9 Keunggulan yang Bisa Dimiliki Penderita Gangguan Mental

Penyakit mental atau gangguan kesehatan mental memiliki banyak stigma negatif yang terkait erat dengannya. Kebanyakan, penderita akan dikucilkan, alih-alih di support. Seratus tahun yang lalu, penyakit mental ini bahkan sangat dibenci dan disalahartikan oleh masyarakat. Mereka bahkan diperlakukan secara buruk.
Akan tetapi, tahukah kamu jika penyakit mental ini justru memberikan kekuatan super bagi penderitanya, yang mungkin tidak dapat dirasakan oleh manusia normal. Nah, apa saja, ya, itu?
1. Gangguan kepribadian ganda dapat menipu otak hingga tidak dapat merasakan rasa sakit

Kepribadian ganda (DID) sering sekali dikisahkan dalam film dan televisi. Orang dengan kepribadian ganda biasanya akan menutupi pengalaman dan trauma buruk dengan mengubah identitasnya.
Psikolog menganggap fenomena ini sebagai keterampilan seseorang dalam mengatasi sesuatu. Misalkan ketika si A berubah menjadi si B, hal ini dilakukan untuk menghindari rasa sakit emosional yang pernah dialami si A. Namun, DID masih dikategorikan sebagai penyakit jiwa, karena mereka memakai identitas beberapa orang sekaligus, dan bahkan adanya melakukan tindakan kekerasan dengan kepribadian gandanya tersebut.
Saat penderita DID kembali ke kepribadian aslinya, mereka tidak mengingat apa pun selama menjadi kepribadian lain. Selain itu, DID juga dapat meredam rasa sakit secara fisik. Jadi, disinilah kelebihan penderita kepribadian ganda.
2. Penderita OCD memiliki ingatan super

Sebuah studi dari Journal of Psychiatric research yang diterbitakan tahun 2006 mencatat hubungan antara pasien dengan kecemasan, melalui tugas menghafal kata. Peserta diberi 320 kata, ditambah 140 kata asing. Dari 280 kata yang diulang, kelompok OCD dapat mengingat semua kata lebih cepat dan lebih akurat.
Selain menimbun barang, penderita OCD juga melakukan "penimbunan memori", dan ini dialami hampir sebagian besar pasien OCD. Hal ini terjadi secara kompulsif, pengidap OCD dapat memberikan perhatian ekstra pada detail spesifik dari ingatan mereka.
Saat menganalisis otak pasien OCD, ahli saraf menemukan adanya pembesaran di area otak, ini membuat penderita OCD mengingat secara detail tentang peristiwa masa lalu. Menurut penelitian di Irvine University, pasien dengan OCD memiliki kemampuan mendalam untuk mengingat informasi di luar kemampuan otak rata-rata orang normal.
3. ADHD membuat seseorang menjadi jenius kreatif

Impulsivitas yang melekat pada gejala attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) sebenarnya dapat membuat si penderita suka mengambil risiko dan melihat sesuatu dari sudut pandang baru. Otak ADHD selalu menemukan solusi kreatif, menurut sebuah penelitian di Dublin's Trinity College.
ADHD selalu dikaitkan dengan orang yang tidak bisa diam dan sulit fokus, namun ada alasan positifnya, lho. Otak ADHD tidak dapat fokus dengan hal-hal yang tidak menarik, dan sebagai gantinya, mereka bisa bekerja tanpa lelah dan justru hiperfokus pada hal-hal yang menarik.
Secara historis, jenius kreatif dengan diagnosis ADHD ada di semua bidang, dari musisi rock hingga sastra romantis, di antara mereka ada Lord Byron, Kurt Cobain, Justin Timberlake, Will Smith, dan Michael Phelps.
4. Gangguan bipolar dapat membuat seseorang lebih empati dan sensitif terhadap bau

Menurut penelitian dari Journal of Affective Disorders, pasien bipolar memiliki empati, spiritualitas, dan ketahanan yang tinggi. Empati sendiri memungkinkan kita untuk merasakan penderitaan orang lain. Namun, pengidap bipolar memiliki empati yang lebih intuitif daripada yang lain.
Efek realisme depresi yang umum pada pengidap bipolar, membuatnya jauh lebih realistis tentang dunia di sekitar mereka. Semakin lama seseorang mengidap bipolar, maka mereka akan jauh lebih tangguh dalam menghadapi hidup.
Salah satu gejala gangguan bipolar adalah hipersensitivitas, dan mereka sangat sensitif terhadap bau. Itu sebabnya, pasien bipolar dapat mengingat bau atau aroma dalam hidup mereka ketimbang pasien non-bipolar, dan bau tertentu dapat memicu ingatannya.
Alih-alih, "Oh, saya mencium bau pizza, saya suka pizza", tetapi yang dipikirkan pengidap bipolar adalah, "Oh, saya mencium bau pizza, mobil saya pernah mogok dengan pizza di dalamnya."
5. Gangguan psikosis membuat penderitanya pintar dalam matematika

