- Klasifikasi tumbuhan
Apakah Sawit Termasuk Pohon? Berikut Penjelasan Ahli

- Ada yang menyebut sawit adalah pohon, tetapi terdapat pula pendapat yang mengatakan sebaliknya.
- Perbedaan sawit dengan pohon lainnya terdapat pada klasifikasi tumbuhan, struktur batang, hingga sistem perakaran.
- Sawit tidak bisa menggantikan fungsi hutan alami dalam menjaga keseimbangan bumi.
Perdebatan soal kelapa sawit kembali mencuat setelah Badan Bahasa resmi mengubah definisi sawit dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jika sebelumnya hanya disebut sebagai tumbuhan, kini sawit diklasifikasikan sebagai pohon. Isu ini sempat ramai diperbincangkan setelah pernyataan Presiden Prabowo tentang sawit dan deforestasi viral di media sosial, terutama pascabanjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Sebenarnya apakah sawit termasuk pohon? Sawit memang bisa disebut pohon, tetapi perannya tidak bisa disamakan dengan hutan alami. Meski sama-sama berupa tanaman, pohon hutan memiliki fungsi ekologis yang jauh lebih kompleks. Simak penjelasan lengkapnya berikut!
Table of Content
1. Apakah sawit termasuk pohon?
Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Joko Witono, menjelaskan bahwa sawit pada dasarnya masih bisa disebut sebagai pohon. Sawit memiliki batang yang tinggi, tumbuh tegak, dan daun yang berkumpul di bagian atas sehingga secara visual memang menyerupai pohon pada umumnya.
Meski demikian, Joko Witono menekankan bahwa sawit memiliki sifat yang berbeda dibandingkan pohon lain, khususnya dalam hal penyerapan air. Sawit dikenal sangat intens dalam menyerap air dari tanah. Jika ditanam di area yang kurang tepat, seperti di sekitar daerah aliran sungai, kondisi tanah bisa cepat jenuh. Ketika tanah sudah tidak mampu lagi menampung air, limpasan pun terjadi dan berpotensi memicu banjir.
Di luar pendapat tersebut, ada pula yang mengatakan bahwa sawit bukanlah pohon. Pasalnya, jika merujuk pada definisi dalam KBBI, pohon merupakan tanaman berkayu yang tegak dan tinggi. Sementara itu, sawit secara botani bukan phon berkayu, melainkan keluarga palem-paleman atau Arecaceae dan tergolong sebagai tanaman monokotil.
2. Perbedaan sawit dengan pohon lainnya

Meski sama-sama tinggi, sawit memiliki sejumlah perbedaan mendasar dibanding pohon pada umumnya. Berikut penjelasannya:
Sawit termasuk tumbuhan monokotil, satu kelompok dengan rumput, jagung, dan anggrek. Sementara itu, sebagian besar pohon seperti mangga, jati, atau apel adalah dikotil. Perbedaan ini berpengaruh besar pada struktur dan cara tumbuh tanaman.
- Struktur batang
Batang sawit tidak memiliki kambium, yaitu jaringan yang membuat batang pohon bisa terus membesar. Karena itu, diameter batang sawit akan berhenti tumbuh setelah mencapai ukuran maksimal. Pohon dikotil justru punya kambium yang membentuk lingkaran tahun dan memungkinkan batang makin besar seiring usia.
- Kulit batang
Permukaan batang sawit yang terlihat kasar bukanlah kulit kayu. Itu adalah sisa pangkal pelepah daun yang mengeras. Berbeda dengan pohon lain yang memiliki kulit kayu asli untuk melindungi batang dan membantu proses pemulihan saat terluka.
- Daun dan percabangan
Daun sawit berbentuk pelepah panjang dengan ratusan anak daun dan hanya tumbuh di bagian pucuk. Sawit hampir tidak pernah bercabang, kecuali jika titik tumbuhnya rusak. Sebaliknya, pohon umumnya memiliki banyak cabang yang menyebar dari batang utama.
- Sistem perakaran
Sawit tidak memiliki akar tunggang. Akarnya menyebar ke samping dalam jumlah sangat banyak dan dikenal sangat rakus menyerap air. Inilah yang membuat sawit berisiko bagi lingkungan jika ditanam di daerah aliran sungai karena tanah bisa cepat jenuh dan memicu limpasan air.
3. Apakah sawit bisa menggantikan fungsi hutan?
Berbagai pihak menegaskan bahwa perkebunan kelapa sawit tidak bisa menggantikan fungsi hutan. Manajer Kampanye Hutan dan Kebun WALHI, Uli Artha Siagian, menyebut kebun sawit sebagai ekosistem monokultur yang sangat miskin keanekaragaman hayati. Berbeda dengan hutan yang dihuni beragam jenis pohon, satwa, dan organisme lain, lingkungan sekitar sawit hampir tidak menyediakan ruang hidup bagi biodiversitas. Kondisi inilah yang membuat fungsi ekologis sawit jauh tertinggal dibandingkan hutan alami.
Lis Noer Aini, pakar Evaluasi lahan dan tata wilayah dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, juga menjelaskan bahwa hutan memiliki struktur berlapis yang kompleks, mulai dari pohon besar, tumbuhan bawah, hingga mikroorganisme tanah. Struktur ini memungkinkan hutan menyerap karbon secara optimal, menjaga siklus air, dan menstabilkan iklim. Sebaliknya, perkebunan sawit memiliki fungsi terbatas sebagai sistem produksi.
Itulah jawaban dari pertanyaan apakah sawit termasuk pohon yang belakangan ini ramai diperbincangkan. Walaupun secara klasifikasi bahasa sawit "sudah naik kelas", tapi fungsi ekologisnya tetap tidak bisa menggantikan keragaman hayati hutan alami dalam menjaga keseimbangan bumi.
FAQ seputar apakah sawit termasuk pohon
| Apakah sawit termasuk pohon? | Ada dua pendapat berbeda. Namun, perlu dipahami bahwa sawit adalah monokotil dan bukan tanaman berkayu. |
| Apakah perkebunan sawit bisa disebut hutan? | Tidak bisa, karena perkebunan sawit bersifat monokultur dan miskin biodiversitas. |
| Apakah penanaman sawit berdampak pada lingkungan? | Ya, terutama jika ditanam secara masif tanpa perencanaan lahan yang tepat. |
Referensi
"UMY Expert Emphasizes that Palm Oil Trees Will Never be Able to Replace Natural Forests". Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Diakses Februari 2026.
"8 Things To Know About Palm Oil". WWF. Diakses Februari 2026.
"Oil Palm Anatomy: 5 Ways an Oil Palm Differs From a Typical Tree". Musim Mas. Diakses Februari 2026.


















