Begitu mendengar kata 'bebek', pasti yang terlintas adalah bulu-bulu kuning kecoklatan dan sedikit kusam. Tapi, tunggu dulu, agaknya kamu belum mengenal bebek yang satu ini. Alih-alih kusam, bulunya justru begitu mencolok, bak lukisan cat minyak yang tiba-tiba hidup di tepi danau.
Fakta Bebek Mandarin, Jantannya Lebih Menawan daripada Betina

- Bebek Mandarin dikenal karena keindahan bulu jantannya yang mencolok, sementara betinanya berpenampilan lebih sederhana dan mampu berubah menjadi jantan bila ovarium fungsionalnya gagal.
- Dalam proses berkembang biak, bebek jantan tidak ikut mengerami telur dan hanya kembali setelah anak-anak menetas untuk melindungi keluarga bersama induknya.
- Populasi bebek Mandarin menurun akibat kerusakan habitat dan perburuan ilegal, meski tetap dihormati sebagai simbol kesetiaan dalam budaya Tionghoa.
Bebek Mandarin ini begitu populer, selain karena perpaduan warnanya yang khas, mereka juga memiliki pola reproduksi dan pengeraman yang unik. Di mana bebek betinanya bahkan mampu berubah menjadi jantan dalam kondisi tertentu. Begitu pun dengan jantan yang memilih pergi meninggalkan betina di saat-saat masa pengeraman telur. Nah, adanya artikel ini kita akan mempelajari lebih dalam seputar bebek Mandarin, berikut fakta-fakta uniknya!
1. Jantannya lebih cantik dibandingkan betina

Bebek Mandarin sangat mudah dikenali berkat penampilannya yang mencolok. Bebek jantan khususnya sangat berhias, menampilkan wajah merah dan putih yang mencolok, paruh merah kecil, dan beragam warna. Ciri paling khasnya adalah bulu-bulu oranye terang, atau 'layar', yang muncul dari punggung mereka, ditambah dengan dada ungu yang dihiasi dua garis putih tebal.
Sebaliknya, penampilan bebek betina justru kurang mencolok dibandingkan dengan jantan. Meskipun demikian, bebek mandarin betina memiliki keindahan tersendiri yang halus. Bulunya tersusun rapi dan sederhana, dengan nuansa abu-abu dan cokelat yang memungkinkan mereka menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Di luar musim kawin, jantan memiliki bulu yang lebih sederhana seperti bebek betina untuk menghindari menarik perhatian predator. Baik bebek Mandarin jantan maupun betina memiliki ukuran lebih pendek dan lebih kecil daripada kebanyakan bebek yang mencari makan di permukaan air.
Baik bebek Mandarin jantan atau betina sama-sama memiliki jambul, tetapi jambul ungu lebih menonjol pada jantan. Bebek jantan juga mengalami pergantian bulu setelah musim kawin menjadi bulu gerhana. Saat dalam bulu gerhana, bebek jantan terlihat mirip dengan betina, tetapi dapat dibedakan berdasarkan paruhnya yang berwarna kuning-oranye atau merah cerah, tidak adanya jambul, dan garis mata yang kurang jelas.
2. Bebek Mandarin jantan tidak ikut mengerami telur

Bebek Mandarin berkembang biak di daerah berhutan lebat di dekat danau dangkal, rawa, atau kolam. Mereka bersarang di rongga pohon dekat air dan selama musim semi, betina bertelur di rongga pohon setelah kawin. Bebek Mandarin jantan tidak berperan dalam hal pengeraman, mereka hanya meninggalkan bebek betina untuk mengamankan telurnya sendirian. Namun, tidak seperti spesies bebek lainnya, jantan tidak sepenuhnya meninggalkan betina, hanya pergi sementara sampai anak-anak bebek menetas.
Setelah anak-anaknya menetas, induknya terbang ke tanah dan membujuk anak-anak bebek untuk melompat dari sarang. Setelah semua anak bebek keluar dari pohon, mereka akan mengikuti induknya ke badan air terdekat di mana mereka biasanya akan bertemu dengan ayahnya, yang akan bergabung kembali dengan keluarga dan melindungi anak-anak bebek bersama induknya. Namun, jika ayah (bebek jantan) tidak ditemukan, maka kemungkinan besar ia telah meninggal selama kepergian sementara.
3. Populasinya menyusut akibat kerusakan habitat

