Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Dikepung 5 Lempeng, Ini Wilayah Paling Rawan Gempa di Amerika Latin!

Dikepung 5 Lempeng, Ini Wilayah Paling Rawan Gempa di Amerika Latin!
ilustrasi peta Amerika Latin (unsplash.com/Leon Overweel)
Intinya Sih
  • Wilayah pesisir barat Amerika Latin dikepung lima lempeng tektonik aktif, menjadikannya salah satu kawasan paling rawan gempa di dunia dengan aktivitas subduksi dan gesekan konstan.
  • Chile dan Peru menghadapi ancaman besar dari zona megathrust Nazca serta seismic gap yang berpotensi memicu gempa dahsyat akibat akumulasi tekanan antara Lempeng Nazca dan Amerika Selatan.
  • Venezuela dan Guatemala juga rentan, masing-masing karena pergeseran mendatar Sesar San Sebastian serta interaksi tiga lempeng utama yang memicu gempa sekaligus aktivitas vulkanik intens.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Bumi yang kita pijak setiap hari sebenarnya tidak pernah benar-benar diam. Jika kita di Indonesia sudah akrab dengan status Ring of Fire yang memicu rentetan gunung berapi dan gempa bumi, belahan dunia lain ternyata menyimpan cerita yang tidak kalah mendebarkan. Di sepanjang pesisir barat benua Amerika Latin, bentang alam yang indah dan eksotis menyimpan ancaman konstan di bawah permukaannya. Di sanalah zona subduksi raksasa yaitu area di mana satu lempeng tektonik menyusup ke bawah lempeng lain terus bergerak dalam diam, mengumpulkan energi masif yang sewaktu-waktu siap dilepaskan menjadi guncangan hebat.

Namun, dari seluruh wilayah di Amerika Latin, ada satu kawasan spesifik yang nasibnya jauh lebih ekstrem. Wilayah ini sebenarnya dikepung dan menjadi titik temu dari lima lempeng tektonik aktif sekaligus memiliki kondisi geologis langka yang menjadikannya sebagai salah satu laboratorium gempa bumi paling aktif di dunia. Berikut beberapa wilayah paling rawan gempa bumi di kawasan Amerika Latin.

1. Mengenal Megathrust Nazca, zona sesar paling aktif di Chile

ilustrasi wilayah Chile (unsplash.com/Rafael Peier)
ilustrasi wilayah Chile (unsplash.com/Rafael Peier)

Chile merupakan negara di Amerika Latin yang berada di sepanjang pesisir barat daya Pasifik. Negara ini dikukuhkan sebagai salah satu kawasan paling rawan gempa, karena berdasarkan letak geografisnya yang berada tepat di atas zona subduksi aktif, tempat lempeng Samudra Nazca menunjam ke bawah Lempeng Benua Amerika Selatan. Interaksi kedua lempeng ini membentuk medan kontak raksasa yang dikenal sebagai megathrust.

Dilansir laman Britannica, karena Lempeng Nazca terus bergerak mendesak secara konstan, wilayah ini terus-menerus mengalami akumulasi tekanan mekanis yang luar biasa besar dalam waktu yang relatif cepat. Ketika batuan di zona subduksi tersebut tidak lagi mampu menahan gesekan, energi masif dilepaskan seketika dalam bentuk guncangan gempa bumi. Kerawanan ekstrem zona megathrust ini terbukti pada peristiwa Gempa Valdivia pada 22 Mei 1960.

2. Peru dan ancaman seismic gap yang menanti waktu

ilustrasi wilayah Peru (unsplash.com/McKayla Crump)
ilustrasi wilayah Peru (unsplash.com/McKayla Crump)

Wilayah pesisir Peru merupakan salah satu kawasan paling rawan gempa di dunia terutama Amerika Latin. Hal ini disebabkan oleh aktivitas tektonik yang sangat aktif yang terjadi karena Lempeng Nazca yang berada di bawah Samudra Pasifik terus bergerak dan menunjam (subduksi) ke bawah Lempeng Amerika Selatan dengan kecepatan 77 milimeter per tahun. Berdasarkan data dari United States Geological Survey (USGS), gempa bumi besar bermagnitudo 8.0 pernah mengguncang Peru Tengah pada tahun 2007.

