Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Fakta Yakusugi, Pohon Purba yang Jadi Inspirasi Studio Ghibli

5 Fakta Yakusugi, Pohon Purba yang Jadi Inspirasi Studio Ghibli
ilustrasi pohon yakusugi di Jepang (commons.wikimedia.org/Higa4)
Intinya Sih
  • Yakusugi adalah pohon cedar purba di Pulau Yakushima yang berusia lebih dari 1.000 tahun, tumbuh lambat di tanah miskin hara dengan resin tinggi yang membuatnya tahan lama.

  • Jomon Sugi, salah satu yakusugi tertua berusia hingga 7.000 tahun, menjadi simbol konservasi alam Jepang dan mendorong penetapan Yakushima sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 1993.

  • Hutan berkabut Yakushima menginspirasi visual film Princess Mononoke karya Studio Ghibli, kini dilindungi ketat dan hanya bisa dijelajahi lewat trekking menantang dengan aturan konservasi ketat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Di jantung Pulau Yakushima, Jepang, terdapat sebuah keajaiban botani yang seolah keluar langsung dari dunia fantasi, yaitu pohon yakusugi. Pohon ini bukanlah sekadar pohon cedar biasa (Cryptomeria japonica), melainkan sebutan khusus bagi pohon-pohon purba legendaris yang telah berhasil bertahan hidup selama lebih dari 1.000 tahun di tengah hutan hujan subtropis yang senantiasa berkabut. Tumbuh di lingkungan ekstrem dengan kondisi tanah miskin hara, pohon raksasa ini memiliki tingkat pertumbuhan yang sangat lambat, justru membuat serat kayu menjadi super padat dan kaya akan resin alami.

Nuansa magis dan spiritualitas yang menyelimuti hutan tempat yakusugi bernaung begitu kuat, bahkan menjadi inspirasi utama di balik visualisasi hutan mistis dalam film anime legendaris Studio Ghibli, Princess Mononoke. Yakusugi menjadi salah satu pohon tua di Jepang dan diperkirakan telah berusia antara 2.170-7.200 tahun. Yuk, simak lima fakta pohon yakusugi dari Negeri Sakura berikut ini!

1. Bukan sembarang cedar, hanya yang berusia di atas 1.000 tahun

ilustrasi pohon yakusugi
ilustrasi pohon yakusugi (commons.wikimedia.org/Higa4)

Tidak semua pohon yakusugi atau cedar Jepang yang tumbuh di lereng Pulau Yakushima berhak menyandang gelar terhormat sebagai yakusugi. Di pulau yang sarat akan keunikan geologis ini, sebutan “yakusugi” secara khusus diberikan untuk pohon-pohon kuno bertuah yang telah tangguh melewati waktu selama lebih dari 1.000 tahun. Sementara itu, pohon cedar yang berusia di bawah satu milenium (1000 tahun) hanya dianggap sebagai generasi muda yang belum mencapai tingkat kematangan dan ketahanan spiritualitas hutan yang sama dengan para leluhurnya.

Rahasia di balik umur panjang tersebut justru lahir dari kondisi pulau yang ekstrem dan keras. Tumbuh di atas tanah granit yang minim nutrisi serta terus-menerus diguyur curah hujan yang sangat tinggi. Hal ini memaksa pohon tumbuh dengan sangat lambat, sehingga muncul resin alami yang menjadi pelindung utama yakusugi dari pembusukan dan penyakit.

2. Punya kadar resin tinggi yang bikin mereka abadi

ilustrasi pohon yakusugi
ilustrasi pohon yakusugi (commons.wikimedia.org/Higa4)

Berbeda dengan pohon cedar biasa, yakusugi memiliki keunikan berupa aroma yang lebih kuat, tekstur yang khas, serta serat kayu yang sangat rapat karena proses pertumbuhannya yang sangat lambat. Selain itu, pohon ini memiliki kandungan resin yang sangat tinggi. Dilansir laman MTRL Kyoto, resin ini membuat pohon begitu awet terhadap pembusukan dan berumur panjang. Karena ketahanan kayunya yang begitu luar biasa, kayu dari pohon ini sejak lama dimanfaatkan sebagai material utama dalam pembuatan bangunan dan kapal laut.