Melansir Thai National Parks, bebek Mandarin dulunya tersebar luas di Asia Timur, tetapi ekspor skala besar dan perusakan habitat hutannya telah mengurangi populasi di Rusia Timur dan di China hingga di bawah 1.000 pasang di setiap negara. Namun, Jepang diperkirakan masih memiliki sekitar 5.000 pasang. Populasi di Asia bersifat migrasi, menghabiskan musim dingin di dataran rendah Cina timur dan Jepang selatan.
Habitat yang disukainya di wilayah perkembangbiakannya adalah tepian sungai dan danau yang berhutan lebat dan bersemak. Sebagian besar ditemukan di daerah dataran rendah, tetapi dapat berkembang biak di lembah pada ketinggian hingga 1500 m. Di wilayah Eropa tempat ia diperkenalkan, ia hidup di habitat yang lebih terbuka daripada di wilayah asalnya, di sekitar tepian danau, padang rumput basah, dan area pertanian dengan hutan di dekatnya.
Ancaman terbesar bagi bebek Mandarin adalah hilangnya habitat akibat penebangan kayu. Pemburu juga merupakan ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup bebek Mandarin, karena sering kali mereka tidak dapat mengenali bebek Mandarin saat terbang dan akibatnya banyak yang tertembak secara tidak sengaja. Perlu diketahui, bahwa bebek Mandarin tidak diburu untuk dimakan, tetapi diburu secara ilegal karena mengincar keindahannya yang luar biasa sangat dihargai.
4. Bebek betina bisa berubah menjadi jantan

Bebek Mandarin biasanya berkembang biak di daerah berhutan lebat di dekat danau dangkal, rawa, atau kolam. Mereka bersarang di rongga pohon dekat air dan selama musim semi, betina bertelur di rongga pohon setelah kawin. Satu sarang berisi sembilan hingga dua belas butir telur dan disimpan pada bulan April atau Mei. Meskipun jantan mungkin melindungi betina yang mengerami dan telurnya selama inkubasi, ia sendiri tidak mengerami telur dan pergi sebelum menetas.
Dalam hal reproduksi, biasanya terjadi pada musim semi. Di mana pejantan bersaing memperebutkan betina selama waktu ini. Setelah kawin, betina memilih lubang pohon untuk bersarang. Uniknya, di antara spesies bebek, bebek Mandarin tidak dapat kawin silang dengan bebek lain karena perbedaan jumlah kromosom. Selain itu, bebek Mandarin betina dapat berubah menjadi jantan jika ovarium fungsionalnya gagal, meskipun jantan baru ini tetap mandul. Bebek Mandarin umumnya mempunyai umur tiga hingga enam tahun di alam liar dan dapat bertahan hidup hingga 10 tahun di penangkaran.
5. Makanan bebek mandarin menyesuaikan musimnya

Bebek Mandarin mencari makanan dengan cara mencelupkan kaki ke dalam air atau berjalan di darat. Mereka memakan tumbuhan dan biji-bijian, khususnya biji pohon beech. Kadangkala bebek Mandarin juga menambahkan siput, serangga, dan ikan kecil ke dalam menu makannya.
Uniknya, menu makan bebek Mandarin berubah secara musiman. Pada musim gugur dan musim dingin, mereka akan memakan biji ek dan biji-bijian. Pada musim semi, mereka sebagian besar memakan serangga, siput, ikan, dan tumbuhan air. Sementara itu, pada musim panas, mereka memakan cacing tanah, ikan kecil, katak, moluska, dan ular kecil. Mereka terutama mencari makan menjelang subuh atau senja, bertengger di pohon atau di tanah pada siang hari.
6. Dianggap sebagai simbol kesetiaan suami istri

Bebek Mandarin bukan sekadar makhluk dengan keindahan warna yang luar biasa. Bagi orang Tionghoa, bebek Mandarin disebut sebagai yuanyang, di mana yuan dan yang masing-masing melambangkan bebek Mandarin jantan dan betina. Dalam budaya tradisional Tionghoa, bebek Mandarin dipercaya sebagai pasangan seumur hidup, tidak seperti spesies bebek lainnya. Oleh karena itu, mereka dianggap sebagai simbol kasih sayang dan kesetiaan suami istri dan sering ditampilkan dalam seni Tionghoa.
Lebih dari itu, adanya peribahasa Tionghoa untuk pasangan yang saling mencintai menggunakan bebek Mandarin sebagai metafora 'Dua bebek Mandarin bermain di air'. Simbol bebek Mandarin juga digunakan dalam pernikahan Tiongkok karena dalam tradisi Tiongkok, bebek Mandarin melambangkan kebahagiaan dan kesetiaan dalam pernikahan. Hal ini karena bulu bebek Mandarin jantan dan betina sangat berbeda. Yuan-yang sering digunakan secara informal dalam bahasa Kanton yang berarti 'pasangan aneh' atau 'pasangan yang tidak mungkin', campuran dari dua jenis yang berbeda dalam kategori yang sama.
Sebagai penutup, keberadaan bebek Mandarin adalah bukti bahwa mereka bukan sekadar unggas biasa. Di mana bebek ini mampu mengubah warna bulunya yang mencolok, pola makan yang menyesuaikan dengan musim, hingga si betina yang bisa berubah menjadi bebek jantan. Bahkan, saking populernya, bebek Mandarin telah dinobatkan sebagai simbol kesetiaan pasangan bagi orang Tiongkok.


















