Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bintang Bisa Berwarna Hijau? Ini 7 Fakta White Dwarf J1330+6435

10 min read
Bintang Bisa Berwarna Hijau? Ini 7 Fakta White Dwarf J1330+6435
ilustrasi white dwarf bintang hijau pertama (unsplash.com/Planet Volumes)
  • WD J1330+6435, katai putih berjarak sekitar 280 tahun cahaya di rasi Draco, diperkirakan tampak hijau kekuningan berdasarkan pemodelan spektrum, bukan foto langsung.
  • Rona tidak lazim ini dipicu atmosfer sangat padat dengan natrium yang menyerap cahaya jingga-merah serta kalsium pada wilayah ungu, sehingga spektrum bergeser ke sekitar 500 nanometer.
  • Jejak natrium, kalsium, dan litium di atmosfernya membantu astronom meneliti fisika katai putih serta kemungkinan material berbatu dari sisa sistem planet yang terakresi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Selama ini, kita mengenal bintang melalui warna-warna yang relatif familier, mulai dari merah, jingga, kuning, putih, hingga biru. Warna tersebut kerap menjadi petunjuk bagi astronom untuk memahami suhu dan karakteristik fisik sebuah bintang. Namun, bagaimana jika ada bintang yang justru diperkirakan berwarna hijau? Fenomena yang terdengar seperti fiksi ilmiah ini ternyata memiliki penjelasan ilmiah. Sebuah objek bernama WD J1330+6435 menjadi sorotan setelah para astronom menghitung bahwa white dwarf atau katai putih tersebut dapat terlihat berwarna hijau kekuningan, jika diamati dari jarak dekat.

Penelitian yang diterbitkan dalam RAS Techniques and Instruments mengungkap bahwa komposisi kimia atmosfer katai putih dapat menghasilkan warna yang jauh lebih beragam daripada perkiraan sebelumnya. Studi yang dipimpin oleh Mark Hollands dari University of Warwick itu menunjukkan bahwa beberapa katai putih secara teoretis dapat tampak hijau, merah muda, ungu, sian, hingga kuning. WD J1330+6435 menjadi salah satu objek paling menarik karena rona hijaunya relatif kuat dalam pemodelan warna. Lantas, apa saja keunikan bintang ini dan bagaimana para astronom menjelaskan fenomenanya? Yuk, kita telusuri di bawah!

  1. 1. Diperkirakan menjadi bintang hijau pertama yang diketahui

    ilustrasi white dwarf bintang hijau pertama
    ilustrasi white dwarf bintang hijau pertama (unsplash.com/Javier Miranda)

    WD J1330+6435 menarik perhatian karena diperkirakan mempunyai warna chartreuse, yakni rona yang berada di antara hijau dan kuning. Berdasarkan penelitian terbaru 2026, pemodelan spektrum bintang tersebut menghasilkan warna hijau yang cukup jelas di bagian tengah cakram bintangnya. Temuan ini menjadi istimewa karena, sejauh pengetahuan para peneliti, belum ada bintang lain yang sebelumnya dilaporkan secara meyakinkan mempunyai warna hijau seperti itu.

    Warna bintang pada umumnya berkaitan erat dengan suhu permukaannya. Bintang yang lebih panas cenderung tampak putih kebiruan, sedangkan bintang yang lebih dingin dapat terlihat kekuningan atau kemerahan. Akan tetapi, hubungan tersebut tidak selalu cukup untuk menjelaskan warna katai putih. Atmosfernya yang sangat padat serta keberadaan unsur kimia tertentu dapat mengubah spektrum cahaya secara signifikan. Akibatnya, warna yang dipersepsikan oleh mata manusia tidak selalu mengikuti pola warna bintang biasa.

    Meski demikian, status WD J1330+6435 sebagai bintang hijau perlu dipahami secara tepat. Para astronom tidak mengamati sebuah bola hijau secara langsung dari dekat, melainkan menghitung warna yang mungkin terlihat oleh mata manusia berdasarkan spektrum dan model atmosfernya. Penelitian tersebut juga mengakui adanya ketidakpastian karena spektrum yang tersedia mengandung derau atau noise. Jadi, keunikannya terletak pada hasil pemodelan ilmiah yang mendukung warna hijau, bukan sekadar ilustrasi astronomi yang diberi warna menarik.

