ilustrasi white dwarf bintang hijau pertama (unsplash.com/Bhautik Patel)
Salah satu aspek paling menarik dari WD J1330+6435 adalah kemungkinan bahwa unsur-unsur berat di atmosfernya berasal dari material berbatu yang pernah mengorbit bintang tersebut. Dalam sistem bintang yang berevolusi menjadi katai putih, benda-benda seperti asteroid atau planetesimal dapat mengalami gangguan gravitasi. Sebagian materialnya kemudian bisa jatuh ke bintang dan meninggalkan jejak kimia pada atmosfer. Proses ini membuat katai putih dapat menjadi sarana untuk mempelajari komposisi benda-benda planet di luar tata surya.
Ketika material berbatu masuk ke atmosfer katai putih, unsur-unsur yang dikandungnya dapat memengaruhi spektrum cahaya. Dengan menganalisis unsur seperti kalsium, litium, dan natrium, para astronom dapat menguji dugaan tentang komposisi material yang telah terakresi. Namun, keberadaan unsur tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa sebuah planet utuh pernah ditelan oleh bintang. Material itu bisa berasal dari benda yang lebih kecil, pecahan planetesimal, atau puing-puing sistem planet yang mengalami perubahan setelah bintang induknya berevolusi.
Penelitian tentang WD J1330+6435 karena itu memiliki arti lebih luas, daripada sekadar menemukan bintang dengan warna tidak biasa. Katai putih ini memberikan kesempatan untuk memahami bagaimana sistem planet berubah ketika bintang induknya menua dan memasuki tahap akhir evolusi. Jika pengamatan dan pemodelan lanjutan mampu menjelaskan komposisi atmosfernya dengan lebih baik, para astronom dapat memperoleh gambaran yang lebih mendalam tentang nasib benda-benda berbatu di sekitar bintang yang telah berevolusi. Pada akhirnya, warna hijau tersebut bukan hanya keunikan visual, melainkan pintu masuk untuk menyelidiki sejarah sebuah sistem planet.
WD J1330+6435 mengingatkan kita bahwa alam semesta tidak selalu mengikuti kesan sederhana yang kita peroleh dari pengamatan sehari-hari. Sebuah katai putih yang tampak biasa dalam katalog astronomi ternyata dapat memperlihatkan warna yang tidak lazim ketika spektrum dan atmosfernya dianalisis lebih mendalam. Penelitian ini juga menegaskan bahwa warna bintang tidak hanya berkaitan dengan suhu, tetapi dapat dipengaruhi oleh komposisi kimia dan kondisi fisik atmosfernya. Meski rona hijau WD J1330+6435 masih merupakan hasil pemodelan dan memiliki ketidakpastian, objek ini menjadi contoh menarik tentang bagaimana penelitian ilmiah dapat mengungkap keragaman yang tersembunyi di balik cahaya bintang.
Referensi
Hollands, M. A., et al. (2026). “Any Colour You Like: The Diverse Chromaticities of White Dwarfs” RAS Techniques and Instruments, Vol. 5(rzag069): 1—34. Diakses dari https://doi.org/10.1093/rasti/rzag069
Hollands, M. A., et al. (2021). “Alkali metals in white dwarf atmospheres as Tracers of ancient planetary crusts”. Nature Astronomy, Vol. 5(5): 451—459. Diakses dari https://sci.bban.top/pdf/10.1038/s41550-020-01296-7.pdf
Kaiser, B. C., et al. (2020). “Lithium pollution of a white dwarf records the accretion of an extrasolar planetesimal”. Science, Vol 371(6525): 168—172. Diakses dari https://sci.bban.top/pdf/10.1126/science.abd1714.pdf
Science Daily. (2026). “Astronomers discover a ghostly green star unlike any known before”. Article of University of Warwick. Diakses dari https://sciencedaily.com/releases/2026/10/261017230018.htm
Will Dunham. (2026). “Newly Identified Green Star Leaves Astronomers Amazed”. Article of Reuters. Diakses dari https://www.reuters.com/science/newly-identified-green-star-leaves-astronomers-amazed-2026-10-16/