Referensi:
“Earth’s interior is cooling faster than expected”. ET Zurich. Diakses Januari 2026.
“Whole-mantle convection with tectonic plates preserves long-term global patterns of upper mantle geochemistry”. Natural Science. Diakses Januari 2026.
“The Intertropical Convergence Zone”. NASA Earth Observatory. Diakses Januari 2026.
“The Earth’s Core Might Be Cooling Much Faster Than We Previously Thought”. Interesting Engineering. Diakses Januari 2026.
“Suhu Udara Bikin Menggigil, Ternyata Ini Penyebabnya!”. BMKG. Diakses Januari 2026.
Dampak Sisi Bumi Dingin Lebih Cepat, Akankah Bumi Mati?

- Struktur kerak dan kebocoran panas pasifik: Kerak samudra di Pasifik bertindak sebagai "jendela" bagi energi internal Bumi, mempercepat aliran panas dari inti ke mantel.
- Ancaman melambatnya tektonika lempeng: Penurunan suhu internal yang tidak merata dapat memperlambat pergerakan lempeng tektonik di seluruh dunia.
- Pergeseran cuaca ekstrem dan pola angin global: Pendinginan tak seimbang merusak sirkulasi atmosfer global, menyebabkan cuaca ekstrem dan pergeseran Zona Konvergensi Antartropis.
Pernahkah membayangkan jika rumah yang kita tinggali memiliki pendingin ruangan yang hanya berfungsi di satu sisi saja? Di satu ruangan terasa panas, tapi di sisi lain suhu terus merosot tajam. Fenomena ganjil inilah yang sedang didalami oleh para ilmuwan, di mana mereka menemukan dampak sisi bumi dingin lebih cepat yang terjadi di bawah Samudra Pasifik. Ketidakseimbangan ini bukan sekadar anomali cuaca, melainkan tanda adanya perubahan besar pada jantung mekanis planet kita, lho.
Guys, ternyata struktur Bumi tak seimbang dalam melepaskan panas energinya ke ruang angkasa. Kerak samudra di wilayah Pasifik jauh lebih tipis dibandingkan kerak benua yang tebal, sehingga panas dari inti Bumi "bocor" lebih mudah di sana. Fenomena ini ibarat sebuah wadah panas yang salah satu sisinya terbuat dari material tipis, sehingga energinya terkuras lebih cepat di titik tersebut. Ketimpangan ini menjadi perhatian serius karena sangat memengaruhi kestabilan geologis yang selama ini melindungi kehidupan manusia. Apa saja dampak sisi bumi dingin lebih cepat?
1. Struktur kerak dan kebocoran panas pasifik

Berdasarkan penelitian terbaru dari ETH Zurich (2022) yang dipimpin oleh Prof. Motoki Murakami, planet kita melepaskan panas jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya. Penelitian ini menggunakan material bridgmanite untuk menyimulasikan kondisi di perbatasan inti dan mantel Bumi. Hasilnya menunjukkan bahwa konduktivitas termal material tersebut 1,5 kali lebih tinggi dari dugaan awal, yang mempercepat aliran panas dari inti ke mantel, terutama di area kerak yang tipis.
Kita perlu memahami bahwa kerak samudra di Pasifik bertindak sebagai "jendela" yang terbuka lebar bagi energi internal Bumi. Karena tipisnya lapisan ini, mekanisme pelepasan panas internal menjadi sangat agresif dibandingkan dengan belahan benua yang memiliki lapisan "selimut" tebal. Perbedaan struktur ini menciptakan ketimpangan suhu yang masif antara wilayah Pasifik dan benua besar seperti Afrika atau Eurasia.
2. Ancaman melambatnya tektonika lempeng