  2. 2. Berjarak sekitar 280 tahun cahaya dari Bumi

    ilustrasi white dwarf bintang hijau pertama
    ilustrasi white dwarf bintang hijau pertama (unsplash.com/Michael Mwangi)

    WD J1330+6435 terletak sekitar 280 tahun cahaya dari Bumi, di rasi bintang Draco atau Naga. Dalam astronomi, satu tahun cahaya merupakan jarak yang ditempuh cahaya selama satu tahun, sekitar 9,46 triliun kilometer. Dengan demikian, jarak bintang ini setara dengan sekitar 2,65 kuadriliun kilometer jika dikonversi secara kasar. Angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun objek ini tergolong dekat dalam skala astronomi tertentu, jaraknya tetap sangat jauh bagi manusia.

    Nama WD J1330+6435 bukan nama julukan yang diberikan karena warnanya. Awalan WD merujuk pada white dwarf atau katai putih, sedangkan rangkaian karakter setelahnya berkaitan dengan koordinat posisi objek di langit. Penamaan semacam ini membantu astronom mengidentifikasi objek secara konsisten dalam katalog dan penelitian ilmiah. Menurut pembahasan objek tersebut dalam tim penelitian, WD J1330+6435 telah menjadi perhatian astronom sebelum pemodelan terbaru mengenai warnanya diterbitkan.

    Jarak yang sangat jauh juga menjelaskan mengapa warna hijau bintang ini tidak bisa begitu saja dinikmati dengan mata telanjang. Katai putih umumnya berukuran kecil dibandingkan bintang seperti Matahari dan memancarkan cahaya yang relatif redup. Untuk objek yang sangat jauh, cahaya yang sampai ke Bumi juga tidak cukup untuk memperlihatkan cakram bintangnya secara terperinci. Karena itu, gambar yang menampilkan WD J1330+6435 dengan warna hijau sebaiknya dipahami sebagai visualisasi berdasarkan hasil penelitian, bukan foto jarak dekat yang menunjukkan permukaan bintang secara langsung.

  3. 3. Merupakan sisa inti bintang yang telah berevolusi

    ilustrasi white dwarf bintang hijau pertama
    ilustrasi white dwarf bintang hijau pertama (unsplash.com/Javier Miranda)

    Katai putih terbentuk ketika bintang bermassa rendah hingga menengah menghabiskan bahan bakar nuklirnya dan melepaskan lapisan luar. Bagian inti yang tersisa kemudian menjadi objek yang sangat padat, tanpa lagi menghasilkan energi melalui fusi nuklir seperti ketika masih berada pada fase utama kehidupannya. Proses evolusi tersebut menjadikan katai putih sebagai salah satu tahap akhir perjalanan banyak bintang di alam semesta. Matahari, misalnya, diperkirakan akan menjadi katai putih setelah melewati fase raksasa merah miliaran tahun mendatang.

    Walaupun disebut katai putih, tidak semua objek dalam kelompok ini benar-benar tampak putih bagi mata manusia. Sebagian besar memang mempunyai warna yang mendekati putih, tetapi karakteristik atmosfernya dapat menghasilkan variasi warna yang tidak biasa. Penelitian lebih lanjut memperlihatkan bahwa unsur-unsur seperti karbon, kalsium, dan natrium dapat memengaruhi cahaya yang keluar dari atmosfer katai putih. Efek tersebut menjadi sangat penting pada objek yang atmosfernya padat dan memiliki kandungan unsur berat.

    WD J1330+6435 memperlihatkan bahwa tahap akhir evolusi bintang tidak berarti kehilangan seluruh nilai ilmiahnya. Sebaliknya, katai putih dapat menjadi laboratorium alami untuk mempelajari fisika materi pada kondisi ekstrem. Dengan menganalisis cahaya yang dipancarkan, astronom dapat memperoleh informasi tentang suhu, gravitasi permukaan, komposisi atmosfer, hingga kemungkinan material dari sistem planet yang pernah mengitarinya. Dengan kata lain, objek yang merupakan sisa bintang ini masih menyimpan banyak petunjuk tentang sejarah kosmiknya.

  4. 4. Kandungan natrium menjadi kunci warna hijaunya

    ilustrasi white dwarf bintang hijau pertama
    ilustrasi white dwarf bintang hijau pertama (unsplash.com/Michael Mwangi)

    Salah satu faktor utama yang menjelaskan warna WD J1330+6435 adalah keberadaan natrium dalam atmosfernya. Dalam kondisi biasa, atom natrium menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu. Namun, atmosfer katai putih yang sangat padat dapat memperlebar rentang penyerapan tersebut secara drastis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyerapan cahaya oleh natrium pada WD J1330+6435 cukup kuat, untuk mengubah keseimbangan spektrum yang akhirnya diterima oleh mata manusia.

