatan sejarah menunjukkan bahwa bulan saat itu seharusnya berbentuk cembung. Dengan demikian, mahakarya ini merupakan perpaduan unik antara pengamatan sains yang presisi dengan imajinasi dan perasaan pribadi sang seniman.

5. Rahasia di balik pohon cemara: Benarkah hanya simbol duka?

Lukisan cat minyak terkenal karya Vincent van Gogh, The Starry Night , yang dipamerkan di Museum of Modern Art (MoMA) di Kota New York.
Lukisan cat minyak terkenal karya Vincent van Gogh, The Starry Night , yang dipamerkan di Museum of Modern Art (MoMA) di Kota New York. (commons.wikimedia.org/Andrew Milligan sumo)

ArtMajeur juga mengatakan bahwa ahli seni memiliki berbagai pandangan mengenai keberadaan pohon cemara dalam lukisan “The Starry Night”. Secara tradisional di budaya Eropa dan Mediterania, pohon cemara memang sering dikaitkan dengan simbol kematian atau pemakaman. Namun, ada perdebatan apakah Van Gogh sengaja menggunakan simbol tersebut atau hanya sekadar mengagumi bentuk fisiknya saja. Beberapa sejarawan melihat pohon ini sebagai "obelisk alam" yang berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan bumi dengan langit, menggambarkan perjuangan manusia atau pencarian Van Gogh terhadap sesuatu yang tak terbatas di luar dunia ini.

Selain maknanya, para peneliti juga berbeda pendapat mengenai apakah pohon cemara tersebut benar-benar terlihat dari jendela kamar Van Gogh. Sebagian ahli menganggap pohon tersebut, beserta desa dan pusaran langit, adalah murni hasil imajinasi dan abstraksi Van Gogh yang tidak terlihat dari posisinya saat itu. Namun, peneliti lain berpendapat bahwa pohon cemara memang ada di sana, hanya saja Van Gogh memadatkan dan mengubah posisinya untuk meningkatkan keindahan pemandangan.

6. Dulu dianggap kegagalan, kini jadi mahakarya yang tak ternilai

Momen kerumunan orang berkumpul di depan lukisan terkenal Vincent van Gogh, The Starry Night , di Museum of Modern Art (MoMA) di New York City.
Momen kerumunan orang berkumpul di depan lukisan terkenal Vincent van Gogh, The Starry Night , di Museum of Modern Art (MoMA) di New York City. (commons.wikimedia.org/Rickmouser45)

Meskipun kini menjadi salah satu karya seni paling terkenal di dunia, Vincent van Gogh secara pribadi menganggap “The Starry Night” sebagai sebuah kegagalan. Ia merasa bimbang karena melukisnya berdasarkan imajinasi, bukan pengamatan langsung seperti kebiasaannya. Bahkan saudaranya, Theo, sempat mengkritik bahwa lukisan tersebut terlalu mengutamakan gaya artistik daripada isi atau substansinya. Ironisnya, mahakarya ini dibuat hanya setahun sebelum Van Gogh mengakhiri hidupnya, sekaligus menandai akhir dari karier singkatnya yang hanya berlangsung selama sepuluh tahun tetapi sangat produktif.

Popularitas lukisan ini baru meledak jauh setelah kematiannya, terutama setelah Museum of Modern Art (MoMA) di New York membelinya dari seorang kolektor pribadi pada tahun 1941. Saat pertama kali dibeli, lukisan ini belum dikenal luas oleh publik. Namun seiring berjalannya waktu, pandangan dunia berubah total, dan “The Starry Night” bertransformasi dari sebuah karya yang dianggap gagal oleh penciptanya menjadi salah satu lukisan paling ikonik dan diakui sepanjang sejarah seni rupa dunia.

Sejatinya, “The Starry Night” bukan sekadar curahan emosi seorang seniman, melainkan sebuah simfoni luar biasa yang menyatukan seni, astronomi presisi, dan intuisi fisika yang melampaui zamannya. Melalui teknik warna dan sapuan kuas yang cerdas, Van Gogh berhasil "menipu" sistem saraf penglihatan kita untuk merasakan energi yang terus bergerak di atas kanvas mati. Meskipun ia wafat dengan perasaan bahwa karyanya gagal, sains modern justru membuktikan kejeniusannya dalam menangkap rahasia alam paling rumit, sehingga menjadi bukti abadi bahwa perspektif unik seorang seniman mampu menyingkap keajaiban semesta yang tidak terlihat oleh mata manusia biasa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More

[QUIZ] Jika Reinkarnasi Itu Nyata, Jadi Hewan Apa Kamu di Kehidupan Selanjutnya?

29 Jan 2026, 14:43 WIBScience