Bayangkan ada sebuah wilayah yang punya presiden, konstitusi, mata uang, pemilu, dan tentara sendiri, tapi tidak diakui sebagai negara oleh dunia. Itulah Somaliland. Secara hukum internasional, ia masih dianggap bagian dari Somalia. Namun secara praktik, selama lebih dari 30 tahun terakhir, Somaliland berdiri dan mengelola dirinya sendiri. Berikut tujuh fakta yang membuat kisahnya begitu unik.
7 Fakta Somaliland, Negara Utuh yang Belum Diakui Dunia

1. Berawal dari protektorat Inggris
Wilayah ini dulu bernama British Somaliland, protektorat Inggris sejak akhir abad ke-19. Pada 26 Juni 1960, ia resmi merdeka dari Inggris. Tapi kemerdekaan itu hanya bertahan lima hari. Pada 1 Juli 1960, wilayah ini memilih bergabung dengan bekas koloni Italia di Selatan untuk membentuk Republik Somalia. Semangat persatuan saat itu begitu kuat, meski sejarah kemudian menunjukkan bahwa penyatuan ini tidak berjalan tanpa masalah.
2. Bangkit di tengah keruntuhan tahun 1991
Hubungan Utara dan Selatan memburuk, terutama pada masa pemerintahan Siad Barre. Ketika rezimnya runtuh dan Somalia jatuh ke dalam perang saudara, wilayah Utara mengambil keputusan besar. Pada 18 Mei 1991, mereka mendeklarasikan kembali kemerdekaan. Di saat negara induknya kolaps, Somaliland justru memilih membangun ulang dari nol. Momen ini menjadi fondasi politik yang mereka pegang hingga hari ini.
3. Negara tanpa pengakuan resmi
Secara teori hubungan internasional, Somaliland memenuhi banyak unsur negara: wilayah yang jelas, penduduk tetap, dan pemerintahan efektif. Namun menurut laporan BBC dan Council on Foreign Relations (CFR), dunia internasional tetap menganggapnya bagian dari Somalia. Artinya, tidak ada kursi di PBB, tidak ada pengakuan diplomatik resmi, dan akses ke lembaga keuangan global sangat terbatas. Statusnya sering disebut sebagai negara de facto. Berfungsi, tetapi belum disahkan.
4. Membangun kestabilan melalui musyawarah adat
Yang membuat Somaliland menonjol adalah cara mereka membangun stabilitas. Setelah 1991, rekonsiliasi dilakukan melalui konferensi klan dan tokoh adat. World Economic Forum menyoroti pendekatan berbasis komunitas ini sebagai kunci perdamaian mereka. Mekanisme tradisional dipadukan dengan pembentukan institusi modern. Alih-alih menunggu solusi dari luar, mereka merumuskan kesepakatan dari dalam. Hasilnya, stabilitas relatif yang kontras dengan situasi di banyak wilayah Somalia lainnya.
5. Pemerintahan presidensial dan pemilu multipartai
Sepuluh tahun setelah deklarasi kemerdekaan, Somaliland menggelar referendum konstitusi pada 2001. Mayoritas pemilih menyetujui konstitusi tersebut. Dokumen ini menegaskan sistem pemerintahan presidensial dan pemilu multipartai. Referendum itu juga mempertegas sikap politik mereka sebagai entitas terpisah dari Somalia. Meski tidak mengubah status internasionalnya, proses ini menunjukkan legitimasi domestik yang nyata.
6. Punya ibu kota dan mata uang sendiri
Dari Hargeisa, pemerintahan Somaliland dijalankan secara penuh. Mereka memiliki mata uang sendiri, Somaliland shilling, serta mengelola pajak, anggaran, dan aparat keamanan secara mandiri. Secara administratif, struktur negara berjalan sebagaimana mestinya. Tantangannya bukan pada tata kelola internal, melainkan pada pengakuan eksternal. Meski tanpa stempel dunia, sistemnya tetap berfungsi.
7. Memiliki pelabuhan strategis dunia
Di pesisir Teluk Aden berdiri pelabuhan Berbera. Letaknya strategis di jalur perdagangan yang menghubungkan Laut Merah dan Samudra Hindia. Menurut CFR, posisi ini memberi nilai ekonomi dan geopolitik yang signifikan. Pelabuhan ini menjadi tulang punggung perdagangan Somaliland. Dalam geopolitik kawasan, lokasi sering kali adalah segalanya dan Berbera adalah kartu kuat mereka.
Somaliland bak paradoks: stabil, terorganisir, dan relatif damai, namun belum diakui secara resmi sebagai negara. Ia berdiri di antara sejarah kolonial, perang saudara, dan diplomasi global yang rumit. Dunia mungkin belum memberi pengakuan formal. Tapi selama lebih dari tiga dekade, Somaliland sudah membuktikan bahwa mereka dapat berjalan dengan aturan yang mereka bangun sendiri.