Penurunan suhu internal yang tidak merata ini memberikan dampak signifikan pada konveksi mantel Bumi. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Geoscience menjelaskan bahwa konveksi mantel adalah mesin penggerak utama lempeng tektonik. Jika sisi Pasifik terus mendingin lebih cepat, arus konveksi ini akan terganggu, yang secara bertahap dapat memperlambat pergerakan lempeng tektonik di seluruh dunia.
Kita yang tinggal di wilayah aktif secara geologis, tentu merupakan kabar yang sangat krusial untuk masa depan jangka panjang. Jika pergerakan lempeng melambat, proses pembentukan pegunungan dan aktivitas vulkanik yang mendaur ulang karbon dioksida juga akan terhenti. Hal ini berarti Bumi perlahan-lahan kehilangan kemampuan alaminya untuk mengatur iklim dan memelihara kesuburan tanah melalui aktivitas geologis, lho.
3. Pergeseran cuaca ekstrem dan pola angin global
Data dari NASA Earth Observatory menunjukkan bahwa pendinginan yang tak seimbang ini merusak sirkulasi atmosfer global secara sistematis. Kita mungkin mulai merasakan cuaca yang makin ekstrem, seperti hujan intens yang menetap sangat lama atau kekeringan musim panas yang tak berujung. Salah satu pemicunya adalah fenomena "blocking highs," di mana tekanan tinggi terjebak di satu lokasi akibat gangguan arus jet yang dipengaruhi oleh distribusi suhu global.
Selain itu, penelitian atmosfer menunjukkan risiko pergeseran Zona Konvergensi Antartropis (ITCZ) ke arah selatan akibat pendinginan belahan utara yang lebih cepat. Pergeseran ini sangat berbahaya karena ITCZ adalah jalur utama curah hujan bagi wilayah tropis. Kita bisa melihat dampaknya pada melemahnya pola angin di Afrika, yang jika terus berlanjut, akan memicu krisis pangan skala besar akibat perubahan siklus panen yang tak menentu.
4. Risiko jangka panjang, Bumi bisa jadi planet mati?

Dalam konteks evolusi planet, para ilmuwan di Carnegie Institution for Science memperingatkan bahwa pendinginan inti Bumi yang terlalu cepat dapat membuat Bumi menjadi tidak aktif. Jika inti bumi membeku atau kehilangan panasnya, medan magnet yang melindungi kita dari angin surya dan radiasi kosmik akan menghilang. Tanpa perisai magnetik ini, atmosfer Bumi bisa terkikis habis oleh radiasi matahari, persis seperti yang terjadi pada Mars.
Kita dapat membayangkan Mars atau Merkurius sebagai cermin masa depan jika pendinginan ini mencapai titik akhir. Planet-planet tersebut menjadi dunia yang sunyi dan tidak layak huni karena mesin internalnya sudah berhenti berdetak miliaran tahun lalu. Meski proses ini memakan waktu sangat lama bagi manusia, percepatan pendinginan di satu sisi memberikan data empiris bagi para peneliti bahwa "masa pakai" layak huni Bumi mungkin lebih pendek dari prediksi sebelumnya.
5. Lantas apakah bediding di Indonesia itu ‘aman’?

Penting untuk membedakan antara pendinginan geologis dengan fenomena suhu dingin yang terjadi di Indonesia, seperti pada Juli 2025. BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) menjelaskan bahwa suhu dingin atau "bediding" disebabkan oleh pergerakan angin muson timur dari benua Australia yang kering dan dingin. Ini merupakan fenomena musiman yang dipicu oleh posisi matahari, bukan karena bocornya panas inti Bumi di Pasifik.
Kondisi ini diperparah oleh langit cerah di musim kemarau, yang mempercepat pelepasan panas dari permukaan tanah ke angkasa pada malam hari. Tanpa adanya awan yang bertindak sebagai selimut, suhu udara di permukaan akan merosot tajam dan membuat tubuhmu menggigil saat pagi hari. Jadi, meskipun suhunya terasa sangat rendah, fenomena ini adalah siklus tahunan yang normal dan bukan dampak langsung dari pendinginan struktural kerak bumi, kok.
Memahami bagaimana planet kita bekerja memang sangat menarik, terutama saat menyadari betapa pentingnya keseimbangan suhu bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup. Dengan adanya literasi mengenai dampak sisi bumi dingin lebih cepat, kita kini lebih sadar bahwa setiap perubahan di kedalaman bumi akan berdampak pada kehidupan. Semoga informasi ini membantu kita lebih menghargai setiap proses alami yang terjadi di planet biru yang unik ini.


















