Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bukan Cuma Penarik Lawan Jenis, Ini 5 Bentuk Feromon di Dunia Hewan!
ilustrasi feromon di dunia hewan (unsplash.com/topcools tee)
  • Feromon adalah zat kimia tak kasat mata yang digunakan hewan untuk berkomunikasi, tidak hanya soal daya tarik seksual tapi juga penanda wilayah, sinyal bahaya, dan koordinasi kelompok.
  • Penelitian menunjukkan feromon alarm lebah sintetis efektif memicu reaksi penghindaran pada gajah, membuktikan potensi penggunaannya dalam mengurangi konflik manusia dengan satwa liar.
  • Lima jenis utama feromon mencakup jejak, alarm, teritorial, agregasi, dan seks—masing-masing berperan penting menjaga keteraturan sosial serta kelangsungan hidup berbagai spesies hewan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah mikir gak sih gimana caranya semut bisa jalan beriringan rapi membentuk barisan panjang dan tanpa ada komandan yang mengatur? Atau kenapa kucing kesayanganmu suka banget menggosokkan pipinya ke kaki kita sampai bikin gemas? Rahasia di balik perilaku unik ini bukanlah sihir, melainkan cara berkomunikasi yang sangat canggih melalui feromon atau zat kimia tak kasat mata yang dikeluarkan oleh tubuh hewan untuk mengirimkan pesan rahasia satu sama lain tanpa perlu bersuara.

Selama ini, kita mungkin lebih sering mendengar kata feromon dalam konteks daya tarik seksual atau urusan asmara di dunia hewan. Padahal, fungsi dari hal ini jauh lebih luas dan kompleks daripada sekadar mencari pasangan hidup untuk reproduksi. Dari menandai wilayah kekuasaan hingga memberikan sinyal bahaya darurat, yuk, simak lima bentuk dan fungsi feromon di dunia hewan yang bakal bikin kamu takjub!

1. Feromon jejak, trail pheromone, gps alami si pekerja keras

ilustrasi trail pheromone (unsplash.com/Salmen Bejaoui)

Feromon jejak atau trail pheromone merupakan salah satu bentuk sistem komunikasi kimiawi yang sangat efisien, terutama bagi serangga sosial seperti semut dan rayap. Zat kimia ini disekresikan dalam jumlah yang sangat sedikit oleh kelenjar khusus tubuh hewan, lalu ditinggalkan di sepanjang jalur tertentu menuju sumber makanan. Sinyal tak kasat mata ini kemudian di deteksi oleh anggota koloni lainnya, sehingga mereka dapat bergerak beriringan secara teratur dan menemukan lokasi makanan dengan akurat tanpa perlu tersesat atau membutuhkan komando suara. Dilansir laman Britannica, karakteristik feromon jejak dan pemikat umumnya dirancang agar dapat bertahan lebih lama dan menjangkau jarak yang lebih jauh di lingkungan terbuka, berbeda dengan feromon bahaya yang biasanya menguap lebih cepat.

2. Feromon alarm, alarm pheromones, tombol darurat saat bahaya mengintai

ilustrasi alarm pheromones (unsplash.com/Damien TUPINIER)

Dilansir jurnal Wiley, dalam penelitiannya mengevaluasi efektivitas penggunaan campuran feromon alarm lebah madu sintetis sebagai metode alternatif berbasis penciuman (olfaktori) untuk mengatasi konflik manusia dengan gajah. Dilakukan di Afrika Selatan, studi ini berfungsi untuk studi zat pengusir gajah pasif. Metode ini dirancang untuk memanfaatkan ketakutan alami gajah terhadap sengatan lebah tanpa perlu memelihara koloni lebah hidup yang membutuhkan operasional tinggi serta perawatan logistik yang rumit.

Hasil analisisnya menunjukkan bahwa feromon lebah sintetis tersebut sangat aktif dalam memicu respons penolakan atau menghindari gajah, dengan tingkat reaksi yang bervariasi tergantung pada jenis kelamin, usia, dan ukuran kawanan. Gajah yang terpapar zat ini menunjukkan perilaku mulai dari kekhawatiran ringan hingga penolakan kuat, seperti mengepakkan telinga, mengangkat belalai, mengubah arah jalan, hingga kawanan bergegas pergi menjauh.

3. Feromon territorial, territorial pheromones, sertifikat tanah versi hewan

ilustrasi salamander (unsplash.com/iuliu illes)

Feromon dalam bentuk tanda aroma (scent marks) memegang peranan penting dalam perilaku territorial mamalia serta vertebrata darat lainnya, seperti kadal dan salamander. Wilayah kekuasaan atau teritori ini secara garis besar didefinisikan sebagai area yang dipertahankan demi mengamankan sumber daya penting, seperti tempat mencari makan, lokasi sarang, atau wilayah untuk memikat pasangan. Kepemilikan wilayah ini bervariasi tergantung pada spesiesnya, ada teritori yang dikuasai oleh satu pejantan tunggal seperti beberapa jenis antelop dan ada pula yang dipertahankan secara kolektif oleh suatu kelompok sosial seperti pada hewan marten atau badger.

4. Feromon agregasi, aggregation pheromones, undangan nongkrong bareng

ilustrasi feromon agregasi (unsplash.com/Dahveed Mollel)

Feromon agregasi pada serangga trips merupakan senyawa volatile jenis ester monoterpenoid dari asam 5-karbon yang diproduksi oleh serangga jantan dewasa. Senyawa ini dilepaskan melalui lempeng pori (pore plates) pada bagian perut yang terhubung dengan kelenjar sternal. Meskipun dilepaskan oleh pejantan, feromon ini berfungsi secara efektif untuk menarik serangga jantan maupun betina sekaligus. Beberapa spesies trips yang telah diidentifikasi memiliki dan merespons feromon agregasi spesifik ini dan hanya menarik spesies mereka saja.

5. Feromon seks, sex pheromones, aplikasi kencan kimiawi

ilustrasi sex pheromones (unsplash.com/Dušan veverkolog)

Feromon seks merupakan sinyal kimiawi hasil evolusi yang berfungsi sebagai komunikasi vital bagi sesama anggota spesies untuk menemukan pasangan dan melakukan reproduksi. Sebagai instrumen penentu keberhasilan perkawinan, feromon seks bekerja sangat efektif melalui indra penciuman, baik yang disebarkan melalui hembusan angin seperti pada ngengat sutra maupun dialirkan lewat arus air seperti pada ikan mas atau goldfish. Sistem ini terbukti memiliki tingkat sensitivitas yang luar biasa, molekul kimia dalam jumlah yang sangat sedikit sekalipun sudah mampu dideteksi oleh organ penerima (reseptor) lawan jenis dan langsung memicu respons perilaku pencarian pasangan yang spesifik dari jarak jauh.

Feromon membuktikan bahwa komunikasi di dunia hewan jauh lebih kompleks daripada sekadar suara atau gerakan fisik. Senyawa kimia tak kasat mata ini bertindak sebagai “bahasa rahasia” yang menjaga keteraturan, memastikan keselamatan, hingga menentukan kelangsungan hidup suatu spesies. Mulai dari jejak semut yang rapi hingga alarm bahaya yang memicu aksi penyelamatan diri massal, feromon adalah bukti betapa luar biasanya adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article