Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Benarkah Mamalia Bisa Menunda Masa Kehamilan? Ini Penjelasannya
ilustrasi mamalia laut beruang kutub (pexels.com/Niklas Jeromin)
  • Fenomena diapause embrionik memungkinkan mamalia menunda perkembangan embrio hingga kondisi lingkungan, nutrisi, dan musim mendukung kelahiran yang optimal bagi induk dan anaknya.
  • Lebih dari 130 spesies mamalia seperti beruang kutub, anjing laut, hewan pengerat, armadillo, serta kanguru mampu menunda kehamilan melalui mekanisme biologis unik sesuai habitatnya.
  • Penundaan kehamilan memberi keuntungan evolusioner dengan memisahkan waktu kawin dan kelahiran agar anak lahir di musim terbaik serta meningkatkan peluang bertahan hidup spesies.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kehidupan hewan di alam liar sangatlah keras, mereka dituntut untuk terus melakukan reproduksi, melahirkan, dan menyusui demi kelangsungan spesiesnya. Namun, dibalik itu semua, beberapa hewan memiliki fenomena biologis yang luar biasa.

Hewan-hewan ini datang dari kelompok mamalia dan hewan pengerat yang mampu menunda masa kehamilan. Benar! Layaknya manusia yang bisa menunda masa kehamilan, di dunia hewan, mamalia pun dapat melakukannya dengan cara-cara yang di luar nalar. Adanya tulisan ini akan membahas lebih dapat bagaimana mamalia mampu menunda masa kehamilan dan alasan di balik penundaanya.

1. Apa itu diapause embrionik?

ilustrasi beruang kutub (pexels.com/Erik Karits)

Dilansir jurnal berjudul Embryonic diapause: a unique stage of development, menjelaskan bahwa diapause embrionik juga dikenal sebagai implantasi tertunda, yaitu keadaan perkembangan terhenti sementara yang terjadi pada beberapa mamalia pada tahap blastokista. Diapause embrionik merupakan strategi evolusioner untuk menunda kelahiran guna memastikan kondisi musiman, nutrisi, lingkungan, dan fisiologis yang optimal terjadi baik untuk kelangsungan hidup maupun pengasuhan keturunan.

Diapause embrionik untuk pertama kali dicatat pada rusa roe. Diketahui diapause embrionik diamati pada lebih dari 130 spesies di berbagai ordo mulai dari hewan pengerat, marsupial, karnivora, cerpelai, musang, sigung, beruang, anjing laut, armadillo, kelelawar, dan beberapa spesies rusa. Ciri khas diapause embrionik adalah pengurangan atau penghentian aktivitas seluler secara dramatis pada embrio.

Pada beberapa spesies, seperti tikus atau marsupial, aktivitas seluler berhenti sepenuhnya ketika terhentinya seluruh pembelahan sel, transkripsi, dan translasi. Sementara itu, pada spesies lain seperti rusa roe, musang, beruang, dan cerpelai, pertumbuhan dan aktivitas tetap ada, tetapi dengan laju yang sangat lambat.

2. Hewan apa saja yang bisa menunda kehamilan?

Kanguru (pexels.com/Kaboompics.com)

Diapause embrionik menunda kelahiran anak pada hewan betina tertentu. Hal ini memungkinkan induk untuk menunggu hingga tanda-tanda fisiologis yang tepat menunjukkan hasil reproduksi yang menguntungkan. Hingga saat itu, embrio blastokista berada dalam keadaan dorman.

Lebih dari 130 spesies hewan telah terbukti menunda kehamilan mereka. Di bawah ini adalah lima diantaranya:

  • Beruang kutub

Beruang kutub betina mampu menyimpan telur yang telah dibuahi hingga mereka siap melanjutkan kehamilan. Pada beruang kutub, masa kehamilan berlangsung selama delapan bulan. Akhir Maret hingga awal Juni adalah waktu yang tepat bagi beruang betina menemukan pasangan.

Mereka melahirkan satu hingga tiga anak pada bulan November atau Desember. Di Arktik banyak ditemukan predator besar berburu mangsa yang mudah sepanjang tahun. Induk beruang kutub ini menunjukkan bahwa tidak ada waktu yang ideal untuk hamil. Namun, tubuh mereka didesain untuk menyimpan embiro hingga waktu yang tepat untuk meningkatkan kehamilan.

  • Anjing laut

Anjing laut mampu menunda kehamilan untuk melahirkan dalam kondisi optimal. Sebagian besar spesies anjing laut kawin dalam beberapa Minggu sebelum musim kawin. Anjing laut jantan telah menetapkan wilayah teritorial dan banyak betina berkumpul, sehingga momennya pun lebih ideal.

