Sumber Referensi :
Carroll, M. J., Brown, N. J., Ruetz, Z., Ricigliano, V. A., & Anderson, K. E. (2023). Honey bee retinue workers respond similarly to queens despite seasonal differences in Queen Mandibular Pheromone (QMP) signaling. Plos one, 18(9), e0291710.
Grozinger, C. M. (2025). Honey bee queen pheromone provides an early warning system to prevent collapsing colonies. Proceedings of the National Academy of Sciences, 122(47), e2527313122.
Apa yang Terjadi pada Koloni Lebah Madu Jika Sang Ratu Tiba-tiba Mati?

- Koloni langsung masuk mode darurat begitu ratu mati
- Lebah pekerja mulai menyiapkan penerus dengan memberi makan royal jelly pada larva
- Koloni bisa gagal jika tidak ada larva yang tepat untuk dijadikan ratu baru
Dalam koloni lebah madu, sang ratu memegang peran besar daripada sekadar pemimpin. Ia merupakan pusat kehidupan yang menjaga keseimbangan dan keberlangsungan seluruh sarang. Tanpa kehadirannya, ritme koloni dapat berubah dalam waktu singkat. Kematian ratu lebah bukan kejadian mustahil dan bisa terwujud kapan pun karena berbagai faktor alami. Lalu, apa yang akan terjadi pada koloni lebah madu jika sang ratu tiba-tiba mati? Yuk, simak penjelasannya di bawah ini!
1. Koloni langsung masuk mode darurat

Begitu ratu mati, koloni tidak serta-merta kacau, tetapi langsung berada dalam situasi genting. Lebah pekerja bisa menyadari ketiadaan ratu lewat hilangnya feromon yang selama ini menjaga keteraturan sosial. Sinyal kimia yang menghilang itu menjadi alarm bagi seluruh koloni.
Setelahnya, suasana sarang berubah drastis. Lebah pekerja tampak lebih gelisah, aktivitas terbang meningkat, dan perhatian tak lagi tertuju pada madu maupun perawatan sarang. Fokus utama bergeser ke satu tujuan penting, yaitu menyelamatkan kelangsungan koloni.
2. Lebah pekerja mulai menyiapkan penerus

Selama masih tersedia telur atau larva yang sangat muda, lebah pekerja segera memilih beberapa kandidat untuk dijadikan ratu baru. Larva kemudian diberi makanan khusus berupa royal jelly tanpa henti. Pola makan inilah yang menentukan apakah larva akan tumbuh sebagai ratu atau lebah pekerja.
Menariknya, calon ratu sebenarnya tidak terlahir istimewa. Secara genetik, mereka sama persis dengan lebah pekerja lainnya. Perbedaan status sepenuhnya dibentuk oleh nutrisi dan perlakuan sejak dini.
3. Koloni bisa gagal jika tidak ada larva yang tepat

Situasi bertambah rumit ketika ratu mati di waktu yang tidak ideal. Tanpa telur atau larva berusia di bawah tiga hari, lebah pekerja kehilangan peluang untuk membesarkan ratu baru. Koloni pun berada di ambang kehancuran.
Dalam kondisi terdesak, sebagian lebah pekerja mulai bertelur walau tidak di buahi. Telur ini hanya akan menghasilkan lebah jantan yang tidak bisa bekerja mencari nektar. Akibatnya, populasi pekerja terus menurun dan koloni perlahan mati.
4. Ratu baru membuka harapan pemulihan

Apabila calon ratu berhasil tumbuh dan menjalani penerbangan kawin dengan baik, harapan kembali muncul. Ratu baru mulai bertelur serta perlahan mengisi kembali kekosongan populasi. Feromon yang dilepaskannya membantu menenangkan dan menata ulang koloni.
Meski begitu, masa peralihan tetap menyisakan tantangan. Jumlah lebah sempat berkurang sebelum kondisi stabil lagi. Untungnya ketika proses ini berhasil, koloni dapat berfungsi normal seperti sediakala.
Kematian ratu memang menjadi ujian terbesar bagi sebuah koloni lebah madu. Namun, kemampuan lebah pekerja untuk merespons cepat menunjukkan betapa luar biasanya sistem sosial serangga ini.


















