Koala (commons.wikimedia/Till Niermann)
Dilansir Earth.com, pada pertengahan tahun 1990, antropolog biologi Maciej Henneberg dari Universitas Adelaide membuat penemuan mengejutkan saat mempelajari koala di Australia. Telapak kaki mereka memiliki pola melingkar dan berpilin yang rumit, persis seperti sidik jari manusia.
Saking miripnya, di bawah alat mikroskop, sidik jari mereka sangat mirip dengan sidik jari manusia. Sehingga, para peneliti bisa saja salah mengira.
Para ilmuwan percaya, bahwa sidik jari mampu meningkatkan daya cengkram. Sidik jari tampak sempurna untuk memegang perkakas atau memanjat.
Pada tahun 2009, ahli biologi Roland Ennos, dalam sebuah studi menunjukkan bahwa, meskipun sidik jari mungkin tidak menghasilkan gesekan sendiri, namun sidik jari dapat membantu mempertahankan daya cengkram dengan bekerja bersama kelenjar keringat.
Para peneliti menemukan bahwa ketika bersentuhan dengan permukaan yang keras dan kedap air, jari-jari kita melepaskan kelembapan. Kelembapan tersebut meningkatkan gesekan dengan melembutkan kulit di ujung jari kita, dengan bantuan alur-alur kecil pada sidik jari, yang mengarahkan cairan sedemikian rupa sehingga memungkinkan penguapan maksimal.
Sidik jari juga mampu memberikan sensitivitas penting pada ujung jari manusia. Hal ini diperkuat dengan adanya penelitian dari para Fisikawan di Ecole Normale Superieure di Paris, menemukan bahwa alur sidik jari dapat memperkuat getaran yang dihasilkan oleh gesekan ujung jari pada permukaan yang kasar, dan mengirimkan getaran tersebut ke ujung saraf jari.
Dilansir dari PBS.com, nenek moyang kita dan koala sudah terpisah sangat jauh, namun uniknya kita punya kemiripan tertentu. Hal ini terjadi karena adanya evolusi konvergen, yakni kondisi di mana makhluk hidup yang tidak bersaudara secara alami mengembangkan ciri yang serupa untuk bertahan hidup di lingkungan mereka.
Hanya ada beberapa cara bagi hewan untuk hidup di tebing, memanjat pohon, bergerak di bawah air, dan melakukan kegiatan spesifik lainnya. Fenomena evolusi konvergen ini bisa dilihat pada sayap kelelawar dan burung yang berevolusi secara terpisah.
Kemudian ada hiu dan lumba-lumba yang berasal dari garis keturunan yang berpisah ratusan juta tahun lalu, tetapi keduanya mengembangkan kulit halus dan sirip tajam untuk membantu mereka mengejar mangsa.
Selanjutnya ada koala, yang dikenal sebagai hewan yang sangat pilih-pilih dalam hal makanan dan mereka mencari daun eucalyptus sebagai makanan favoritnya. Dalam hal ini koala juga perlu menggenggam dengan cara yang mirip dengan manusia.
Tidak hanya itu, koala juga perlu memanjat secara vertikal ke cabang-cabang kecil pohon eucalyptus, menjangkau, menggenggam daun, dan memasukkannya ke dalam mulut. Jadi, secara keseluruhan, dapat dikatakan kalau sidik jari koala pasti berasal sebagai adaptasi untuk tugas-tugas tersebut.
Perlu diketahui, bahwa wombat dan kanguru adalah sepupu koala. Namun, keduanya tidak memiliki sidik jari seperti koala karena tidak melakukan tugas-tugas seperti yang dilakukan koala.
Adanya gesekan dan sensitivitas yang diberikan sidik jari dapat membantu koala secara bersamaan untuk berpegangan pada pohon dan memetik daun.
Sebagai penutup, benar bahwa koala memiliki sidik jari persis seperti manusia. Hal ini karena koala memiliki tugas-tugas yang spesifik seperti yang dilakukan manusia, mulai dari memanjat pohon secara vertikal, memetik daun, menggenggam daun, dan menjangkau cabang-cabang pohon.