Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Hewan Endemik Wilayah Patagonia, Didominasi Mamalia Lucu!
Seekor vikunya berdiri dekat Gunung Chimborazo. (commons.wikimedia.org/Dabit100 /David Torres Costales Riobamba)
  • Patagonia menjadi habitat berbagai hewan endemik, seperti singa gunung patagonia, guanako, kondor andes, vikunya, dan pudu selatan.

  • Keanekaragaman hayati Patagonia didukung oleh bentang alamnya yang unik, mulai dari pegunungan hingga stepa dan gurun.

  • Banyak satwa di Patagonia memiliki adaptasi khusus, tetapi sebagian menghadapi ancaman.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Apakah kamu pernah mendengar wilayah bernama Patagonia? Tempat tersebut bukan sebuah negara, melainkan bentang wilayah khusus yang ada di salah satu benua di Bumi. Dilansir Britannica, Patagonia adalah wilayah yang sebagian besar berada di bagian selatan Argentina dan Chili. Luasnya mencapai 673 ribu km persegi dan terdiri atas bioma stepa dan gurun pasir.

Batas wilayah Patagonia antara lain Pegunungan Andes di sebelah barat, Sungai Colorado di sebelah utara, Samudra Atlantik di sebelah timur, dan Selat Magellan di sebelah selatan. Artinya, Patagonia terletak tepat di ujung selatan Amerika Selatan dengan bentang alam yang terbilang unik akibat pertemuan gunung, lembah, sungai, gurun, sampai samudra yang mengimpitnya.

Alhasil, kita dapat menemukan berbagai spesies hewan endemik di Patagonia. Mereka terdiri dari berbagai macam jenis, ukuran, sampai sederet hal unik yang mungkin tidak bisa kita jumpai pada hewan di wilayah lain. Makin penasaran dengan hewan-hewan endemik Patagonia, kan? Yuk, langsung simak pembahasan lengkapnya di bawah ini!

1. Singa gunung patagonia

puma patagonia yang merupakan subspesies kucing liar di wilayah tersebut (commons.wikimedia.org/Wolves201)

Singa gunung (Puma concolor) memang terkenal sebagai salah satu predator puncak di Amerika Selatan. Meski tak sampai dijuluki “kucing besar”, ukuran seekor singa gunung tetap tidak bisa dianggap remeh. Nah, di wilayah Patagonia, ada satu subspesies singa gunung bernama singa gunung patagonia (Puma concolor puma) dengan karakteristik tersendiri dibanding subspesies lain.

Dengan ukuran panjang antara 1,8—2,8 meter dan bobot 68—100 kg, singa gunung patagonia jadi predator terbesar yang bisa kita temukan di wilayah tersebut. Dilansir laman Swoop Patagonia, populasi kucing liar di Patagonia ini terpusat di daerah bernama Torres del Paine. Alasan mengapa populasi singa gunung patagonia sangat besar di sana karena ketersediaan guanako, mangsa potensial mereka, begitu melimpah.

Uniknya, singa gunung patagonia yang ditemukan di Torres del Paine punya kebiasaan berburu dalam kelompok dua atau lebih individu dan banyak bergerak sekalipun pada siang hari. Hal ini terbilang tidak wajar karena singa gunung secara umum tergolong sebagai hewan soliter dan nokturnal. Biasanya, para betina lebih banyak melakukan praktik berburu berkelompok sebab para pejantan masih sangat teritorial dan tidak menoleransi kehadiran individu lain di sekitar.

2. Guanako

potret guanako dewasa yang tampak sangat lucu (commons.wikimedia.org/Charles J Sharp)

Kalau ditanya apa kelompok mamalia herbivor yang paling ikonik dari Amerika Selatan, nama keluarga lama (famili Camelidae) pasti jadi salah satu yang terpikirkan oleh kita. Secara umum, lama dibagi atas empat spesies berbeda. Adapun, 2 sudah didomestikasi, sementara 2 lainnya masih tergolong lama liar. Nah, guanako (Lama guanicoe) tergolong sebagai spesies lama liar dan diduga kuat sebagai leluhur dari spesies lama lain yang sudah didomestikasi oleh manusia.

Laman Swoop Patagonia melansir kalau guanako hidup secara berkelompok, sangat energetik, dan saling peduli pada masing-masing anggota kelompok, terutama anak-anak. Mereka juga sangat suka bermain dengan sesama yang dibuktikan dengan aksi saling kejar-kejaran ketika kelompok sedang merumput bersama. Seperti yang sudah disebutkan pada poin sebelumnya, populasi spesies lama lucu ini banyak ditemukan di Torres del Paine.

Namun, guanako juga tersebar cukup merata di sekitar Patagonia, khususnya kawasan Pegunungan Andes. Mereka tinggal mulai dari ketinggian 0—4.500 mdpl yang menunjukkan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan yang sangat baik. Oh, ya, herbivor ini punya panjang tubuh 1,8—2,2 meter, tinggi 90—130 cm, dan bobot 90—140 kg.

