Green Birdflower memiliki bunga berwarna hijau kekuningan dengan guratan ungu yang tumbuh berkelompok pada satu tangkai. Bentuk bunganya cukup tidak biasa karena menyerupai burung kecil yang sedang bertengger. Tanaman dengan nama ilmiah Crotalaria cunninghamii ini merupakan semak yang berasal dari Australia.
Green Birdflower, Bunganya Mirip Sekumpulan Burung Kecil

- Green Birdflower atau Crotalaria cunninghamii adalah semak asli Australia dengan bunga hijau kekuningan bergurat ungu, tumbuh berkelompok dan menyerupai burung kecil bertengger.
- Polong matang tanaman keluarga Fabaceae ini berisi biji yang bergemerisik seperti kerincingan; nama Crotalaria berasal dari kata Yunani crotalon, berarti kerincingan.
- Spesies ini tumbuh di beragam habitat kering Australia, didatangi pengerat pencari nektar, serta getah daunnya tercatat digunakan tradisional oleh masyarakat Aborigin untuk infeksi mata.
Bukan cuma bentuk bunganya yang menarik untuk diperhatikan. Tanaman dari keluarga Fabaceae ini juga punya polong yang bisa berbunyi seperti kerincingan dan dapat ditemukan di berbagai habitat Australia. Penasaran apa saja keunikan lain dari Green Birdflower? Simak lima faktanya berikut ini!
1. Bunganya menyerupai burung kecil

crotalaria cunninghamii (inaturalist.org/Hugo Innes) Bentuk bunga menjadi ciri yang paling mudah dikenali dari Green Birdflower. Bunganya berwarna hijau kekuningan dengan guratan lebih gelap dan tumbuh berkelompok pada tangkai yang panjang. Jika dilihat dari samping, setiap bunga tampak seperti burung kecil yang sedang bertengger di tangkai.
Melansir NSW Government, bunga Green Birdflower memiliki bentuk khas yang menyerupai burung yang menempel pada tangkai melalui bagian mirip paruh. Struktur bunganya termasuk tipe bunga kacang-kacangan dan memiliki ukuran yang cukup besar. Bentuk inilah yang membuat Green Birdflower memiliki penampilan yang begitu khas dibandingkan dengan banyak tanaman lainnya.
2. Polongnya bisa menghasilkan bunyi seperti kerincingan

crotalaria cunninghamii (inaturalist.org/Hugo Innes) Bukan cuma bunganya yang menarik, polong Green Birdflower juga punya keunikan tersendiri. Setelah berbunga, tanaman ini menghasilkan polong yang berisi biji dan akan mengeluarkan bunyi ketika sudah matang dan digerakkan. Biji di dalamnya bergemerisik sehingga suaranya terdengar seperti kerincingan kecil.
Melansir Australian Native Plants Society Australia (ANPSA), nama genus Crotalaria berasal dari kata Yunani crotalon yang berarti kerincingan, merujuk pada bunyi biji di dalam polong. Sementara itu, nama spesies cunninghamii diambil untuk menghormati Allan Cunningham, botanis abad ke-19 yang melakukan eksplorasi tumbuhan di Australia. Jadi, nama ilmiah tanaman ini ternyata juga berkaitan dengan karakter polong sekaligus sosok yang berjasa dalam penjelajahan botani Australia.
3. Tumbuh di berbagai habitat Australia yang kering

crotalaria cunninghamii (inaturalist.org/dhfischer) Green Birdflower merupakan tanaman asli Australia yang tersebar di beberapa wilayah. NSW Government mencatat spesies ini ditemukan di Queensland, Northern Territory, South Australia, dan Western Australia. Sementara di New South Wales, keberadaannya tercatat secara terbatas di distrik Milparinka dan Hungerford.
Habitatnya juga cukup beragam, mulai dari komunitas mulga dan bukit pasir yang tidak stabil hingga bukit berbatu dan celah batu. Green Birdflower juga dapat tumbuh di bukit pasir yang telah stabil, tepian sungai, dasar sungai berpasir yang kering, hingga hutan riparian. Waktu berbunganya dapat berbeda-beda dan kemungkinan berkaitan dengan curah hujan, sementara di wilayah barat New South Wales, pembungaan umumnya berlangsung dari musim dingin hingga musim semi.
4. Bunganya pernah didatangi tikus pencari nektar

crotalaria cunninghamii (inaturalist.org/Donna Belder) Bunga Green Birdflower ternyata juga didatangi oleh pengerat untuk mendapatkan nektar. Dalam penelitian yang diterbitkan di Austral Ecology, peneliti mengamati dua jenis pengerat, yaitu Mus musculus dan Pseudomys hermannsburgensis, yang mengunjungi bunga Crotalaria cunninghamii di Gurun Simpson, Australia. Kedua spesies tersebut mengambil nektar dengan membuat lubang pada bagian kelopak bunga.
Pengamatan itu dilakukan setelah hujan lebat pada 2011 membuat sumber makanan di lingkungan gurun menjadi lebih melimpah. Peneliti menemukan hingga 75 persen bunga yang diamati menunjukkan tanda kerusakan akibat aktivitas mamalia kecil. Meski begitu, hasil penelitian menunjukkan bahwa kerusakan tersebut tidak berkaitan dengan berkurangnya pembentukan biji pada tanaman.
5. Pernah dimanfaatkan secara tradisional untuk mengatasi infeksi mata

crotalaria cunninghamii (inaturalist.org/Kym Nicolson) Green Birdflower juga punya catatan pemanfaatan secara tradisional oleh masyarakat Aborigin Australia. Melansir Australian Native Plants Society Australia (ANPSA), getah dari daun Crotalaria cunninghamii digunakan secara tradisional untuk mengatasi infeksi mata. Catatan tersebut menjadi bagian dari pengetahuan masyarakat di wilayah asal tanaman ini.
Meski begitu, penggunaan secara tradisional tidak serta-merta berarti tanaman tersebut terbukti secara medis dapat mengobati infeksi mata. Informasi ini lebih tepat dipahami sebagai catatan mengenai pemanfaatan tanaman dalam pengetahuan tradisional, bukan sebagai anjuran pengobatan. Dengan demikian, fakta tentang Green Birdflower tetap bisa diketahui tanpa menyamakan penggunaan tradisional dengan khasiat yang telah terbukti secara klinis.
Bentuk bunga yang menyerupai burung kecil memang menjadi daya tarik utama Green Birdflower. Namun, dari polong yang bisa berbunyi seperti kerincingan, habitatnya yang beragam, hingga interaksinya dengan hewan dan pemanfaatan secara tradisional, tanaman ini punya lebih banyak hal untuk dikenali daripada sekadar bentuk bunganya.



















