“Indonesia merupakan daerah pintu masuk dari El Nino. Anomali tinggi muka laut di wilayah Indonesia menunjukkan korelasi negatif dengan indeks El Nino di Samudra Pasifik,” jelas Edvin, dikutip dari situs resmi.
Antara La Nina dan El Nino, Apa Arti Fenomena Ini?

- La Nina lemah yang berlangsung sejak Oktober 2025 berakhir pada Februari 2026, menandai peralihan Indonesia ke fase Netral dan potensi menuju El Nino pertengahan tahun.
- BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau lebih awal mulai April hingga Juni 2026, diawali dari Nusa Tenggara lalu meluas ke daerah lain.
- Peneliti BRIN menjelaskan La Nina dan El Nino memengaruhi suhu laut serta pola cuaca global, berdampak pada sektor pertanian, perikanan, dan ekosistem laut di Indonesia.
La Nina lemah yang berlangsung sejak Oktober 2025 telah berakhir pada Februari 2026. Artinya, Indonesia akan segera memasuki musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa kita telah bergeser ke fase Netral dan berpotensi menuju El Nino pada pertengahan tahun.
Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masuk musim kemarau pada periode April (114 ZOM; 16,3 persen), Mei (184 ZOM; 26,3 persen), dan Juni 2026 (163 ZOM; 23,3 persen) diawali dari wilayah Nusa Tenggara kemudian secara bertahap ke wilayah Indonesia lainnya.
Awal musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi datang lebih awal atau MAJU (325 ZOM; 46,5 persen) dan SAMA dengan normalnya (173 ZOM; 23,7 persen).
Arti fenomena ini
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Edvin Aldrian menyebut, La Nina memiliki sifat berlawanan dengan El Nino. La Nina cenderung menyebabkan peningkatan curah hujan, sementara El Nino biasanya mengurangi curah hujan.
Lebih lanjut dijelaskan, Samudra Pasifik memiliki sifat dari suhu yang terus naik akibat dari El Nino dan La Nina, serta pemanasan global. Saat La Nina, suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik menjadi lebih dingin dari biasanya. Fenomena ini menurutnya, berdampak besar terhadap pola cuaca di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Pengaruh dari El Nino dan La Nina

Dampak La Nina tidak hanya terbatas pada perubahan pola hujan, tetapi juga memengaruhi sektor pertanian, perikanan, dan ekosistem laut.
Melalui Great Ocean Conveyor Belt, yaitu sebuah sistem sirkulasi arus laut bumi yang terus bergerak dan memengaruhi distribusi panas di seluruh permukaan bumi, Edvin mengungkap, perpindahan panas yang terjadi di Indonesia lalu berpindah ke Samudra Pasifik tengah. Ini bisa terjadi ketika waktu El Nino atau La Nina dan pengaruhnya bisa terjadi di seluruh permukaan bumi.
Kelautan Indonesia sebagai kanal atau pintu masuk utama arus lintas Indonesia (arlindo) dapat digunakan sebagai prekursor kedatangan El Nino dengan tingkat keyakinan tinggi.
La Nina sebabkan kekeringan
La Nina dapat menyebabkan kekeringan hebat yang kadang disertai dengan kebakaran hutan, serta peningkatan potensi gagal panen pada sektor pertanian, terutama padi.
Di sisi lain, sektor perikanan bisa mendapatkan manfaat dari La Nina karena suhu laut yang lebih dingin membuat ikan berenang lebih dekat ke permukaan, sehingga memudahkan penangkapan.
“Perubahan iklim akibat La Nina dapat mengubah ekosistem laut. Suhu muka laut yang terasa lebih dingin dari biasanya, menyebabkan biota laut yang berada di kedalaman naik ke permukaan,”

![[QUIZ] Pilih Karakter Upin & Ipin, Kami Tahu Kamu Bisa Time Travel ke Masa Lalu atau Masa Depan](https://image.idntimes.com/post/20250506/1000008112-a9936ff4ece60dc64a0fc7d3e0c841a5.png)
