Gempa tersebut melepaskan energi yang sangat besar dan merusak segmen-segmen patahan tetangganya. Para ahli geologi melihat bahwa pelepasan energi tersebut belum merata di sepanjang garis pantai Peru. Hal inilah yang memicu ancaman laten berupa seismic gap atau zona sunyi seismik, yaitu area patahan aktif yang sudah sangat lama tidak mengalami gempa besar dibandingkan dengan wilayah di sekitarnya.

3. Sesar San Sebastian, pemicu gempa sesar mendatar Venezuela

ilustrasi wilayah Venezuela (unsplash.com/lalo Hernandez)
ilustrasi wilayah Venezuela (unsplash.com/lalo Hernandez)

Gempa yang mengguncang di sekitar Maracay dan dekat ibu kota Caracas diguncang oleh peristiwa geologi langka berupa dua gempa besar berkekuatan magnitudo 7.3 dan 7.4 beberapa waktu lalu yakni 25 Juni 2026. Uniknya, kedua gempa dahsyat ini terjadi hampir bersamaan dengan jeda waktu hanya 39 detik. Dilansir laman dari pusat riset kebumian Jerman GFZ, para ahli geofisika menilai peristiwa ini sebenarnya merupakan proses robekan patahan yang terjadi secara terus-menerus dan saling beruntun.

Bencana ini juga dipicu oleh aktivitas di sepanjang batas lempeng tektonik aktif antara Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan yang saling bergeser secara horizontal (mendatar) dengan kecepatan sekitar 1,8 cm per tahun. Gempa pertama bermagnitudo 7.3 dimulai di ujung timur laut Sesar Bocono. Pelepasan energi yang mendadak ini langsung mengubah tekanan dan membebani segmen sesar di sekitarnya, sehingga seketika memicu robekan kedua yang lebih besar di Sesar San Sebastian yang lokasinya bergeser sekitar 160 kilometer ke arah timur lebih dekat ke Caracas.

4. Labirin Patahan Guatemala yang membakar gunung berapi

ilustrasi wilayah Guatemala (unsplash.com/Andres Ch Mendez)
ilustrasi wilayah Guatemala (unsplash.com/Andres Ch Mendez)

Guatemala memiliki keunikan geologis, karena terletak tepat di titik temu tiga lempeng tektonik utama dunia, yaitu Lempeng Amerika Utara, Lempeng Karibia, dan Lempeng Kokos, serta dilintasi oleh Sesar Motagua yang aktif. Dilansir laman Smithsonian Magazine, kedahsyatan erupsi stratovolcano yaitu Gunung Fuego, yang memiliki struktur alami akibat proses subduksi dan pergeseran konstan ketiga lempeng tersebut. Kondisi tektonik ini menempatkan wilayah Guatemala sebagai salah satu laboratorium alam paling aktif sekaligus rentan di sepanjang jalur Cincin Api Pasifik.

Ketika lempeng-lempeng di bawah Guatemala saling bergesekan atau menunjam, energi tektonik yang dilepaskan memicu gempa bumi yang merambat melalui kerak bumi. Getaran hebat dari gempa tektonik ini memicu efek domino yang mampu mengguncang, menekan, dan mengacaukan stabilitas kantung magma yang berada di bawah gunung berapi di sekitarnya, sehingga memaksa magma cair yang kental untuk naik dan meletus secara eksplosif. Meskipun para ahli geofisika menekankan bahwa setiap gunung berapi di kawasan ini tidak saling terhubung secara langsung untuk meletus secara bersamaan, interaksi lokal antara gempa tektonik dan kantung magma di dalam batas wilayah Guatemala adalah hal yang nyata dan konstan terjadi.

Kepungan lima lempeng tektonik utama di kawasan Amerika Latin, termasuk Lempeng Kokos, Karibia, Nazca, Amerika Selatan, hingga Amerika Utara, bukan sekadar catatan di atas peta geologi. Dinamika gesekan horizontal dari sistem sesar besar seperti Sesar Bocono di Venezuela, hingga zona subduksi masif yang melahirkan gempa besar menjadi bukti nyata bahwa pelepasan energi dari raksasa bawah bumi tidak akan pernah benar-benar berhenti. Meskipun ancaman bencana ini bersifat konstan dan tak terhindarkan, kemajuan teknologi seismologi serta pengetatan regulasi infrastruktur menjadi tameng utama bagi negara-negara di Amerika Latin.

 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna

Related Articles

See More