Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa yang Terjadi pada Magma Gunung Berapi setelah Erupsi Berhenti?

3 min read
Apa yang Terjadi pada Magma Gunung Berapi setelah Erupsi Berhenti?
gambar gunung berapi yang sedang erupsi (unsplash.com/Charlie Orellana)

Banyak orang mengira, setelah erupsi gunung berapi berakhir, semua aktivitas vulkanik di gunung tersebut sudah selesai, dan gunung akan kembali pada tidur panjangnya. Wajar jika banyak orang yang beranggapan seperti ini. Pasalnya jika dilihat sekilas dari luar, gunung berapi yang selesai erupsi perlahan akan terlihat tenang selama beberapa waktu.

Namun ketenangan itu hanya terlihat di luarnya saja. Jauh di dalam tanah, dapur magma gak benar-benar berhenti beroperasi. Sebaliknya aktivitas magma di bawah permukaan masih terus terdeteksi selama bertahun-tahun setelahnya. Lantas apa yang terjadi pada magma setelah erupsi berhenti?

  1. 1. Magma gak langsung membeku setelah erupsi

    Gunung berapi yang erupsi dan memuntahkan lava
    gambar gunung berapi yang erupsi dan memuntahkan lava (unsplash.com/Jeferson Argueta)

    Saat gunung berapi erupsi, magma yang keluar sebagai lava memang terlihat sangat banyak. Namun seberapa banyak magma yang keluar juga sebenarnya sangat tergantung pada seberapa dahsyat sebuah gunung meletus. Pada letusan eksplosif yang sangat besar, sebuah gunung bahkan bisa melepaskan lebih dari 1.000 kilometer kubik magma.

    Sayangnya erupsi sendiri gak lantas membuat gunung berapi memuntahkan seluruh persediaan magma yang dimilikinya. Dilansir USGS, setelah erupsi berhenti, magma yang tersisa akan berhenti naik ke permukaan. Magma kemudian bergerak kembali ke dapur magma, dan tetap berada di sana sampai mendapatkan pasokan magma baru.

  2. 2. Magma perlahan akan mendingin dan membentuk kristal

    Aliran lava dari gunung berapi
    gambar aliran lava dari gunung berapi (unsplash.com/Tetiana GRY)

    Selama erupsi terjadi, suhu magma berkisar antara 700-1.300 derajat Celcius. Suhu panas yang luar biasa inilah yang membuat magma menjadi zat cair. Namun setelah erupsi berhenti, magma turun kembali ke dapur magma. Selama perjalanan ini, magma akan bercampur dengan magma yang lebih dingin yang tersimpan di kantong-kantong di sepanjang retakan.

    Hasilnya, magma akan mengalami pendinginan secara signifikan. Dilansir Science News, saat pendingin terjadi, zat-zat volatil seperti air serta karbon dioksida akan keluar dalam bentuk gelembung, dan menyebabkan tekanan pada magma menurun. Ketika tekanan turun perlahan, mineral yang terkandung pada magma akan melepaskan sejumlah besar panas, mengeras, dan membentuk kristal secara perlahan.

  3. 3. Gunung bisa kembali “tidur” setelah erupsi terjadi

    Gunung yang sedang dalam masa tidur
    gambar gunung yang sedang dalam masa tidur (unsplash.com/David Billings)

    Setelah erupsi berhenti, perut Bumi tetap memasok magma baru ke dapur magma. Meski begitu, proses pengisian kembali ini tentu membutuhkan waktu yang cukup lama. Dilansir USGS, selama gunung gak mengalami erupsi, gunung tersebut akan memasuki masa dormant atau yang lebih dikenal dengan istilah masa tidur. Meski begitu, setiap gunung memiliki durasi tidur yang berbeda-beda.

    Gunung Sinabung di Sumatra Utara misalnya, tertidur sekitar empat abad sebelum akhirnya erupsi kembali pada tahun 2010 lalu. Sedangkan Gunung St. Helens di Washington hanya membutuhkan waktu tidur sekitar satu abad hingga akhirnya meletus pada tahun 1980. Hal ini menunjukkan bahwa gunung yang tertidur dapat terbangun, dan mengalami erupsi lagi di masa depan. Erupsi terjadi ketika pasokan magma terpenuhi, dapur magma akan mengalami tekanan, yang akhirnya memicu terjadinya erupsi.

    Berakhirnya erupsi, bukan berarti aktivitas gunung juga ikut berhenti. Sebaliknya, aktivitas vulkanik justru terus berlangsung selama bertahun-tahun. Magma yang tersisa perlahan berubah menjadi kristal, dan mengalami berbagai perubahan lainnya di dalam dapur magma. Sementara di sisi lain, perut Bumi terus memberikan pasokan magma baru. Namun mengingat proses ini terjadi jauh di dalam tanah, manusia yang tinggal di permukaan jelas gak akan bisa merasakan apalagi melihatnya secara langsung. 

    https://www.nasa.gov/earth/can-volcanic-super-eruptions-lead-to-major-cooling-study-suggests-no/

    https://education.nationalgeographic.org/resource/magma-role-rock-cycle/ 

    https://www.usgs.gov/news/volcano-watch-magma-whats-hot-and-whats-not?

    https://www.sciencenews.org/article/magma-heats-it-crystallizes

    https://www.usgs.gov/news/volcano-watch-lava-unlocks-subterranean-mysteries?

    https://www.usgs.gov/observatories/yvo/news/active-dormant-and-extinct-clarifying-confusing-classifications?

    https://www.usgs.gov/observatories/hvo/news/volcano-watch-magma-magma-whos-got-magma?

    https://www.usgs.gov/news/volcano-watch-what-will-happen-when-eruption-ends?

    https://www.nbcnews.com/id/wbna38987304

    https://volcano.oregonstate.edu/mount-st-helens-fact-sheet 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More
Apa yang Terjadi pada Magma Gunung Berapi Setelah Erupsi Berhenti?