Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Hewan Ternak yang Paling Tahan Cuaca Panas Ekstrem
Potret kawanan domba Dorper (pixabay.com/Dollatjie)
  • Cuaca panas ekstrem membuat banyak peternak rugi, sehingga dibutuhkan strategi memilih hewan ternak yang tahan suhu tinggi agar usaha tetap berjalan stabil.
  • Lima hewan ternak paling tahan panas adalah Kambing Boer, Sapi Brahman, Ayam KUB, Domba Dorper, dan Bebek Muscovy dengan keunggulan adaptasi serta efisiensi pakan.
  • Pengelolaan kandang, ketersediaan air, dan kualitas pakan menjadi faktor penting untuk menjaga produktivitas ternak di tengah perubahan iklim yang makin ekstrem.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Cuaca panas ekstrem bukan lagi ancaman yang jauh di depan, melainkan sudah terasa sekarang. Banyak peternak mulai menghadapi kerugian karena ternaknya stres, nafsu makan menurun, bahkan berujung kematian. Situasi ini jelas tidak boleh dianggap sepele. Perlu langkah cerdas agar usaha tetap berjalan.

Kabar baiknya, ada beberapa jenis hewan ternak yang memang terbiasa hidup di wilayah bersuhu tinggi. Daya tahannya telah teruji di kondisi yang keras. Lalu, apa saja pilihannya? Berikut lima rekomendasi terbaik untuk peternak di iklim tropis!

1. Kambing Boer

Potret kambing Boer (pexels.com/Michał Robak)

Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan, wilayah dengan karakter iklim kering dan panas sepanjang tahun. Lingkungan asal tersebut membentuk daya tahan tubuh yang kuat terhadap suhu tinggi. Meski cuaca sedang terik, aktivitas kambing ini cenderung konsisten dan nafsu makannya stabil.

Keunggulan lain terlihat pada kecepatan pertambahan bobot tubuh dengan kualitas daging yang baik. Tak heran, banyak peternak meliriknya untuk usaha penggemukan. Perawatannya tidak ribet dan lebih fleksibel di berbagai kondisi lahan.

2. Sapi Brahman

Sapi Brahman (pixabay.com/Shayaden)

Sapi Brahman memiliki ciri fisik yang mendukung adaptasi di lingkungan panas. Kulit longgar dan lipatan tubuh membantu pelepasan panas secara alami. Punuk di bagian punggung berfungsi sebagai cadangan energi sekaligus penyeimbang metabolisme. Struktur ini bikin sapi nyaman walau suhu lingkungan tinggi.

Ketahanannya akan serangga dan parasit memberi nilai tambah tersendiri. Di lapangan, sapi ini cukup efisien dalam mengolah pakan berkualitas rendah. Artinya, biaya pakan bisa dikurangi tanpa mengorbankan pertumbuhan.

3. Ayam KUB (Kampung Unggul Balitbangtan)

Ayam kampung (pixabay.com/reijotelaranta)

Ayam KUB hadir sebagai hasil inovasi dari Balitbangtan untuk menjawab kebutuhan peternak modern. Karakter dasarnya masih membawa sifat ayam kampung yang adaptif terhadap lingkungan tropis. Di tengah suhu tinggi, ayam ini tetap aktif dan tidak gampang mengalami stres.

Dari sisi produksi, ayam KUB unggul dalam jumlah telur yang dihasilkan. Konsumsi pakan lebih efisien bila dibandingkan dengan ayam lokal biasa. Ketahanan tubuhnya pun lumayan bagus, sehingga risiko penyakit mampu ditekan.

4. Domba Dorper

Domba Dorper (pixabay.com/Deborah031368)

Domba Dorper berasal dari Afrika Selatan, sama seperti kambing Boer. Hewan ini populer berkat kemampuannya bertahan di kondisi panas maupun minim air. Bulu mereka pendek dan tipis, makanya panas tidak terperangkap di permukaan tubuh.

Dalam praktik pemeliharaan, domba ini tidak menuntut banyak perawatan khusus. Mereka juga dikenal sebagai hewan yang tidak rewel soal pakan. Ini jadi keuntungan besar bagi peternak di daerah kering.

5. Bebek Muscovy

Bebek Muscovy (pixabay.com/Elsemargriet)

Bebek Muscovy termasuk unggas yang tangguh menghadapi suhu tinggi. Asalnya dari Amerika Tengah dan Selatan, kawasan dengan iklim hangat. Di tengah cuaca terik, aktivitasnya berjalan normal serta tidak mudah mengalami tekanan. Kebutuhan airnya juga tidak sebanyak jenis bebek lain.

Dari sisi usaha, bebek ini menarik untuk dibudidayakan. Pertumbuhannya tergolong cepat dengan daging yang relatif rendah lemak. Suaranya tidak bising, jadi lebih nyaman dipelihara di area pemukiman.

Memilih ternak yang kuat menghadapi panas bukan lagi sekadar pilihan tambahan. Kondisi iklim yang terus berubah menuntut strategi yang lebih matang. Dengan jenis yang pas, risiko penurunan produksi dapat diminimalkan. Pengelolaan jadi faktor utama yang tidak boleh diabaikan. Ketersediaan air, sirkulasi udara kandang, dan kualitas pakan harus diperhatikan dengan baik.

Sumber Referensi :

Ekalinda, O., & Zurriyati, Y. (2019). Budidaya Ayam KUB (Ayam Kampung Unggul Balitbangtan). Kementerian Pertanian, Badan Penelitian dan pengembangan Pertanian, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Riau.

Milne, C. (2000). The history of the Dorper sheep. Small Ruminant Research, 36(2), 99-102.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team