    Pada bintang ini, penyerapan natrium memengaruhi wilayah spektrum yang mencakup cahaya jingga dan sebagian wilayah panjang gelombang yang lebih merah. Kalsium juga berperan dengan menyerap cahaya pada wilayah ungu. Kombinasi penyerapan tersebut mengubah distribusi cahaya tampak yang keluar dari atmosfernya. Dalam model penelitian, puncak fluks yang relevan bagi persepsi warna berada di sekitar panjang gelombang 500 nanometer, sehingga warna yang dihitung menjadi hijau kekuningan.

    Fenomena ini memperlihatkan bahwa warna bintang tidak selalu ditentukan oleh suhu saja. Pada bintang biasa, suhu merupakan faktor dominan yang membentuk spektrum cahaya. Namun, pada katai putih dengan atmosfer sangat padat dan kaya unsur berat, interaksi antara atom dan helium dapat mengubah penyerapan cahaya secara ekstrem. Penjelasan ini juga menunjukkan mengapa warna hijau WD J1330+6435 tidak berarti bintang tersebut memiliki permukaan yang tersusun atas bahan berwarna hijau. Warna tersebut merupakan hasil interaksi fisika antara cahaya dan materi di atmosfernya.

  5. 5. Atmosfernya menyimpan jejak unsur kalsium dan litium

    ilustrasi white dwarf bintang hijau pertama
    ‎ilustrasi white dwarf bintang hijau pertama (unsplash.com/Bhautik Patel)

    Selain natrium, WD J1330+6435 diketahui memiliki jejak kalsium dan litium dalam spektrumnya. Keberadaan unsur-unsur tersebut menjadi alasan astronom tertarik mempelajari komposisi atmosfernya. Pada katai putih, unsur berat seperti kalsium tidak selalu bertahan lama di atmosfer bagian luar karena gravitasi yang sangat kuat cenderung menariknya ke bawah. Karena itu, keberadaan unsur berat dapat menjadi petunjuk bahwa ada material yang masuk ke atmosfer bintang tersebut—dalam periode yang relatif baru pada skala evolusi astronomi.

    Penelitian terdahulu mengenai WD J1330+6435, telah menelaah karakteristik spektrum dan komposisi kimianya. Studi terbaru tahun 2026 kemudian menggunakan pemodelan atmosfer yang diperbarui, termasuk pendekatan yang lebih sesuai untuk menggambarkan penyerapan natrium. Perbaikan model ini penting karena perbedaan cara menghitung penyerapan atom dapat memengaruhi perkiraan suhu dan warna objek.

    Meskipun unsur-unsur tersebut memberi petunjuk kuat tentang komposisi atmosfer, astronom tetap perlu membedakan antara apa yang terukur dan apa yang disimpulkan. Spektrum dapat memperlihatkan keberadaan unsur kimia, tetapi asal-usul material tersebut perlu ditafsirkan dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan dan bukti pendukung. Pada WD J1330+6435, salah satu penjelasan yang dibahas adalah masuknya material berbatu dari sistem planetnya. Temuan semacam ini membantu ilmuwan menyelidiki hubungan antara katai putih dan sisa-sisa benda langit yang pernah mengorbitnya.

  6. 6. Warnanya dihitung melalui pemodelan spektrum, bukan foto langsung

    ilustrasi white dwarf bintang hijau pertama
    ilustrasi white dwarf bintang hijau pertama (unsplash.com/Javier Miranda)

    Untuk memahami warna WD J1330+6435, astronom tidak cukup hanya mengukur seberapa terang bintang tersebut. Mereka perlu mempelajari spektrum, yaitu distribusi cahaya berdasarkan panjang gelombangnya. Spektrum dapat menunjukkan bagian cahaya mana yang diserap oleh unsur kimia tertentu. Dengan menggabungkan data spektrum dan model atmosfer, para peneliti dapat memperkirakan bagaimana cahaya bintang akan diterima oleh sistem penglihatan manusia. Pendekatan ini digunakan dalam studi Hollands dan tim yang terbit pada 2026.

    Warna yang dipersepsikan manusia bergantung pada respons mata terhadap berbagai panjang gelombang cahaya tampak. Karena itu, peneliti memetakan spektrum yang dihitung ke model persepsi warna untuk memperkirakan tampilan bintang jika cakramnya dapat diamati dari dekat. Hasilnya menunjukkan bahwa WD J1330+6435 mempunyai rona hijau yang relatif kuat di bagian tengah cakramnya. Warna tersebut kemudian dapat divisualisasikan melalui ilustrasi yang dibuat berdasarkan hasil perhitungan ilmiah, dengan tetap memperhatikan batasan model.

    Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa ilustrasi berwarna bukan pengganti data spektrum. Warna pada gambar astronomi dapat disesuaikan untuk menampilkan informasi tertentu, sehingga tidak selalu mencerminkan warna yang akan dilihat mata manusia. Dalam kasus WD J1330+6435, warna hijau kekuningan memiliki dasar berupa hasil pemodelan ilmiah, tetapi tingkat kepastian warna persisnya masih dipengaruhi kualitas data dan asumsi model atmosfer. Inilah sebabnya temuan tersebut menarik. Bukan karena sebuah foto hijau yang mengejutkan, melainkan karena perhitungan fisika dapat menjelaskan kemungkinan warna yang tidak lazim pada bintang.

  7. 7. Menyimpan petunjuk tentang sistem planet masa lalu

    ilustrasi white dwarf bintang hijau pertama
    ilustrasi white dwarf bintang hijau pertama (unsplash.com/Bhautik Patel)

    Salah satu aspek paling menarik dari WD J1330+6435 adalah kemungkinan bahwa unsur-unsur berat di atmosfernya berasal dari material berbatu yang pernah mengorbit bintang tersebut. Dalam sistem bintang yang berevolusi menjadi katai putih, benda-benda seperti asteroid atau planetesimal dapat mengalami gangguan gravitasi. Sebagian materialnya kemudian bisa jatuh ke bintang dan meninggalkan jejak kimia pada atmosfer. Proses ini membuat katai putih dapat menjadi sarana untuk mempelajari komposisi benda-benda planet di luar tata surya.

    Ketika material berbatu masuk ke atmosfer katai putih, unsur-unsur yang dikandungnya dapat memengaruhi spektrum cahaya. Dengan menganalisis unsur seperti kalsium, litium, dan natrium, para astronom dapat menguji dugaan tentang komposisi material yang telah terakresi. Namun, keberadaan unsur tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa sebuah planet utuh pernah ditelan oleh bintang. Material itu bisa berasal dari benda yang lebih kecil, pecahan planetesimal, atau puing-puing sistem planet yang mengalami perubahan setelah bintang induknya berevolusi.

    Penelitian tentang WD J1330+6435 karena itu memiliki arti lebih luas, daripada sekadar menemukan bintang dengan warna tidak biasa. Katai putih ini memberikan kesempatan untuk memahami bagaimana sistem planet berubah ketika bintang induknya menua dan memasuki tahap akhir evolusi. Jika pengamatan dan pemodelan lanjutan mampu menjelaskan komposisi atmosfernya dengan lebih baik, para astronom dapat memperoleh gambaran yang lebih mendalam tentang nasib benda-benda berbatu di sekitar bintang yang telah berevolusi. Pada akhirnya, warna hijau tersebut bukan hanya keunikan visual, melainkan pintu masuk untuk menyelidiki sejarah sebuah sistem planet.

    WD J1330+6435 mengingatkan kita bahwa alam semesta tidak selalu mengikuti kesan sederhana yang kita peroleh dari pengamatan sehari-hari. Sebuah katai putih yang tampak biasa dalam katalog astronomi ternyata dapat memperlihatkan warna yang tidak lazim ketika spektrum dan atmosfernya dianalisis lebih mendalam. Penelitian ini juga menegaskan bahwa warna bintang tidak hanya berkaitan dengan suhu, tetapi dapat dipengaruhi oleh komposisi kimia dan kondisi fisik atmosfernya. Meski rona hijau WD J1330+6435 masih merupakan hasil pemodelan dan memiliki ketidakpastian, objek ini menjadi contoh menarik tentang bagaimana penelitian ilmiah dapat mengungkap keragaman yang tersembunyi di balik cahaya bintang.

    Referensi

    Hollands, M. A., et al. (2026). “Any Colour You Like: The Diverse Chromaticities of White Dwarfs” RAS Techniques and Instruments, Vol. 5(rzag069): 1—34. Diakses dari https://doi.org/10.1093/rasti/rzag069

    Hollands, M. A., et al. (2021). “Alkali metals in white dwarf atmospheres as Tracers of ancient planetary crusts”. Nature Astronomy, Vol. 5(5): 451—459. Diakses dari https://sci.bban.top/pdf/10.1038/s41550-020-01296-7.pdf

    Kaiser, B. C., et al. (2020). “Lithium pollution of a white dwarf records the accretion of an extrasolar planetesimal”. Science, Vol 371(6525): 168—172. Diakses dari https://sci.bban.top/pdf/10.1126/science.abd1714.pdf

    Science Daily. (2026). “Astronomers discover a ghostly green star unlike any known before”. Article of University of Warwick. Diakses dari https://sciencedaily.com/releases/2026/10/261017230018.htm

    Will Dunham. (2026). “Newly Identified Green Star Leaves Astronomers Amazed”. Article of Reuters. Diakses dari https://www.reuters.com/science/newly-identified-green-star-leaves-astronomers-amazed-2026-10-16/

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More