Menurut penelitian dari Universitas Reykjavik di Islandia, mahasiswa dengan kemampuan matematika terbaik di Reykjavik pernah dirawat di rumah sakit karena sakit kepala akibat menderita skizofrenia bonafide.
John Nash, salah satu matematikawan paling populer di zaman kita, juga menderita skizofrenia. Nash, yang dipopulerkan oleh film tahun 2001 berjudul A Beautiful Mind, mengklaim bahwa sebagian besar matematikawan terbaik menderita beberapa "karakteristik maniak, delirium, dan gejala skizofrenia."
Neuron yang bekerja di dalam otak penderita skizofrenia mengubah persepsi visual mereka, tetapi terkadang, mereka dapat mendistorsi kenyataan dengan cara yang lebih menguntungkan, contohnya dalam ilmu matematika.
6. Penderita gangguan kecemasan cenderung cerdas

Pikiran yang selalu gelisah, merasakan paranoid yang tak ada habisnya, seperti masa depan yang menakutkan, atau sekadar tugas-tugas sederhana seperti bangun dan meninggalkan rumah, pastinya sangat mengganggu dan dianggap tidak normal.
Sebuah studi oleh SUNY Downstate Medical Center di New York menghubungkan gangguan kecemasan dengan IQ tinggi. Perasaan cemas dan ketakutan itu, membuat seseorang memiliki daya ingat yang lebih tinggi dan keterampilan berpikir kritis.
7. Penderita sindrom Tourette unggul dalam ketepatan dan ketangkasan

Sindrom Tourette sering digambarkan dalam film sebagai orang yang selalu berkata kotor atau kasar dan sering kali kehilangan kendali. Ternyata, dalam otak penderita sindrom Tourette, ada pertempuran impuls kognitif yang konstan. Nah, mereka akan menyaring impuls ini, dan akan fokus pada setiap impuls kecil daripada rata-rata orang.
Beberapa penderita sindrom Tourette, seperti kiper Manchester United, Tim Howard, dapat memanfaatkan impuls ini dengan cara yang bagus. Begitu pula dengan David Beckham.
Ada pula superstar NBA, Chris Jackson (alias Mahmoud Abdul-Rauf), Tourette-nya sering terlihat saat dia berada di lapangan. Anthony Ervin, dari tim renang Olimpiade AS, mengklaim bahwa sindrom Tourette yang dideritanya, membuatnya berenang lebih cepat daripada lawan-lawannya.
8. Depresi membuat seseorang menjadi kreatif

Menurut sebuah penelitian di Karolinska Institute, orang yang bekerja di bidang kreatif lebih mungkin mengalami depresi, lho. Contohnya saja penulis, mereka sering menyendiri di kamar, hanya berkutat dengan pikiran mereka. Sangat mungkin, jika beberapa penulis mengalami depresi.
Pekerja kreatif lainnya adalah Vincent Van Gogh, ia mengalami depresi dalam hidupnya. Lalu ada The Scream, karya Edvard Munch, salah satu lukisan yang paling terkenal. Namun, mereka mampu mengubah penderitaan itu menjadi salah satu lukisan yang paling dikenal sepanjang masa.
Van Gogh dan Munch bukan satu-satunya seniman yang mengalami depresi. Charles Dickens, Ernest Hemingway, Virginia Woolf, Tennessee Williams, Sylvia Plath, juga menderita depresi.
9. Beberapa penderita autisme memiliki sindrom savant

Tahukah kamu, 10 persen pengidap autisme dikategorikan memiliki sindrom savant, yang berarti, mereka memiliki bakat luar biasa dalam satu hal tertentu, bisa itu seni, musik, atau memiliki ingatan yang sempurna.
Faktanya, kecakapan matematika dari sarjana autis sangat mendominasi bidang ilmiah, lho. Menurut sebuah studi yang beranggotakan 450 ribu orang dari Universitas Cambridge, mereka yang bekerja di bidang STEM (sains, teknologi, teknik, matematika) memiliki skor spektrum autisme yang jauh lebih tinggi daripada mereka yang ada di bidang profesional lainnya.
Jadi, tidak selalu bermakna negatif, dengan memahaminya secara lebih mendalam dan positif, masalah kesehatan mental justru memiliki keunggulannya sendiri jika didukung secara penuh dan si penderita bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Tetapi, bagaimanapun, penyuluhan tentang kesehatan mental sangat penting, terutama bagi masyarakat awam.



