3. Kondor andes

Kondor andes, spesies burung terbang terbesar di Bumi, ternyata hidup di Patagonia. (commons.wikimedia.org/Thomas Fuhrmann)

Patagonia ternyata jadi rumah bagi kondor andes (Vultur gryphus), spesies burung terbang terbesar di Bumi. Seekor kondor andes diketahui mampu tumbuh sepanjang 1—1,3 meter, bobot 7,5—15 kg, dan rentang sayap 2,7—3,3 meter! Selain itu, mereka terbilang spesies burung dengan umur panjang karena mampu mencapai usia maksimal sampai 50 tahun. Malahan, individu yang dipelihara di Kebun Binatang Beardsley, Connecticut, Amerika Serikat, bertahan sampai usia 79 tahun!

Dilansir laman Eco Camp, populasi burung raksasa ini di Patagonia paling banyak ditemukan di Laguna Amarga dan Torres del Paine. Tentunya, selayaknya spesies kondor, mereka termasuk burung pemakan bangkai. Untuk mencari makanan, kondor andes mengandalkan indra penglihatan sambil terbang di angkasa. Mereka mampu terbang sampai ketinggian 5.500 meter di atas permukaan laut berkat bantuan angin yang menyapu sayap raksasa mereka dalam waktu yang panjang.

Sayangnya, status konservasi burung raksasa ini terbilang sedang mengkhawatirkan. Catatan IUCN Red List menunjukkan adanya penurunan populasi secara signifikan akibat kombinasi dari angka kelahiran yang sangat rendah dan gangguan dari kehadiran manusia maupun spesies introduksi di habitat alami. Karena itu, status kondor andes saat ini masuk dalam kategori rentan punah (Vulnerable) dengan populasi kurang dari 10 ribu individu.

4. Vikunya

kawanan vikunya yang sedang merumput (commons.wikimedia.org/Luca Galuzzi)

Kembali ke spesies lama yang lucu nan menggemaskan, Patagonia turut jadi rumah bagi vikunya (Lama vicugna). Vikunya punya penampilan mirip seperti guanako, tetapi berukuran lebih kecil karena mereka merupakan spesies lama terkecil di dunia. Panjang tubuh mamalia lucu ini sekitar 1,4—1,7 meter, tinggi 86—96 cm, dan bobot 35—65 kg.

Hebatnya, kalau sedang merasa terancam, vikunya mampu berlari sampai kecepatan 46 km per jam! Kalau menurutmu itu kurang cepat, tunggu dulu! Soalnya, vikunya mampu mencapainya dalam kondisi menanjak di ketinggian, medan yang tidak rata, hingga kawasan berbatu yang sangat menyulitkan untuk bergerak. Hal tersebut memungkinkan karena jantung mamalia ini mampu memompa darah hingga dua kali lipat dibanding dengan mamalia lain dengan ukuran serupa.

Serupa dengan kerabat lain, vikunya hidup dalam kelompok yang dijaga oleh jantan dominan. Adapun, anggota kelompok bergerak bersama agar dapat memperoleh makanan dan minuman secara merata serta jadi taktik perlindungan ekstra dari predator. Ketika ada satu individu merasa terancam, ia akan mengeluarkan suara siulan keras yang langsung direspons oleh anggota kelompok lain sebelum akhirnya mereka lari menjauh.

5. Pudu selatan

ikatan keluarga pudu selatan yang sangat harmonis (commons.wikimedia.org/Evan Hargus)

Terakhir, ada spesies rusa terkecil di dunia yang ternyata bisa ditemukan di Patagonia bernama pudu selatan (Pudu puda). Bayangkan saja, individu dewasa hanya tumbuh sepanjang 70—83 cm dengan bobot 7,5—15 kg. Secara umum, penampilan jantan dan betina terbilang mirip, tetapi jantan memiliki sepasang tanduk yang tumbuh sepanjang 5—9 cm saja.

Dilansir laman Swoop Patagonia, pudu selatan termasuk hewan monogami yang membentuk keluarga kecil. Ketika merasa terancam, rambut-rambut di tubuh mamalia imut ini akan terangkat, tubuh bergetar hebat, dan mata dipenuhi oleh cairan seperti air mata. Bagi pudu selatan, ancaman bisa datang dari mana saja. Beberapa predator alami mereka antara lain puma, kodkod, dan rubah darwin. Selain itu, manusia juga terbilang sering memburu mereka demi daging dan kulit.

Wilayah Chili dan Argentina yang menempel dengan Pegunungan Andes bagian selatan jadi persebaran utama pudu selatan. Mereka suka di wilayah hutan hujan dengan ketinggian dari 0 sampai 1.700 meter di atas permukaan laut. Di habitat alami, pudu selatan dikenal sebagai pelari zig-zag, pemanjat pohon, sampai pelompat yang sangat mahir sehingga bagi para predator alami sebenarnya cukup kesulitan untuk menangkap satu individu.

Beberapa hewan endemik yang hidup di wilayah Patagonia tadi begitu menarik, ya? Peran Pegunungan Andes sebagai pembatas alami membuat berbagai jenis habitat muncul di wilayah Patagonia. Karena itu, ada keanekaragaman hayati yang tak habis-habis untuk kita bahas. Nah, kalau dari pembahasan hewan endemik tadi, kira-kira mana yang membuatmu tertarik, nih?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article