Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apakah Bunga Rafflesia Bisa Dibudidayakan?

Pencinta Rafflesia berfoto bersama Rafflesia arnoldii.
Pencinta Rafflesia berfoto bersama Rafflesia arnoldii. (commons.wikimedia.org/Rahmat andriansa)

Rafflesia merupakan tanaman yang sangat ikonik, terutama di Indonesia. Bunganya berukuran raksasa sampai meraih gelar bunga tunggal terbesar di dunia. Baunya pun sangat busuk, sehingga memunculkan sebutan “bunga bangkai” pada tanaman ini.

Keunikannya membuat Rafflesia digemari banyak orang. Di Indonesia, Rafflesia dilindungi oleh hukum dan menjadi salah satu bunga nasional. Sayangnya, Rafflesia terancam oleh kepunahan. Ia sudah langka secara alami, dan ancaman seperti penggundulan hutan makin mengancam keberadaannya. Lantas, apakah Rafflesia bisa dibudi daya untuk dilestarikan?

1. Sifat parasitnya membuat Rafflesia misterius

Rafflesia gadutensis terlihat mekar
Rafflesia gadutensis terlihat mekar (commons.wikimedia.org/Rico yuliyanto)

Dalam dunia botani, Rafflesia hampir tidak bisa disebut tumbuhan. Ia tidak punya daun, batang, maupun akar. Tubuhnya hanya berupa untaian jaringan mirip benang yang hidup di dalam tubuh tanaman lain. Fisiknya baru terlihat saat waktunya bereproduksi, ketika kuncupnya mulai tumbuh dan mekar menjadi bunga raksasa berbau busuk.

Gaya hidup ini menjadikan Rafflesia tanaman parasit. Di antara tanaman parasit yang ada, Rafflesia termasuk salah satu yang paling ekstrem. Ia tidak punya klorofil sama sekali untuk berfotosintesis. Alih-alih memproduksi makanan sendiri, Rafflesia menyerap semua nutrisi yang dibutuhkan dari tanaman inang lewat struktur bernama haustorium. Itu artinya Rafflesia bergantung sepenuhnya pada tanaman yang dijangkitinya. Kalau tanaman tersebut mati, Rafflesia akan ikut mati. 

Rafflesia pun tidak bisa hidup di sembarang tanaman. Semua spesies Rafflesia hanya bergantung pada tanaman merambat dari genus Tetrastigma. Tanaman dari keluarga anggur-angguran ini pun harus merambat naik ke tanaman atau pohon lain karena batangnya tidak bisa berdiri tegak. 

Sifat parasit dan gaya hidupnya yang spesifik ini membuat Rafflesia sangat unik. Ia juga jadi sulit dipelajari karenanya. Meski dikenal banyak orang, Rafflesia sebenarnya masih belum dipahami sebaik kita memahami tanaman lain.

2. Rafflesia adalah bunga yang langka secara alami

Rafflesia keithii terlihat mekar
Rafflesia keithii terlihat mekar (commons.wikimedia.org/Peripitus)

Tidak mudah bagi Rafflesia untuk bereproduksi di alam liar. Bunga, sebagai pusat reproduksi tumbuhan, biasanya punya semua alat reproduksi sekaligus, yakni bagian jantan (serbuk sari) dan betina (putik). Pada Rafflesia, tiap individu hanya punya satu alat reproduksi atau berjenis kelamin tunggal. Supaya pembuahan alami bisa terjadi, dua Rafflesia harus mekar secara bersamaan dalam jarak cukup dekat dan salah satunya harus berjenis kelamin berbeda. 

Yang membuat reproduksinya makin rumit, bunga Rafflesia hanya mekar dalam waktu beberapa hari saja. Waktu penyerbukannya hanya sekejap mata kalau dibandingkan dengan rentang hidup Rafflesia yang mencapai tahunan. Belum lagi kemungkinan kalau Rafflesia dimakan hewan lain saat menjadi kuncup. 

Oleh sebab itu, Rafflesia langka secara alami. Selain itu, ancaman-ancaman seperti penggundulan hutan dan krisis iklim makin membuat eksistensinya di bumi makin berada di ujung tanduk. Rafflesia perlu dukungan konservasi supaya bisa eksis, salah satunya adalah dengan membudidayakan.

3. Apakah Rafflesia bisa dibudi daya?

bunga Rafflesia yang tumbuh di akar gantung
bunga Rafflesia yang tumbuh di akar gantung (commons.wikimedia.org/Maizal)

Lantas, apakah Rafflesia bisa dibudidayakan? Peneliti dan ahli botani sudah berusaha membudidayakan Rafflesia sejak puluhan tahun lalu. Sayangnya, usaha budi daya Rafflesia selalu gagal. Sifat parasit dan gaya hidupnya yang sangat spesifik membuat Rafflesia luar biasa sulit untuk dikembangbiakkan.

Benih Rafflesia sering kali gagal berkecambah. Laporan keberhasilan perbanyakan Rafflesia lewat benih masih jarang, tapi ada beberapa pengecualian. Salah satunya pekebun lokal dari Bukittinggi, Sumatra Barat, yang berhasil menumbuhkan Rafflesia arnoldii dengan menaburkan biji dari buah matang Rafflesia ke tanaman merambat Tetrastigma di kebunnya. 

Rafflesia tidak bisa dibudi daya dengan metode perbanyakan yang biasa digunakan untuk membudidayakan tanaman parasit. Sebuah studi pernah membandingkan seluk beluk benih Rafflesia dengan benih tanaman parasit lain. Dalam studi yang diterbitkan Plants, People, Planet pada 2023 lalu itu, ditemukan kalau benih Rafflesia tidak memiliki gen-gen terkait untuk merespons senyawa yang menjadi sinyal perkecambahan benih tanaman parasit lain. Dari segi benih pun Rafflesia beda dari tanaman parasit lain. 

Mengutip laman Botany One, sejauh ini cara terbaik dan paling ampuh membudidayakan Rafflesia adalah dengan mencangkok Tetrastigma yang terinfeksi Rafflesia pada batang lain yang tidak terinfeksi. Metode ini berhasil dilakukan oleh ahli botani dari Kebun Raya Bogor, Sofi Mursidawati. Mengutip laman National Geographic, Sofi berhasil menumbuhkan 16 Rafflesia dari kuncup menjadi mekar.

Sekecil apa pun upaya budi daya Rafflesia bisa menjadi langkah besar dalam pelestarian tumbuhan langka ini. Studi terbaru yang dilansir Plants, People, Planet 2023 lalu menemukan bahwa sebagian besar spesies Rafflesia terancam punah. Upaya budi daya oleh ahli botani maupun warga diharapkan bisa turut membantu pelestarian Rafflesia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira
Follow Us

Latest in Science

See More

4 Penyebab Trauma pada Kucing yang Membuatnya Enggan Didekati

28 Jan 2026, 13:10 WIBScience