Di antara ribuan jenis rodensia yang hidup di berbagai wilayah, tikus berduri atau spiny mouse (Acomys cahirinus) hadir dengan sederet keunikan yang bikin ilmuwan berkali-kali mengangkatnya ke meja penelitian. Hewan asal Afrika dan Timur Tengah ini memiliki karakter yang jarang ditemukan pada sebagian kecil mamalia di Bumi. Mulai dari siklus reproduksi yang menyerupai manusia sampai kemampuan memperbaiki jaringan tubuh, semuanya menarik perhatian peneliti.
4 Fakta Tikus Berduri, Satu-satunya Rodensia yang Menstruasi

- Tikus berduri (Acomys cahirinus) menjadi rodensia pertama yang tercatat mengalami menstruasi, dengan peluruhan lapisan rahim dan perdarahan siklik menurut riset 2017.
- Spesies asal Afrika dan Timur Tengah ini mampu meregenerasi kulit yang hilang, termasuk folikel rambut, dengan bekas luka sangat minim setelah menghindari predator.
- Masa kehamilan tikus berduri sekitar 39 hari; anak lahir lebih matang, sementara spesies ini juga beradaptasi di gurun lewat aktivitas malam dan pola makan oportunis.
Selain itu, jenis rodensia ini juga punya keunikan lainnya, yakni mengalami menstruasi. Wah, bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Nah, untuk mengenal lebih dalam, simak empat fakta tentang tikus berduri berikut ini!
1. Rodensia pertama yang mengalami menstruasi

Tikus berduri (commons.wikimedia.org/Andrew Deacon) Selama bertahun-tahun, menstruasi diyakini hanya terjadi pada manusia, beberapa primata, kelelawar tertentu, serta gajah celurut. Namun, anggapan itu berubah setelah para peneliti menemukan siklus reproduksi unik pada tikus berduri. Temuan tersebut langsung mengundang perhatian komunitas ilmiah lantaran belum pernah ditemukan pada kelompok rodensia lain.
Penelitian yang dipublikasikan dalam American Journal of Obstetrics and Gynecology (2017) mengungkap adanya peluruhan lapisan rahim disertai perdarahan siklik, ciri khas menstruasi sejati. Hasil riset tersebut menjadikan Acomys cahirinus sebagai rodensia pertama yang tercatat mengalami proses biologis mirip manusia. Kini, para peneliti memanfaatkan tikus berduri guna mempelajari menstruasi, endometriosis, hingga proses perbaikan jaringan rahim.
2. Kulitnya bisa tumbuh kembali tanpa meninggalkan bekas luka

Tikus berduri (commons.wikimedia.org/Charles A. Drost and Jan Hart, USGS, Public domain) Selain tentang reproduksi, tikus berduri terkenal berkat kemampuan regenerasinya. Ketika kulitnya mengalami kerusakan, proses pemulihan berlangsung dengan pola yang jauh lebih efisien. Hasil akhirnya pun nyaris tidak menyisakan jejak luka.
Menurut studi Seifert dkk. (2012), tikus berduri sanggup melepaskan sebagian kulitnya saat berusaha lolos dari serangan predator. Area yang hilang kemudian tumbuh kembali lengkap dengan folikel rambut dan struktur pendukung lainnya. Sekilas terdengar mengerikan, tetapi strategi ini justru meningkatkan peluang bertahan hidup. Tak sedikit ahli yang berharap mekanisme serupa dapat menginspirasi teknologi penyembuhan luka pada manusia.
3. Masa kehamilannya lebih panjang dibanding kebanyakan tikus

Potret tikus berduri (pexels.com/Robert Schwarz) Kalau dibandingkan dengan tikus rumah, tikus berduri punya masa kehamilan yang terbilang panjang. Berdasarkan penelitian McKenna dkk. (2020), periode gestasinya berkisar 39 hari. Angka yang tergolong lama untuk ukuran rodensia kecil. Dampaknya, anak yang dilahirkan tidak sepenuhnya bergantung pada induk seperti bayi tikus pada umumnya.
Bayi tikus berduri lahir dalam kondisi yang lebih siap menghadapi lingkungan sekitar. Mata mereka cenderung cepat terbuka, bulu sudah tumbuh cukup jelas, dan kemampuan bergeraknya telah berkembang sejak awal kehidupan. Karakter ini dikenal sebagai kondisi precocial, yaitu keadaan ketika anak lahir dengan tingkat perkembangan fisik yang relatif matang.
4. Tahan hidup di lingkungan ekstrem

Tikus berduri (commons.wikimedia.org/Jean-Paul Boerekamps) Tikus berduri sering ditemukan di wilayah gurun dan daerah berbatu yang panas dan kering. Mereka terbiasa hidup dengan sumber makanan dan air yang terbatas. Demi bertahan, hewan ini aktif di malam hari agar tidak kehilangan banyak cairan tubuh.
Makanan favoritnya cukup beragam, di antaranya biji-bijian, buah-buahan, tumbuhan gurun, serta hewan kecil dan serangga. Mereka juga termasuk hewan oportunis yang bisa memanfaatkan apa saja yang tersedia di habitatnya. Kemampuan adaptasi inilah yang menyebabkan tikus berduri mampu hidup di lingkungan keras sekalipun.
Keunikan tikus berduri menunjukkan bahwa masih banyak rahasia dunia mamalia yang belum terungkap. Dari kemampuan mengalami menstruasi hingga regenerasi kulit yang luar biasa, hewan kecil ini menjadi sumber informasi berharga bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern. Tak berlebihan jika tikus berduri dianggap sebagai salah satu rodensia paling menarik yang pernah diteliti oleh ilmuwan.













![[QUIZ] Tebak Fakta Soal Luar Angkasa, Benar atau Salah](https://image.idntimes.com/post/20250709/upload_b5e6bd681df34742826fca8a2f0cfcc2_665f5fc2-b24a-4203-a7d0-bf0227e41ddb.jpg)



![[QUIZ] Pilih Karakter Upin & Ipin, Kamu Dominan Otak Kanan atau Kiri?](https://image.idntimes.com/post/20250526/img-20250524-171040-59d926335e45a3f62b89089b95e5200f.jpg)



