Burung pelatuk (pexels.com/Ray)
Burung pelatuk termasuk dari keluarga Picidae. Kelompok burung ini tersebar di berbagai penjuru dunia kecuali Australia, Nugini, Selandia Baru, Madagaskar, dan daerah kutub.
Sesuai dengan namanya, burung pelatuk sangat populer karena kemampuannya mematuk batang atau dahan pohon untuk membuat lubang demi menangkap serangga dan mengekstrak getah. Mereka mampu melakukan itu semua tanpa menyakiti diri atau merasa terlukai.
Diketahui, burung pelatuk punya bulu ekor dan kuku yang kuat, sehingga mereka mampu terbang dan menyeimbangkan tubuh mereka ketika paruhnya mematuki batang pohon dengan kecepatan 7 meter per detik. Saat paruh mereka menyerang, kepalanya melambat sekitar 1.200 kali gaya gravitasi. Semua ini terjadi tanpa menyebabkan kehilangan kesadaran atau kerusakan otak.
Tubuh burung pelatuk dilengkapi dengan tulang hyoid yang membantu menopang lidah burung pelatuk. Tulang inilah yang berperan penting dalam meredam benturan pada tengkorak saat burung pelatuk sibuk memukulkan paruhnya dengan keras ke kayu.
Diketahui, burung pelatuk tidak mengalami cedera kepala pada kecepatan tinggi 6-7 m/s dengan perlambatan 1000 g saat memukul batang pohon. Sungguh kekuatan yang luar biasa, yang mana kekuatan seperti itu tidak hanya menyebabkan gegar otak dan sakit kepala hebat pada sebagian besar tulang belakang, tetapi hampir mengakibatkan cedera otak permanen. Tulang hyoid sendiri terletak di leher dan terdapat pada semua tulang belakang. Tulang ini terdiri dari tulang rawan, tulang, dan jaringan ikat yang membantu menopang otot lidah.
Pada manusia, ukurannya cukup kecil dan berbentuk seperti huruf 'U'. Namun, pada burung, strukturnya lebih kompleks. Hyoid burung memiliki dua lengan yang memanjang dan membentang di sekeliling tulang tengkorak hingga ujung lidah, atau disebut sebagai 'tanduk hyoid'.
Tanduk tulang hyoid pada burung pelatuk sangat panjang dan mendorong lidah keluar dari paruhnya saat bergerak maju. Artinya, burung pelatuk dapat menjulurkan lidahnya jauh ke dalam lubang pohon dan celah di kulit kayu dan demikian berhasil memakan serangga yang bersembunyi di habitat tersebut. Tanduk tulang hyoid juga melingkari tengkorak, menjaga struktur tulang hyoid tetap pada tempatnya, ibaratkan seperti sabuk pengaman atau pengikat.
Uniknya lagi, tanduk tulang hyoid bekerja ketika lidah tidak sibuk memangsa serangga. Ibaratnya, sama seperti peredam kejut yang membuat sepeda lebih nyaman saat dikendarai, begitupun hyoid pada burung pelatuk yang mampu melindungi tengkorak dari kekuatan benturan. Struktur tersebut sangat elastis, sehingga ketika keadaan istirahat, ia terbungkus di sekitar tengkorak, seperti sebuah bantalan elastis dan pelindung untuk otak.
Tulang hyoid juga menunjukkan bahwa tulang tersebut merupakan struktur beruas dan memiliki inti bagian dalam yang keras dengan lapisan luar yang lebih fleksibel. Ditemukan juga bahwa area posterior tulang hyoid memiliki resistensi terendah terhadap pembengkokan, yang menunjukkan bahwa area tersebut sangat fleksibel dan memang dirancang sempurna untuk meredam benturan.