TPST Bantargebang Penyumbang Gas Metana Terbesar Ke-2, Apa Bahayanya?

- Gas metana memiliki potensi pemanasan global 84 kali lebih besar dari CO₂ dalam 20 tahun, namun masa tinggalnya di atmosfer hanya sekitar 12 tahun sehingga pengurangannya berdampak cepat.
- TPST Bantargebang di Bekasi menjadi penyumbang emisi metana terbesar kedua di dunia dengan produksi 6,3 ton per jam, didominasi limbah makanan yang memperparah polusi udara dan lingkungan.
- Paparan metana menyebabkan gangguan kesehatan serius seperti ISPA, asma, dan kerusakan paru-paru permanen bagi warga sekitar TPA serta menurunkan hasil panen hingga 12 persen akibat pembentukan ozon troposfer.
Di tengah hiruk-pikuk wacana krisis iklim, satu gas sering luput dari perhatian publik. Namanya metana. Meski namanya kurang populer, faktanya gas metana jauh lebih berbahaya daripada karbondioksida dalam memanaskan bumi dalam waktu singkat. Berikut siapa saja yang terkena dampak gas metana yang mengerikan.
1. Metana: “Pemanas Super” yang 28-84 Kali Lebih Kuat dari CO2

Karbondioksida selama ini jadi kambing hitam utama perubahan iklim. Namun soal potensi memerangkap panas, metana benar-benar kelas berat. Dilansir NASA, metana memiliki potensi pemanasan global 84 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida dalam kurun waktu 20 tahun, dan secara faktual merupakan pendorong utama perubahan iklim jangka pendek.
Untuk gambaran lebih nyata, setiap 5 ton emisi gas metana per jam sudah berkontribusi terhadap pemanasan global hampir setara dengan satu juta mobil SUV atau satu pembangkit listrik tenaga batu bara berkapasitas 500 megawatt dalam setahun.
Kabar baiknya, metana hanya bertahan di atmosfer sekitar 12 tahun, jauh lebih pendek dibanding CO₂ yang bisa ribuan tahun. Artinya, mengurangi emisi metana sekarang akan memberikan dampak pendinginan yang cepat dan signifikan. Jika dibayangkan, satu molekul metana dalam dua dekade ke depan menyumbang panas 84 kali lebih banyak daripada CO₂. Ini bukan sekadar angka matematika, tapi ini alarm darurat yang harus segera kita tanggapi dengan serius.
2. TPST Bantargebang adalah penyumbang metana nomor 2 di dunia

Indonesia ternyata menyumbang bom metana raksasa, dan letaknya di Bekasi. Terdapat laporan terbaru dari UCLA School of Law, TPST Bantargebang menghasilkan 6,3 ton gas metana per jam, menjadikannya sebagai penyumbang emisi metana terbesar kedua di dunia, hanya kalah dari TPA di Argentina.
Hal yang paling mengkhawatirkan, tingkat persistensi Bantargebang mencapai 100 persen, artinya setiap kali satelit melintas, metana selalu terdeteksi membubung ke udara. Secara nasional, sektor limbah menyumbang 54 persen dari total emisi metana di Indonesia, angka ini lebih dari separuh! Hampir setengah dari sampah di Bantargebang adalah sisa makanan. Ironisnya, Indonesia menghasilkan 20 juta ton limbah makanan setiap tahun sementara jutaan anak masih mengalami stunting.
3. Kesehatan menjadi taruhan: ISPA, asma, hingga kerusakan paru-paru permanen

Dampak metana tidak berhenti di atmosfer. Ia “memasak” kualitas udara yang kita hirup setiap hari. Dampak gas metana yang terjadi pada warga di sekitar TPST Bantargebang terkena paparan polusi kronis, hingga menyebabkan lonjakan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), asma, bronkitis, hingga tuberkulosis.
Warga juga rentan terhadap penyakit kulit, diare, dan gangguan pencernaan akibat lingkungan tidak higienis dan air tercemar lindi. Bahkan, paparan gas juga terdampak pada anak-anak dan lansia berpotensi menyebabkan kerusakan paru-paru permanen serta meningkatkan risiko penyakit kronis lainnya.
Kemudian air sumur warga di Kelurahan Sumur Batu dan sekitarnya telah berubah warna menjadi keruh kekuningan hingga kehitaman, berbau busuk atau seperti logam, dan terasa pahit.
4. Ancaman besar bagi perani: Hasil panen bisa anjlok 12 persen

Gas metana tidak hanya meracuni napas manusia, tetapi juga “membakar” lahan pertanian. Dikutip dari laman National Geographic Indonesia, emisi metana yang memicu pembentukan ozon di permukaan tanah (ozon troposfer) diperkirakan menyebabkan kerugian hasil panen utama hingga 12 persen setiap tahun.
Kerusakan ini dapat memicu kekurangan gizi yang terkait dengan hampir separuh dari semua kematian pada anak di bawah lima tahun. Ozon merusak tanaman dengan cara masuk ke daun dan merusak jaringannya, yang pada akhirnya memengaruhi hasil panen, padang rumput, hingga hutan.
Tak hanya pertanian, sektor peternakan juga jadi penyumbang utama. Terdapat pernyataan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bahwa peternakan sering dituduh sebagai penyebab perubahan iklim karena gas metana dari limbah ternak.
BRIN juga menegaskan bahwa riset inovasi bisa menjadi jalan keluar untuk mengurangi emisi metana dari sektor ini. Dampak serta Ironi pahit terjadi ketika petani dan peternak yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, justru sering dituding sebagai penyebabnya tanpa diberikan solusi yang memadai.
5. Siapa paling terdampak? Masyarakat sekitar TPA hingga pemulung

Dampak metana tidak merata. Kelompok tertentu menanggung beban jauh lebih berat. Dikutip dari laporan GAIA (Global Alliance for Incinerator Alternatives) yang dimuat pada Oktober 2025, pendanaan iklim harus menjangkau mereka yang paling terdampak krisis dan mereka yang memimpin solusi, seperti pemulung dan pekerja sektor persampahan. Kelompok garda terdepan ini justru paling terpapar polusi metana setiap hari.
Di Indonesia, warga sekitar TPA seperti Bantargebang dan Sarimukti sudah bertahun-tahun hidup “berdampingan” dengan tumpukan sampah raksasa. Mereka menghirup udara bercampur metana setiap detik, air sumur mereka tercemar, dan anak-anak mereka tumbuh dengan risiko penyakit yang jauh lebih tinggi.


