Namun, demi menjaga kelestariannya, aktivitas penebangan yakusugi kini sudah dilarang total oleh pemerintah. Bahkan, sisa-sisa kayu tebangan masa lalu yang tertinggal sudah resmi ditarik dari pasar lelang sejak tahun 2015.

3. Jomon Sugi, sang kakek buyut yang berusia hingga 7.000 tahun

potret jomon sugi
potret jomon sugi (commons.wikimedia.org/Σ64)

Jomon Sugi merupakan salah satu jenis pohon yakusugi tertua dan diperkirakan berusia antara 2.000-7.000 tahun. Keberadaannya yang sangat kokoh dan berumur panjang, menjadikannya salah satu simbol keajaiban alam terbesar, tidak hanya di Jepang tetapi juga di dunia. Dilansir laman Nippon.com, pada era 1960-an kelestarian hutan di Pulau Yakushima sempat terancam akibat tingginya aktivitas penebangan kayu komersial. Namun, penemuan kembali Jomon Sugi pada 28 Mei 1966 mengubah segalanya. Pesona dan nilai sejarah dari pohon raksasa ini berhasil menarik perhatian publik luas hingga memicu gerakan konservasi yang kuat, hingga pada akhirnya menghentikan eksploitasi hutan dan menjadikan Pulau Yakushima sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO pertama di Jepang pada tahun 1993.

4. Menjadi inspirasi utama mahakarya Studio Ghibli

ilustrasi Studio Ghibli
ilustrasi Studio Ghibli (commons.wikimedia.org/Luis Alvaz)

Inspirasi visual dari Studio Ghibli dalam film Princess Mononoke berasal dari Yakushima. Dilansir laman SoraNews24, curah hujan yang tinggi di Yakhusima menciptakan lingkungan yang basah dan berkabut membuat lapisan lumut hijau tebal tumbuh subur menyelimuti setiap jengkal batuan dan batang pohon purba. Kehadiran kabut mistis berpadu dengan cahaya matahari yang menembus celah-celah pohon yakusugi menciptakan atmosfer sunyi dan sakral, yang kemudian ditiru secara sempurna oleh Hayao Miyazaki untuk menghidupkan lanskap suci tempat tinggal para dewa dalam film.

5. Dilindungi UNESCO dan butuh trekking ekstrem untuk melihatnya

potret Yakushima Island
potret Yakushima Island (commons.wikimedia.org/Grendelkhan)

Pulau Yakushima memiliki keunikan ekologis yang luar biasa, di mana sekitar 20% wilayahnya diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO dan 42% areanya masuk dalam cagar taman nasional. Pulau ini menjadi sangat istimewa karena merupakan satu-satunya wilayah yang memiliki hutan purba murni dengan pohon-pohon cedar yang berusia lebih dari seribu tahun. Meskipun keindahan hutan purba ini menarik untuk dikunjungi, jalur trekking menuju pohon tertua yaitu Jomon Sugi menuntut persiapan fisik yang matang karena medan dan tingkat kesulitannya yang bervariasi. Pusat konservasi menekankan bahwa area Pegunungan Yakushima memiliki tantangan lingkungan tersendiri akibat ramainya kunjungan. Oleh karena itu, setiap pengunjung wajib memahami kode etik dan membawa peralatan yang memadai.

Sebagai salah satu mahakarya alam yang masih tersisa, keberadaan yakusugi bukan sekadar simbol keindahan visual, melainkan sebuah laboratorium evolusi yang berjalan lambat di tengah Samudra Pasifik. Ketangguhan pohon cedar ini dalam bertahan hidup selama ribuan tahun, membuktikan betapa luar biasanya mekanisme adaptasi flora terhadap kondisi iklim yang ekstrem dan curah hujan yang tinggi. Melalui sudut pandang sains, setiap lingkaran tahun yang tertanam di dalam batang raksasanya adalah rekaman sejarah geologis bumi yang tak ternilai, menjadikannya sebuah monumen hidup yang harus terus dijaga dari ancaman kerusakan lingkungan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa

Related Articles

See More