Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bagaimana Letusan Gunung Berapi Bisa Menurunkan Suhu Bumi?

Bagaimana Letusan Gunung Berapi Bisa Menurunkan Suhu Bumi?
gambar letusan gunung berapi dari dekat (unsplash.com/Jacob Lawler)
  • Letusan eksplosif menyuntikkan abu dan sulfur dioksida ke stratosfer; gas ini bertahan lebih lama lalu bereaksi dengan air membentuk aerosol asam sulfat.
  • Aerosol asam sulfat memantulkan sebagian energi Matahari ke luar angkasa, mengurangi panas yang mencapai permukaan Bumi, lalu tersebar secara global oleh angin stratosfer.
  • Durasi pendinginan bergantung pada skala letusan: Krakatau 1883 menurunkan suhu sekitar 0,6°C beberapa bulan, sedangkan Pinatubo 1991 sekitar 0,7°C selama tiga tahun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Letusan Gunung Anak Krakatau beberapa waktu lalu sempat membuat banyak orang khawatir. Bukan hanya orang-orang di Indonesia, tapi juga dari di negara lain. Melihat ke belakang, letusan Gunung Krakatau tahun 1883 memang berhasil meluluhlantakkan dunia.

Dilansir Natural History Museum, letusan gunung berapi ini memiliki daya ledak setara dengan bom seberat 200 megaton, menyebabkan tsunami besar, hingga menewaskan lebih dari 36.000 orang. Gak sampai disitu, letusan Krakatau juga menurunkan suhu Bumi sekitar 0,6 derajat Celsius selama beberapa bulan sebelum akhirnya berangsur-angsur kembali ke suhu normal. Namun pernahkah kamu bertanya-tanya, bagaimana itu bisa terjadi? Ternyata begini penjelasannya!

  1. 1. Letusan gunung berapi membawa sulfur dioksida ke atmosfer

    Letusan Gunung Sinabung
    gambar letusan Gunung Sinabung (unsplash.com/Yosh Ginsu)

    Banyak orang beranggapan bahwa jika letusan gunung-nya berhenti, maka dampaknya juga akan hilang. Nyatanya, dampak letusan gunung berapi bisa dirasakan beberapa minggu bahkan bulan setelahnya. Dilansir ESKP, pada letusan eksplosif, gunung berapi bukan hanya melontarkan material berat seperti batuan, tetapi juga menyuntikkan abu vulkanik dan gas ke atmosfer hingga kecepatan 300 km/jam.

    Sementara abu vulkanik jatuh kembali ke permukaan dalam beberapa hari atau minggu, gas seperti sulfur dioksida (SO2) akan tetap bertahan di stratosfer. Alih-alih hilang, gas ini akan bergabung dengan air dan mengalami reaksi kimia. Reaksi kimia ini lah yang mengubah sulfur dioksida (SO2) menjadi aerosol asam sulfat.

  2. 2. Aerosol asam sulfat menghalangi sinar matahari ke Bumi

    Partikel aerosol asam sulfat dan sulfur dioksida di atmosfer Bumi
    ilustrasi partikel aerosol asam sulfat dan sulfur dioksida di atmosfer Bumi (nasa.gov/NASA/GSFC)

    Aerosol asam sulfat adalah partikel sangat halus yang menyebar dan melayang-layang di udara. Meski ukurannya sangat kecil, jika jumlahnya banyak dapat memberikan dampak yang besar bagi Bumi kita. Dilansir NASA, keberadaan aerosol asam sulfat di lapisan stratosfer dapat memantulkan sekitar seperempat energi matahari kembali ke luar angkasa, dan membuat energi yang mencapai permukaan Bumi jadi lebih sedikit.

    Akibatnya, suhu rata-rata di permukaan pun mengalami penurunan. Selain itu, aerosol asam sulfat ini juga gak hanya berdiam di wilayah sekitar letusan gunung. Nyatanya angin stratosfer yang kuat menyebarkan partikel aerosol secara bertahap ke seluruh dunia, sehingga dampaknya dapat dirasakan secara global.

  3. 3. Berapa lama penurunan suhu Bumi akan berlangsung?

    Letusan Gunung Pinatubl tahun 1991
    gambar letusan Gunung Pinatubl tahun 1991 (commons.m.wikimedia.org/NOAA/NGDC, R. Lapointe, U.S. Air Force)

    Berbeda dengan troposfer, lapisan stratosfer di atasnya gak memiliki awan hujan untuk membersihkan polutan seperti aerosol asam sulfat dengan cepat. Namun proses reaksi kimia dan sirkulasi atmosfer dapat menghilangkan aerosol secara bertahap yang membuat penurunan suhu gak berlangsung selamanya. Meski begitu, berapa lamanya efek pendinginan dan besarnya penurunan suhu yang terjadi akan sangat tergantung pada seberapa besar letusan yang terjadi.

    Dalam beberapa kasus, penurunan suhu bisa berlangsung selama beberapa bulan. Namun pada letusan yang sangat besar, penurunan suhu bisa berlangsung hingga beberapa tahun. Dilansir USGS, letusan Gunung Pinatubo di Filipina pada 15 Juni 1991 misalnya, menyuntikkan awan sulfur dioksida sekitar 20 juta ton ke stratosfer. Akibatnya suhu rata-rata permukaan Bumi turun sekitar 0,7 derajat Celsius selama kurang lebih 3 tahun. 

    Kebanyakan orang hanya menilai dampak bencana dari apa yang mereka lihat dan rasakan. Namun sebenarnya, dampak bencana seperti gunung berapi lebih besar dari yang kita sadari. Mulai dari lontaran batuan, aliran lava, hingga terbentuknya partikel aerosol yang berdampak besar pada Bumi kita.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More