Periode kehamilan anjing laut biasanya kurang dari satu tahun, di mana persalinan tidak bertepatan dengan kondisi optimal untuk kelahiran. Artinya, dengan adanya diapause embrionik dapat membantu anjing laut untuk memastikan kelahiran di waktu yang tepat. Beberapa faktor memengaruhi durasi diapause embrio, seperti jenis spesies, habitat, dan kesehatan induk.

Kondisi lingkungan pun dapat memengaruhi waktu implantasi. Misalnya pada anjing laut abu-abu yang mengatur kehamilan berdasarkan suhu air. Di mana menunda implantasi embrio memungkinkan induk untuk bertahan dalam kondisi sulit seperti kelaparan atau cuaca buruk.

  • Hewan pengerat

Embiro beberapa spesies hewan pengerat menunggu untuk berimplantasi sampai tubuh induknya memiliki cadangan makanan dan energi yang cukup. Tikus dan hewan pengerat lainnya mengalami diapause ketika kehidupan di alam liar sangat menantang. Hal ini disebabkan beberapa faktor seperti kekurangan makanan, penyimpanan lemak yang kurang memadai, dan adanya saudara kandung yang lebih tua yang masih menyusui.Tikus peliharaan atau tikus di laboratorium biasanya memiliki hasil kelahiran yang lebih baik. Hal ini disebabkan adanya lingkungan hidup yang lebih terkontrol.

  • Armadillo

Jenis armadillo sembilan pita biasanya melakukan pengaturan popular, di mana betina yang hamil mampu menunda perkembangan embrio hingga dua tahun sebagai respons terhadap tekanan lingkungan yang ekstrem. Implantasi embrio di dinding rahim tertunda selama tiga hingga empat bulan. Hal ini ditambah dengan periode pertumbuhan pesat rata-rata selama lima bulan, artinya waktu rata-rata hingga kelahiran adalah sekitar sembilan bulan.

  • Hewan berkantung

Kanguru dan walabi betina menggunakan kedua rahim selama masa kehamilan. Kehamilan marsupial ditandai dengan durasi kehamilan yang singkat dan periode menyusui yang panjang. Namun, dengan memicu diapause embrionik, kehamilan dapat diperpanjang hingga 11 bulan lamanya. Pada kanguru dan walabi, hormon melatonin dan prolaktin membantu memodulasi pengaruh variabel laktasi dan musiman terhadap diapause.

3. Mengapa mamalia menunda kehamilannya?

ilustrasi anjing laut di Pulau Falkland (commons.wikimedia/Charles J Sharp)

Dilansir The Conversation, keuntungan menunda kehamilan adalah memisahkan perkawinan dan kelahiran. Di mana terdapat dua cara yang digunakan hewan untuk melakukan proses penundaan ini.

Cara pertama, hewan melakukan perkawinan segera setelah melahirkan, untuk memiliki kehamilan cadangan jika terjadi sesuatu pada anak yang baru lahir. Stres akibat menyusui memicu jeda yang berlangsung selama proses menyusui, dan kehamilan dimulai kembali setelah anak mereka keluar dari rahim.

Cara kedua adalah dengan menunda setiap kehamilan hingga waktu yang tepat, biasanya tergantung pada musim kawin.

Misalnya pada hewan cerpelai, yang kawin sekitar awal Maret tetapi menunda pembentukan embrio hingga setelah ekuinoks musim semi (21 Maret), ketika hari-hari semakin panjang di habitat mereka di belahan bumi Utara. Ini memastikan bahwa anak-anaknya lahir di musim semi ketika kondisi membaik dan bukan saat musim dingin.

Selanjutnya, ada Wallaby tammar yang menggabungkan dua metode ini (menyusui di paruh pertama tahun, hari-hari pendek di paruh kedua) untuk beristirahat selama hampir setahun dan melahirkan pada bulan Januari. Ini memastikan anak-anaknya meninggalkan kantung induk pada musim semi berikutnya, bukan di tengah musim panas Australia yang terik.

Jadi, dapat disimpulkan mamalia melakukan diapause embrionik atau penundaan kehamilan demi menghindari musim yang terlalu dingin atau panas agar anak-anaknya tetap hidup dengan baik, selain itu persediaan makanan dan kondisi lingkungan juga memengaruhi hewan untuk melakukan diapause embrionik. Beberapa jenis mamalia melakukan praktek ini seperti kanguru, hewan pengerat, beruang kutub, dan armadillo.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article